Leapmotor Mulai Dirakit Di Malaysia, Stellantis Tertinggal Lima Bulan Dari Jadwal Awal

Stellantis akhirnya memulai perakitan lokal Leapmotor di Malaysia, tetapi langkah itu baru terealisasi sekitar lima bulan setelah target awal yang sempat dipasang pada akhir 2025. Produksi perdana dilakukan di pabrik Gurun, Kedah, dengan Leapmotor C10 SUV sebagai model pertama yang keluar dari lini perakitan.

Kehadiran proyek ini menandai babak baru ekspansi elektrifikasi Stellantis di Asia Tenggara. Malaysia kini diposisikan sebagai basis produksi baru Leapmotor di kawasan ASEAN, bukan sekadar lokasi perakitan awal.

Produksi Bertahap di Gurun

Setelah C10, Stellantis menyiapkan Leapmotor B10 compact SUV untuk menyusul di fasilitas yang sama. Pola ini menunjukkan kapasitas produksi di Gurun akan diperluas secara bertahap sesuai kebutuhan pasar.

Untuk menopang operasi itu, Stellantis sudah mengalokasikan 2,23 juta euro bagi pengembangan perakitan. Perusahaan juga menyiapkan belanja modal tambahan sebesar 3,1 juta euro untuk peningkatan lini produksi dan infrastruktur di pabrik tersebut.

Isaac Yeo, managing director Stellantis ASEAN, menyebut pencapaian ini sebagai tonggak penting yang menempatkan Malaysia di garis depan industrialisasi kendaraan listrik di ASEAN. Pada tahap awal, produksi masih difokuskan terutama untuk memenuhi permintaan pasar domestik Malaysia.

Meski begitu, Stellantis juga melihat peluang ekspor dari Gurun ke kawasan ASEAN yang lebih luas. Dengan begitu, fasilitas ini tidak hanya disiapkan untuk kebutuhan lokal, tetapi juga berpotensi menjadi pintu distribusi regional.

Disiapkan untuk Teknologi yang Lebih Maju

Pabrik Gurun tidak hanya disiapkan untuk model awal, tetapi juga untuk kebutuhan teknis kendaraan listrik yang lebih kompleks. Para teknisi di fasilitas itu telah mengikuti pelatihan khusus, sementara seluruh tenaga kerja juga sudah tersertifikasi untuk menangani sistem listrik tegangan tinggi hingga 800 volt dengan aman.

Persiapan tersebut memberi sinyal bahwa Stellantis menargetkan fleksibilitas produksi untuk model-model dengan arsitektur yang lebih maju di masa mendatang. Artinya, investasi di Malaysia tidak berhenti pada perakitan satu model saja.

Leapmotor C10 sendiri pertama kali diluncurkan di China pada 2 Maret 2024. Model lima penumpang ini hadir dalam versi extended-range electric vehicle atau EREV, serta battery electric vehicle atau BEV, dengan harga awal di China tercatat 128.800 yuan.

Dorongan dari Kinerja Leapmotor

Waktu dimulainya produksi di Malaysia juga bertepatan dengan momentum penjualan Leapmotor yang sedang menguat. Pada Mei, perusahaan kendaraan listrik asal China itu mencatat pengiriman rekor 81.569 unit, naik 80,99% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di saat yang sama, jaringan produksi global Leapmotor terus diperluas lewat kemitraannya dengan Stellantis. Selain Malaysia, Stellantis bulan lalu mengumumkan rencana penambahan lini produksi di pabrik Zaragoza, Spanyol, yang berpotensi memproduksi B10 mulai 2026.

Kedua pihak juga berencana memindahkan kepemilikan pabrik Stellantis di Madrid ke joint venture mereka, Leapmotor International. Venture ini memegang hak eksklusif untuk menjual dan memproduksi produk Leapmotor di luar Greater China.

Kemitraan tersebut bermula pada Oktober 2023, saat Stellantis menginvestasikan 1,5 miliar euro untuk mengakuisisi sekitar 20% saham Leapmotor. Langkah itu menjadikan Stellantis pemegang saham luar terbesar di pabrikan EV China tersebut.

Sejak meluncurkan model pada 2024, Leapmotor International telah berkembang menjadi lebih dari 850 titik penjualan dan layanan di Eropa. Pada Juni, hatchback listrik Leapmotor Lafa 5 juga akan masuk ke 28 pasar luar negeri, seiring ambisi perusahaan mengejar target pengiriman 1 juta kendaraan pada 2026.

Source: cnevpost.com
Exit mobile version