Maxdecal Foodie mencoba membaca touring dari sudut yang berbeda. Alih-alih hanya menekankan perjalanan jauh, program ini mengubah kendaraan menjadi ruang promosi bergerak untuk mengenalkan kuliner UMKM Nusantara beserta cerita daerah asalnya.
Langkah tersebut dijalankan bersama Pasutri Touring, pasangan traveler Ricky Rinaldo dan Adriana Vonny Ramli yang sudah melintasi lebih dari 65.000 kilometer. Kolaborasi ini menyatukan mobilitas tinggi dengan promosi yang menyasar audiens lebih luas melalui jalur perjalanan.
Kendaraan diposisikan sebagai media promosi
Project Director & RnD Maxdecal, Nofian Hendra, menyebut kerja sama ini lahir di waktu yang tepat. Pasutri Touring tengah bersiap menjalani perjalanan panjang, sementara Maxdecal baru meluncurkan program promosi yang berfokus pada UMKM.
Nofian menegaskan bahwa fungsi kendaraan kini tidak berhenti pada transportasi. “Kendaraan saat ini bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga bisa menjadi media promosi efektif yang langsung menjangkau masyarakat,” ujarnya.
Cara pandang itu menjadi dasar Maxdecal Foodie dalam merancang ekspedisi kuliner. Setiap perjalanan tidak hanya membawa pengendara ke destinasi baru, tetapi juga membawa pesan promosi yang terlihat langsung di jalan.
Kuliner daerah dibawa dengan cerita yang lebih utuh
Maxdecal Foodie tidak semata mencari makanan khas dari satu wilayah ke wilayah lain. Program ini juga menekankan cerita di balik hidangan agar kuliner tampil sebagai bagian dari pengalaman budaya yang lebih lengkap.
Pendekatan storytelling membuat makanan tidak diperlakukan hanya sebagai barang jualan. Setiap sajian bisa menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah lokal, kebiasaan masyarakat, dan karakter wilayah yang disinggahi.
Bagi Maxdecal, cara ini penting karena banyak kuliner daerah memiliki nilai lebih dari rasa. Ketika narasinya kuat, makanan khas akan lebih mudah diingat dan lebih berpeluang menarik perhatian publik yang lebih luas.
Dukungan bagi UMKM dan diplomasi budaya
Inisiatif ini juga mendapat perhatian dari Irene Umar, yang memandang kuliner sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia. Ia menilai kekayaan rempah dan kisah di balik kuliner Nusantara memiliki daya tarik kuat, termasuk untuk pasar global.
Pandangan tersebut sejalan dengan misi Maxdecal Foodie yang ingin mengangkat hidden gem kuliner agar naik kelas. Fokus program ini bukan hanya memperkenalkan produk, tetapi juga menunjukkan jejak budaya yang melekat pada setiap hidangan.
Bagi pelaku UMKM, promosi seperti ini membuka ruang eksposur baru tanpa harus bergantung sepenuhnya pada cara promosi konvensional. Kehadiran kendaraan yang terus bergerak di jalan memberi wadah berbeda untuk menampilkan usaha kecil kepada masyarakat.
Rute timur jadi panggung awal
Fokus awal kolaborasi ini dibuka lewat Indonesia Timur Touring bertajuk Maxdecal Journey to the East. Perjalanan tersebut resmi dimulai pada 25 April 2026 dengan Larantuka sebagai titik awal eksplorasi.
Wilayah Indonesia Timur dipilih karena memiliki lanskap eksotis, budaya yang kuat, dan potensi kuliner yang belum banyak terekspos. Dari sana, program ini diharapkan mampu menarik perhatian baru terhadap ragam kuliner lokal yang selama ini belum mendapat sorotan besar.
Dalam misi tersebut, pengalaman panjang Ricky dan Adriana menjadi modal penting. Sebagai full-time traveller, keduanya sudah menempuh rute di berbagai wilayah Indonesia serta melintasi Brunei dan Malaysia.
NMAX Turbo menjadi kanvas berjalan
Untuk perjalanan itu, Pasutri Touring memakai Yamaha NMAX Turbo TechMax Ultimate. Kendaraan tersebut dilapisi stiker Maxdecal 9600 dan Paint Protection Film atau PPF guna mendukung mobilitas di jalur panjang.
Material itu disebut tahan terhadap panas, hujan, debu, dan paparan sinar UV. Karakter tersebut dinilai cocok untuk kondisi perjalanan di Indonesia Timur yang membutuhkan perlindungan tambahan pada kendaraan.
Selain melindungi bodi, stiker juga berfungsi sebagai penanda visual promosi. Maxdecal menyiapkan stiker eksklusif di setiap titik kuliner yang dikunjungi agar UMKM setempat memiliki identitas promosi yang jelas.
Dengan pola seperti ini, setiap pemberhentian touring tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan, tetapi juga etalase berjalan bagi pelaku usaha lokal. Promosi yang melekat di kendaraan membantu memperluas visibilitas brand sekaligus mempertemukan otomotif, ekonomi kreatif, dan kuliner Nusantara dalam satu rute.
Source: www.liputan6.com




