Perdebatan soal nafkah anak Ruben Onsu dan Sarwendah tidak berhenti pada urusan nominal bulanan. Di tengah sorotan publik, muncul pula rincian pengeluaran rumah tangga yang ikut menyeret nama plastik sampah dengan nilai yang disebut mencapai Rp 9 juta per bulan.
Pernyataan itu datang dari kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, yang menanggapi anggapan bahwa kliennya tidak menjalankan kewajiban sebagai ayah setelah perceraian. Ia menekankan bahwa Ruben selama ini tidak hanya menanggung kebutuhan dasar dan pendidikan anak-anak, tetapi juga biaya lain yang menurut pihaknya ikut muncul dalam kehidupan rumah tangga.
Biaya yang ikut dipersoalkan
Minola menyebut plastik sampah itu digunakan di rumah yang ditempati Sarwendah bersama anak-anak. Dari situ, ia mempertanyakan apakah pengeluaran seperti itu masih bisa dikategorikan sebagai kebutuhan pemeliharaan dan pendidikan anak.
“Coba uang plastik sampah yang sampai Rp 9 juta per bulan itu masuk enggak dengan urusan pemeliharaan dan pendidikan anak? Tetapi, karena Ruben berusaha bertanggung jawab ya dia bayar,” kata Minola, dikutip dari kanal YouTube Intens Investigasi, Senin (1/6/2026).
Pernyataan tersebut dipakai untuk menggambarkan bahwa Ruben tetap berupaya memenuhi berbagai kebutuhan yang muncul, bukan hanya nafkah pokok. Dalam penjelasan Minola, biaya itu menjadi contoh bahwa Ruben tidak lepas tangan terhadap urusan anak-anaknya.
Nafkah sempat dihentikan
Di sisi lain, Minola juga mengungkap bahwa Ruben memilih menghentikan pemberian nafkah kepada anak-anaknya selama 6 bulan terakhir. Langkah itu disebut sebagai bentuk protes karena hak Ruben untuk bertemu dan berkumpul dengan anak dinilai tidak terpenuhi.
“Kenapa Ruben akhirnya menghentikan pemberian nafkah pada anak-anaknya? Karena Ruben berpikir, kewajibanku kubayar terus bahkan melampaui apa yang seharusnya, hakku aku enggak dapat,” ujar Minola.
Ia menambahkan, keputusan itu lahir dari situasi yang dirasakan Ruben sebagai ketimpangan dalam dinamika pascaperceraian. “Aku juga bisa tidak melaksanakan kewajibanku,” demikian penjelasan Minola mengenai alasan di balik penghentian nafkah tersebut.
Batas kewajiban setelah perceraian jadi sorotan
Uraian Minola membuat perdebatan tak lagi sebatas soal besar kecilnya nafkah, tetapi juga batas tanggung jawab setelah pernikahan berakhir. Dari sudut pandang pihak Ruben, ada pengeluaran yang dianggap masih harus ditanggung meski nilainya tidak kecil dan tidak semua orang melihatnya sebagai kebutuhan inti anak.
Pada saat yang sama, pihak Ruben juga menempatkan hak untuk berinteraksi dengan anak sebagai hal penting yang semestinya diperhatikan. Karena itu, isu nafkah kali ini tidak hanya berkisar pada pembayaran rutin, tetapi juga pada relasi antara kewajiban orang tua dan hak yang dirasakan belum terpenuhi.
Nama Ruben kembali menjadi pusat perhatian karena pernyataan soal biaya plastik sampah yang disebut mencapai Rp 9 juta per bulan. Di tengah sorotan itu, pihaknya ingin menegaskan bahwa tanggung jawab terhadap anak tidak selalu hadir dalam bentuk yang sederhana, sementara persoalan hak bertemu anak tetap menjadi bagian dari konflik yang belum selesai.
Source: www.beritasatu.com