Lonjakan Kredit Investasi dan Korporasi Dorong Penyaluran Bank Menembus Rp8.755 Triliun

Dorongan terbesar kredit perbankan pada April 2026 masih datang dari pembiayaan ke sektor produktif. Di antara berbagai segmen, kredit investasi dan kredit korporasi tampil paling menonjol dengan laju pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibanding jenis kredit lainnya.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat kredit investasi tumbuh 19,48% secara tahunan. Pada saat yang sama, kredit korporasi naik 15,51% dan menjadi segmen dengan pertumbuhan tertinggi di industri perbankan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menilai tren kredit perbankan terus membaik. Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Jumat (5/6/2026), ia menyebut kredit investasi sebagai jenis penggunaan dengan pertumbuhan paling tinggi.

Lonjakan pada kredit investasi menunjukkan ekspansi usaha masih berjalan kuat. Kondisi ini juga memberi sinyal bahwa pelaku usaha tetap melanjutkan rencana penanaman modal meski ketidakpastian ekonomi global masih membayangi.

Di sisi lain, kredit korporasi tetap menjadi penopang besar bagi pembiayaan bank. Kenaikan 15,51% secara tahunan pada segmen ini menunjukkan kebutuhan pendanaan perusahaan masih tinggi untuk menjaga operasional dan memperluas bisnis.

OJK melihat korporasi tetap menjadi kontributor utama dalam penyaluran kredit bank. Peran itu menegaskan bahwa pembiayaan untuk sektor usaha skala besar masih menjadi tulang punggung intermediasi perbankan.

Secara keseluruhan, total kredit perbankan nasional juga bergerak lebih kuat. Nilainya mencapai Rp8.755 triliun dan tumbuh 9,98% secara tahunan, lebih tinggi dibanding pertumbuhan 9,49% pada Maret 2026.

Di luar dua pendorong utama tersebut, kredit modal kerja tercatat tumbuh 6,04% secara tahunan. Kredit konsumsi juga naik 6,13%, menandakan pembiayaan rumah tangga masih bergerak meski lajunya tidak setajam kredit investasi dan korporasi.

Segmen UMKM mulai memperlihatkan perbaikan bertahap. OJK mencatat pertumbuhannya berada di level positif 0,16% secara tahunan, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 0,12%.

Dari sisi penopang likuiditas, dana pihak ketiga atau DPK tumbuh 11,4% secara tahunan menjadi Rp10.077 triliun. Pertumbuhan dana ini memberi ruang lebih besar bagi bank untuk terus menyalurkan pembiayaan, terutama ke sektor produktif.

OJK menilai fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan baik karena didukung likuiditas dan permodalan yang memadai. Kualitas aset bank juga masih terjaga, dengan rasio kredit bermasalah atau NPL gross di level 2,17% dan NPL net sebesar 0,84%.

Kombinasi antara penguatan kredit investasi, kontribusi besar kredit korporasi, dan pertumbuhan DPK menunjukkan permintaan pembiayaan masih kuat. Selama kualitas aset tetap terkendali dan likuiditas terjaga, ruang ekspansi kredit masih terbuka bagi perbankan nasional.

Source: finansial.bisnis.com
Exit mobile version