Di tebing batu pasir Pegunungan Wuzhou, sebuah kompleks kuno di China masih berdiri sebagai saksi pertemuan seni, agama, dan lintas budaya yang sangat luas. Yungang Grottoes memuat lebih dari 50 ribu patung Buddha dan menjadikannya salah satu galeri pahatan batu paling besar yang masih dapat disaksikan hingga sekarang.
Yang membuat situs ini menonjol bukan semata-mata jumlah patungnya. Setiap tebing dan lorong pahatan menyimpan jejak pengaruh dari Asia Selatan, Asia Tengah, Persia, Bizantium, hingga unsur khas China yang menyatu dalam satu lanskap monumental.
Jejak Dinasti Wei Utara di tebing batu
Pembangunan Yungang Grottoes dimulai pada pertengahan abad ke-5 Masehi, ketika Dinasti Wei Utara memulai proyek besar ini. Pengerjaannya berlangsung setelah Kaisar Wencheng kembali mendukung ajaran Buddha usai masa penindasan pada pemerintahan sebelumnya.
Kompleks ini dipahat dekat ibu kota mereka saat itu, Pingcheng, yang kini dikenal sebagai Datong. Pekerjaan besar itu dipimpin oleh biksu Tan Yao dan melibatkan banyak pekerja serta pemahat batu selama puluhan tahun, dari sekitar 460 hingga awal 490-an Masehi.
Galeri raksasa yang dipahat langsung dari batu pasir
Seluruh kawasan Yungang dibentuk langsung pada batu pasir Pegunungan Wuzhou tanpa bangunan tambahan. Para pemahat membuat gua, lorong, patung, dan relief langsung di dinding tebing, sehingga kompleks ini terasa seperti ruang seni yang tumbuh dari batu itu sendiri.
Panjangnya sekitar satu kilometer dan terdiri atas puluhan gua dengan ukuran berbeda. Beberapa gua bahkan memiliki kedalaman hingga sekitar 21 meter, menunjukkan betapa besar tenaga dan ketelitian yang dibutuhkan dalam pengerjaannya.
Batu pasir yang rapuh tidak membuat pekerjaan itu menjadi lebih mudah. Meski begitu, para seniman kuno tetap menghasilkan detail rumit yang tampak pada patung besar, relief halus, dan ukiran kecil yang memenuhi permukaan gua.
Lebih dari 50 ribu patung Buddha dalam satu kompleks
Jumlah patung Buddha di Yungang Grottoes mencapai lebih dari 50 ribu. Sebaran patung itu menempatkan situs ini sebagai salah satu kawasan seni pahatan Buddha terbesar di China.
Bentuknya beragam, mulai dari patung duduk, berdiri, hingga ukiran kecil yang menutup dinding gua. Ada juga patung Buddha berukuran raksasa yang memberi kesan megah saat dilihat dari kejauhan.
Hampir setiap sisi gua dipenuhi pahatan dan relief. Karena itu, kawasan ini sering dipandang sebagai galeri seni batu raksasa yang mewakili capaian besar pada masa kuno.
Tempat pertemuan banyak gaya seni kuno
Letaknya di jalur perdagangan kuno atau Jalur Sutra membuat Yungang Grottoes menyerap banyak pengaruh dari luar. Pada bagian awal gua, bentuk patung Buddha memperlihatkan gaya khas India dan Asia Tengah.
Pengaruh Persia dan Romawi Timur atau Bizantium juga tampak pada sejumlah ukiran dan ornamen. Namun, unsur China tetap hadir melalui ornamen naga, phoenix, dan bentuk bangunan tradisional yang menyatu di antara pahatan-pahatan itu.
Perpaduan ini membuat Yungang Grottoes memiliki ciri seni yang berbeda dari situs gua Buddha lainnya. Situs ini juga menunjukkan bahwa interaksi antarkebudayaan sudah melahirkan karya besar jauh sebelum era modern.
Masih diakui dunia, namun tetap rentan rusak
Yungang Grottoes masuk daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2001. Pengakuan itu diberikan karena situs ini dinilai sebagai salah satu mahakarya seni pahatan Buddha terpenting di China.
UNESCO juga menilai kompleks ini berhasil menampilkan perpaduan budaya dari Asia Selatan, Asia Tengah, dan China dalam satu situs bersejarah. Meski usianya telah lebih dari 1.500 tahun, banyak bagian Yungang masih terjaga dengan baik hingga sekarang.
Ancaman tetap ada dalam bentuk erosi, polusi, dan kerusakan akibat aktivitas manusia pada masa lalu. Karena itu, pemerintah China dan tim pelestarian terus melakukan perawatan serta restorasi agar warisan batu ini tetap bertahan untuk generasi berikutnya.
Source: www.idntimes.com