Sorotan soal siapa yang lebih tajir antara Ahmad Dhani dan Irwan Mussry sebenarnya tidak bisa dijawab hanya dari nama besar mereka. Keduanya sama-sama punya jejak finansial yang kuat, tetapi jalur penghasilannya berbeda jauh dan hanya satu yang memiliki angka harta resmi yang terbuka.
Di satu sisi, Ahmad Dhani memiliki laporan kekayaan yang tercatat jelas. Di sisi lain, Irwan Mussry bergerak di bisnis barang mewah berskala besar dengan portofolio usaha yang terlihat sangat luas, meski total hartanya tidak diumumkan secara terbuka.
Kekayaan Ahmad Dhani tercatat resmi
Nama Ahmad Dhani masuk dalam data e-LHKPN per 10 September 2024 dengan total kekayaan bersih Rp 190.883.735.878. Dari angka itu, porsi terbesar berasal dari aset tanah dan bangunan senilai Rp 187.000.000.000.
Selain itu, Dhani juga tercatat memiliki alat transportasi dan mesin senilai Rp 2.900.000.000 serta kas dan setara kas Rp 3.474.989.859. Setelah dikurangi utang Rp 2.491.253.981, jumlah akhirnya tetap menempatkan kekayaannya pada level yang sangat besar.
Sumber pemasukan Dhani datang dari dunia hiburan dan bisnis kreatif. Ia memiliki Republik Cinta Management atau RCM, label musik yang menaungi artis dan memproduksi karya Dewa 19.
Panggung musik juga tetap menjadi mesin pendapatan penting baginya. Dalam laporan yang beredar, Dhani disebut bisa meraup hingga Rp 450 juta saat tampil bersama Dewa 19.
Di luar musik, Dhani mengembangkan usaha kuliner lewat Wisma Dewa19 Restography dan Restoe Boemi Dewa19. Konsep bisnis itu dibuat dekat dengan identitas Dewa 19 sehingga citra musik dan usaha saling menempel.
Ia juga pernah menjadi brand ambassador Masterpiece Family KTV yang memiliki banyak cabang di kota besar. Selain itu, ada pemasukan dari royalti lagu dan honor sebagai juri acara televisi.
Irwan Mussry bertumpu pada bisnis barang mewah
Berbeda dari Dhani, kekuatan finansial Irwan Mussry lebih banyak terlihat dari skala usaha yang ia kelola. Bisnis utamanya berada di bawah PT Time International Tbk, perusahaan rintisan keluarga sejak 1960-an yang berkembang dari perakitan dan servis jam tangan premium.
Perjalanan bisnis itu mulai menanjak saat kerja sama dengan Gucci terjalin pada 1984. Kemudian kemitraan dengan TAG Heuer menyusul pada 1989, sebelum jaringan usahanya terus melebar.
Pada 1994, jaringan Time International sudah memiliki empat gerai utama di Jakarta dan Surabaya. Kini perusahaan tersebut menaungi lima divisi besar yang menangani merek-merek kelas dunia.
Deretan merek yang berada di bawah naungan bisnis ini mencakup Rolex, Cartier, Tudor, Piaget, Berluti, Celine, Valentino, hingga Fendi. Perusahaan itu juga masuk ke sektor kecantikan melalui Laneige dan Innisfree.
Forbes pada 2018 menyebut Irwan sebagai “Master of Luxury Goods”. Di luar ritel, ia turut terlibat sebagai investor dan produser film, termasuk Foxtrot Six dan Susi Susanti: Love All.
Irwan juga merambah sektor kuliner lewat Sweet Monster Popcorn. Dalam laporan yang beredar, pendapatan perusahaannya diperkirakan mencapai US$ 77 juta atau sekitar Rp 1,25 triliun per tahun.
Aset dan skala usaha jadi pembeda utama
Irwan Mussry juga disebut memiliki jet pribadi Gulfstream G650 senilai sekitar US$ 70 juta atau Rp1,14 triliun. Aset bernilai tinggi seperti ini memperkuat gambaran bahwa bisnis yang ia jalankan berada di kelas premium.
Meski demikian, total kekayaan Irwan tidak dipublikasikan secara resmi seperti milik Ahmad Dhani. Karena itu, perbandingan keduanya lebih tepat dilihat dari sisi data yang terbuka, nilai aset, dan besarnya imperium usaha yang mereka bangun.
Jika memakai angka yang tercatat resmi, Ahmad Dhani lebih unggul karena hartanya sudah tertera jelas dalam laporan publik. Namun dari sisi skala bisnis, Irwan Mussry tampak lebih dominan lewat jangkauan merek mewah, diversifikasi usaha, dan aset yang melekat pada bisnisnya.
Source: www.beritasatu.com