Di tengah padatnya kerumunan buruh di kawasan Monas, Jakarta Pusat, dagangan sederhana milik Slamet justru menjadi incaran banyak orang. Roti rumahan yang dibawanya habis dalam waktu singkat, dan dari situ ia membawa pulang penghasilan bersih yang disebut bisa mencapai Rp300 ribu dalam sehari.
Slamet berjualan dengan stok sekitar 300 potong roti. Ia mulai membuka lapak sekitar pukul 08.00, lalu seluruh dagangannya ludes pada pukul 10.00, hanya dua jam setelah mulai berjualan di area Monas.
Roti yang dijual Slamet bukan produk pabrikan. Dagangan itu dibuat secara rumahan oleh keponakannya, dengan isian pisang, olesan madu, taburan keju, lalu dipanggang.
Keramaian menjadi faktor utama yang membuat barang dagangannya cepat habis. Slamet mengaku sengaja mengejar lokasi yang dipadati massa karena kondisi seperti itu hampir selalu membuka peluang lebih besar bagi pedagang kecil.
Ia tidak hanya mengandalkan momentum May Day. Saat tidak ada acara besar, Slamet biasa berdagang di pasar, halte, atau stasiun, tetapi ketika ada kegiatan yang menghadirkan banyak orang di Jakarta, ia memilih berpindah ke lokasi tersebut.
“Kalau nggak ada acara, saya dagang di pasar, halte, atau stasiun. Tapi kalau ada acara kayak gini ya pasti ke sini, ramai,” ujarnya.
Menurut Slamet, keramaian bukan hanya membantu jualan lebih cepat, tetapi juga memberi manfaat bagi banyak pedagang lain. Ia menilai perayaan seperti ini membuat para pedagang yang jarang datang ke kawasan tersebut ikut berdatangan untuk mencari rezeki.
“Wah sangat berkah sih buat pedagang. Apalagi yang jarang ke sini jadi pada datang semua (pedagangnya). Memang sangat bermanfaat,” tuturnya.
Meski harga bahan baku disebut naik sekitar 30 persen, Slamet tidak menaikkan harga jual. Ia tetap mematok Rp 5.000 untuk tiga potong roti, sambil menyesuaikan ukuran produk agar usaha tetap berjalan.
Ia menjelaskan bahwa harga itu dipertahankan karena jika diturunkan, kembalian akan lebih sulit diatur. “Bahan naik sekitar 30 persen. Jadi ukurannya agak dikecilin. Kalau harga diturunin malah susah kembalian, jadi tetap Rp 5.000 dapet 3,” ucapnya.
Untuk mengejar hasil maksimal, Slamet sudah mulai bekerja sejak tengah malam. Ia berkeliling ke pasar-pasar dan stasiun kereta api lebih dulu, lalu baru mengarah ke pusat keramaian pada pagi hari.
Dalam satu hari, ia menyebut penghasilan bersihnya bisa menembus Rp300 ribu. Pada momentum seperti May Day, stok roti yang ia bawa pun bisa habis lebih cepat dibanding hari biasa.
Di Monas saat ribuan buruh memadati area perayaan, roti rumahan justru menjadi salah satu dagangan yang paling cepat berpindah tangan. Bagi Slamet, keramaian itu berubah menjadi kesempatan kerja yang terasa langsung dalam hitungan jam.