Lebih dari 700 mitra bisnis lintas industri berkumpul dalam Huawei Indonesia Enterprise Business Group Partner Summit 2026, menandai dorongan besar perusahaan itu untuk mempercepat adopsi AI di Indonesia. Skala acara tersebut disebut melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sejalan dengan makin besarnya peluang sekaligus persaingan di pasar AI nasional.
Huawei memanfaatkan forum itu untuk menegaskan bahwa AI kini menjadi poros utama kerja sama bisnisnya di Indonesia. Dengan tema “Partnering for a New Era of AI-Driven Intelligence”, perusahaan juga memperkenalkan pembaruan kebijakan kemitraan serta inovasi solusi yang disiapkan untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus bergerak.
Dukungan terhadap arah tersebut juga datang dari pemerintah. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menekankan bahwa masa depan digital Indonesia tidak dapat dibangun sendirian dan membutuhkan ekosistem yang kolaboratif serta sinergis.
Nezar menyebut AI sebagai fondasi bersama, bukan milik segelintir pihak. Ia juga menilai Huawei telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam perjalanan transformasi digital Indonesia.
Di sisi lain, Huawei menyoroti pentingnya kolaborasi erat agar mitra bisnis tidak hanya ikut tumbuh, tetapi juga mampu menangkap peluang baru. CEO Huawei Enterprise Business Indonesia, Dylan Du, menjelaskan bahwa perusahaan terus memperkuat dukungan melalui penguatan kapabilitas solusi digital, program insentif kemitraan, dan pelatihan teknis berkelanjutan.
Pendekatan itu diarahkan agar para mitra bisa menghadirkan nilai nyata bagi pelanggan di berbagai sektor. Huawei juga mencatat bahwa sepanjang 2025, perusahaan telah menggandeng lebih dari 900 mitra di Indonesia.
Fokus pada implementasi
Di dalam summit, Huawei tidak hanya berbicara soal visi besar AI. Perusahaan juga membuka ruang diskusi teknis dan bisnis melalui AI Round Table, Financial Industry Round Table, serta Ronghai Solution Salon.
Topik yang dibahas mengarah pada implementasi AI di dunia nyata, infrastruktur komputasi AI, dan solusi terintegrasi untuk transformasi digital. Sektor finansial menjadi salah satu area yang mendapat perhatian khusus dalam rangkaian diskusi tersebut.
Huawei turut memperkuat Ronghai Partner Program yang telah menggandeng lebih dari 150 mitra solusi global. Program ini diposisikan untuk mendorong inovasi berbasis AI melalui kolaborasi yang lebih luas dan terhubung.
Perusahaan juga mendorong model kolaborasi “4-Win” yang melibatkan pelanggan, SI, ISV, dan Huawei. Pola ini ditujukan agar manfaat kerja sama tidak berhenti di satu pihak, tetapi mengalir ke seluruh ekosistem yang terlibat.
Ekosistem yang terus diperkuat
Selain membahas peluang bisnis, Huawei memberikan apresiasi kepada mitra berprestasi sepanjang 2025. Penghargaan itu diberikan kepada pihak-pihak yang dinilai berhasil mendorong adopsi teknologi digital secara signifikan.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa Huawei ingin menjaga pertumbuhan ekosistemnya bukan hanya lewat penambahan jumlah mitra, tetapi juga lewat penguatan kualitas kontribusi. Perusahaan menempatkan daya saing teknis dan kesiapan bisnis sebagai bagian penting dari pengembangan jaringan di Indonesia.
Arah jangka panjang itu juga ditegaskan lewat konsep Huawei I DO, yang terdiri dari I Do Care, I Do Collaborate, I Do Create, dan I Do Contribute. Empat pilar ini dipakai sebagai fondasi untuk membangun ekosistem digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Dari sisi mitra, Erwin Elias dan Zefree Windjaja menilai kerja sama dengan Huawei melampaui urusan teknologi semata. Keduanya melihat Huawei sebagai mitra strategis yang membantu memahami kebutuhan pasar sekaligus menghadirkan solusi inovatif.
Dengan kombinasi forum bisnis, dukungan kemitraan, dan penekanan pada AI, Huawei kembali menunjukkan posisinya dalam transformasi digital nasional. Perusahaan kini tengah membangun jaringan yang lebih luas sekaligus lebih siap untuk menopang masa depan digital Indonesia.





