Lonjakan kredit investasi menjadi salah satu sinyal paling mencolok di perbankan pada Maret 2026. Pertumbuhannya mencapai 20,85 persen secara tahunan, jauh melampaui kredit modal kerja dan kredit konsumsi.
Angka itu muncul ketika situasi ekonomi belum sepenuhnya memberi kepastian. Di saat yang sama, ketegangan konflik Timur Tengah masih ikut membayangi sentimen global.
Arah dana lebih banyak ke aset
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance, Tauhid Ahmad, menilai pola tersebut menunjukkan pelaku usaha masih berhitung ketat. Dalam kondisi yang belum stabil, perusahaan cenderung memilih menempatkan dana pada aset tetap ketimbang memperbesar modal kerja.
Menurut Tauhid, langkah itu juga mencerminkan upaya menjaga dana agar tidak menganggur. Ia melihat investasi lebih banyak mengalir ke bangunan dan aset tetap, sementara modal kerja justru tetap dibutuhkan untuk bahan baku, biaya tenaga kerja, dan bahan penolong.
Bagi dia, komposisi seperti ini belum ideal bagi struktur ekonomi nasional. Ia menilai aliran investasi masih lebih banyak menuju sektor jasa dan ritel dibanding manufaktur.
Tauhid mendorong pemerintah agar lebih kuat mengarahkan kredit ke pembangunan pabrik dan industri pengolahan. Menurutnya, penguatan sektor produksi akan memberi efek yang lebih besar bagi ketahanan ekonomi jangka panjang.
Dorongan dari hilirisasi
Di sisi lain, pertumbuhan kredit investasi juga terdorong proyek-proyek besar yang padat modal. Ekonom Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, menyebut hilirisasi nikel dan tembaga membutuhkan pembiayaan besar dan menjadi motor utama pertumbuhan kredit investasi.
Yusuf juga melihat likuiditas perbankan yang masih longgar membuka ruang penyaluran kredit. Kondisi itu beririsan dengan peluang relokasi industri dari negara lain ke Indonesia.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa penguatan pembiayaan investasi belum sepenuhnya diikuti kenaikan produksi riil. Kredit modal kerja hanya tumbuh 4,38 persen, sehingga dunia usaha dinilai masih menahan ekspansi operasional.
Bagi Yusuf, keadaan itu menunjukkan sikap menunggu dan melihat masih kuat. Perusahaan tampak lebih siap membangun kapasitas daripada menjalankan produksi secara agresif.
Pertumbuhan ada, tetapi belum merata
Secara keseluruhan, kredit perbankan pada Maret 2026 tetap naik 9,49 persen secara tahunan. Pertumbuhan itu sedikit lebih tinggi dibanding Februari yang berada di level 9,37 persen.
Namun, laju yang kuat di kredit investasi belum otomatis membuat ekonomi riil bergerak serempak. Kredit konsumsi memang masih tumbuh 5,88 persen, tetapi kecepatannya tetap berada di bawah pembiayaan investasi.
Kondisi ini membuat arah penyaluran dana menjadi perhatian utama. Jika kredit lebih banyak masuk ke aset dan proyek besar, sementara modal kerja tertahan, pemulihan ekonomi berisiko berjalan tidak seimbang.
Yusuf menilai dorongan kredit tidak cukup bila tidak mengalir ke aktivitas ekonomi riil. Ia menekankan pembiayaan harus benar-benar masuk ke sektor yang mampu memperluas kesempatan kerja.
UMKM masih jadi pekerjaan rumah
Di tengah pertumbuhan kredit yang terlihat kuat, segmen UMKM masih belum mendapatkan dorongan yang sepadan. Segmen ini tetap dianggap berisiko tinggi, meski perannya penting dalam penciptaan lapangan kerja di Indonesia.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit secara keseluruhan pada 2026 akan tetap terjaga di kisaran 8 hingga 12 persen. Proyeksi itu bergantung pada dinamika permintaan domestik dan kesiapan perbankan dalam menyalurkan pembiayaan.
Dengan gambaran tersebut, angka pertumbuhan yang tinggi belum cukup menjadi ukuran utama. Yang jauh lebih penting adalah apakah dana perbankan benar-benar masuk ke produksi, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi yang membuat pertumbuhan lebih sehat.





