Bila dilihat dari kejauhan, Bumi tampak seperti planet biru karena air menutupi sebagian besar permukaannya. Sekitar 71 persen permukaan Bumi memang dikuasai air, sementara daratan hanya mencakup sekitar 29 persen.
Komposisi itu membuat laut, samudra, dan danau menempati wilayah yang jauh lebih luas dibandingkan daratan. Totalnya mencapai sekitar 361 juta kilometer persegi, sedangkan daratan hanya sekitar 149 juta kilometer persegi.
Kerak Bumi menjadi penentu utama
Dominasi air tidak muncul begitu saja karena bentuk permukaan Bumi sangat dipengaruhi oleh keraknya. Daratan berada di atas kerak benua yang tersusun dari batuan granit, lebih ringan, dan lebih tebal, dengan ketebalan sekitar 30–50 kilometer.
Sebaliknya, dasar samudra dibangun oleh batuan basalt yang lebih padat dan lebih tipis, yakni sekitar 5–10 kilometer. Karena lebih berat, bagian ini berada lebih rendah dan membentuk cekungan besar yang mudah terisi air.
Kondisi tersebut membuat air terkumpul seperti mengisi mangkuk raksasa di permukaan planet. Gravitasi juga mendorong air bergerak ke wilayah yang lebih rendah, sehingga laut dan samudra bertahan dalam luas yang sangat besar.
Mengapa air jauh lebih dominan daripada daratan
Dominasi air terlihat bukan hanya dari luas permukaan, tetapi juga dari volume yang terlibat. Volume air di Bumi mencapai sekitar 1,335 miliar kilometer kubik, sementara volume kerak daratan sekitar 1,067 miliar kilometer kubik.
Perbedaan ini sejalan dengan bentuk permukaan Bumi yang tidak rata. Rata-rata kedalaman laut mencapai sekitar 3,7 kilometer, sedangkan rata-rata ketinggian daratan hanya sekitar 0,84 kilometer di atas permukaan laut.
Landas kontinen juga ikut memperluas peran lautan karena wilayah dangkal ini menambah luas area yang dikuasai air. Hasil akhirnya, laut bukan hanya lebih dominan secara tampilan, tetapi juga memiliki ruang yang lebih besar dalam struktur permukaan planet.
Tidak semua air langsung bisa dimanfaatkan
Dari seluruh air di Bumi, sekitar 97 persen adalah air laut yang asin. Hanya sekitar 3 persen yang berupa air tawar, dan jumlah kecil itu pun tidak seluruhnya mudah digunakan.
Sekitar 68 persen air tawar tersimpan dalam es dan gletser. Lalu, sekitar 30 persen berada di bawah tanah, sedangkan sisanya tersebar sangat kecil di sungai, danau, serta udara.
Pembagian ini memperlihatkan bahwa Bumi memang kaya air, tetapi akses terhadap air tawar tidak semudah yang terlihat. Sebagian besar cadangannya justru terkunci dalam bentuk yang sulit dijangkau langsung.
Jejak geologi menjaga keseimbangan air dan daratan
Kondisi Bumi saat ini lahir dari proses geologi yang sangat panjang. Planet ini diperkirakan terbentuk sekitar 4 miliar tahun lalu, lalu air hadir melalui tabrakan komet dan asteroid yang membawa es serta dari aktivitas vulkanik yang melepaskan uap air ke atmosfer.
Ketika kerak Bumi mendingin, laut mulai terbentuk. Setelah itu, tektonik lempeng terus bekerja lewat subduksi dan letusan gunung berapi yang mendaur ulang kerak planet ini.
Air juga dapat masuk ke mantel melalui zona subduksi, lalu kembali muncul lewat aktivitas vulkanik. Proses yang berlangsung sangat lama ini ikut menjaga keseimbangan antara daratan dan lautan dalam skala waktu geologi.
Sebaran laut dan daratan juga tidak merata
Dominasi air tidak sama di seluruh permukaan Bumi. Belahan Bumi utara memiliki lebih banyak daratan, sekitar 40 persen, sedangkan belahan selatan hanya sekitar 20 persen daratan.
Ketidakseimbangan itu membuat satu belahan tampak lebih kaya laut, sementara belahan lain memiliki daratan yang lebih luas. Namun, secara global air tetap jauh lebih dominan dan membentuk wajah planet yang terlihat biru dari luar angkasa.
Pola ini menunjukkan bahwa susunan permukaan Bumi ditentukan oleh campuran gravitasi, komposisi kerak, dan perubahan geologi yang berlangsung lama. Semua faktor itu bekerja bersama hingga air akhirnya mengisi cekungan besar yang ada di planet ini.
Dampaknya bagi kelayakhunian Bumi
Dominasi air juga penting bagi kehidupan di Bumi. Lautan membantu mengatur suhu dengan menyerap panas, sementara fitoplankton di laut menghasilkan sekitar 50–80 persen oksigen dunia.
Daratan tetap memegang peran penting karena menyediakan ruang bagi kehidupan berkembang di luar air. Kombinasi lautan yang luas, daratan yang tetap muncul, dan siklus geologi yang terus berjalan membuat Bumi berada dalam kondisi yang mendukung kehidupan.
Source: www.idntimes.com