Mitratel Kian Tergantung Luar Jawa, Laba Tetap Tumbuh Saat FWA Digenjot

Mitratel memasuki kuartal I 2026 dengan dua sinyal yang sama-sama penting bagi arah bisnisnya. Di satu sisi, laba bersih masih tumbuh menjadi Rp 545 miliar, naik 3,6 persen, sementara pendapatan mencapai Rp 2,29 triliun atau naik 1,4 persen secara tahunan.

Yang lebih menarik, kenaikan itu tidak berdiri sendiri. Perseroan mulai memperlihatkan perubahan peta bisnis lewat penguatan aset di luar Jawa, perluasan jaringan fiber optic, dan dorongan ke Fixed Wireless Access atau FWA.

Perluasan aset makin berat ke luar Jawa

Basis operasional Mitratel kini ditopang oleh 40.327 menara telekomunikasi. Jumlah itu naik 1,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menunjukkan skala bisnis yang terus membesar.

Perubahan yang paling menonjol ada pada sebaran asetnya. Lebih dari 59 persen menara Mitratel kini berada di luar Pulau Jawa, sehingga pertumbuhan perusahaan tidak lagi bergantung penuh pada pasar utama di Jawa.

Arah ini penting karena kebutuhan operator seluler terus bergerak untuk mencari kapasitas jaringan baru. Mitratel ikut menangkap kebutuhan tersebut lewat ekspansi menara dan peningkatan pemanfaatan aset yang sudah ada.

Efeknya mulai terlihat dari kolokasi yang naik 11,3 persen menjadi 23.006 unit. Tenancy ratio juga naik ke 1,57 kali, menandakan pemakaian menara semakin efisien.

Fiber optic dan FWA mulai jadi penopang baru

Di luar bisnis menara, Mitratel memperkuat jaringan fiber optic sebagai bagian dari ekosistem digital. Panjang jaringan fiber optic perusahaan naik 17,3 persen menjadi 72.842 kilometer.

Penguatan jaringan itu berjalan seiring dengan pengembangan FWA. Layanan tersebut diposisikan sebagai salah satu cara memperluas akses internet dan menjadi bagian dari arah pertumbuhan baru perusahaan.

Dengan langkah itu, Mitratel tidak lagi hanya bertumpu pada penyewaan menara tradisional. Perusahaan mulai membangun portofolio yang lebih terintegrasi agar dapat mendukung kebutuhan konektivitas yang makin beragam.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko menegaskan bahwa pengembangan ekosistem terintegrasi menjadi fondasi perusahaan untuk memeratakan konektivitas nasional. Ia juga menyoroti pentingnya ketersediaan energi yang andal agar operasional jaringan tetap berjalan, terutama di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur kelistrikan.

Masuk ke fase Next Generation TowerCo

Transformasi Mitratel juga diarahkan ke model Next Generation TowerCo. Dalam fase ini, perusahaan mulai mengembangkan layanan di luar penyewaan menara konvensional.

Salah satu arah yang ikut didorong adalah usulan unit usaha Power-as-a-Service atau PaaS. Langkah tersebut memperlihatkan upaya perusahaan memperluas sumber pertumbuhan di tengah perubahan kebutuhan industri telekomunikasi.

Densifikasi jaringan 5G menjadi salah satu area yang ingin ditangkap melalui penguatan fiberisasi dan layanan infrastruktur berkelanjutan. Bagi Mitratel, ini membuka ruang bisnis yang lebih luas daripada model lama yang hanya mengandalkan aset pasif.

Kinerja operasi tetap dijaga

Di tengah ekspansi itu, perusahaan masih menjaga efisiensi operasional. EBITDA margin Mitratel berada di level 82,7 persen.

Perseroan juga mencatat skor risiko ESG rendah sebesar 18,8 dari Sustainalytics. Struktur permodalan yang sehat memberi ruang bagi perusahaan untuk mengejar ekspansi organik maupun anorganik.

Kombinasi pertumbuhan laba, perluasan aset, dan penguatan infrastruktur digital menunjukkan bahwa bisnis menara Mitratel tengah bergerak ke fase yang lebih luas. Perusahaan kini membangun fondasi layanan terintegrasi untuk menopang konektivitas masa depan.

Exit mobile version