Guncangan ekonomi global membuat industri perbankan di Tanah Air semakin menaruh perhatian pada kemampuan bertahan. Dalam situasi yang bergerak cepat seperti ini, modal dan likuiditas menjadi dua unsur yang paling sering diuji karena keduanya menentukan apakah bank tetap bisa beroperasi dengan stabil saat tekanan meningkat.
Di tengah kondisi tersebut, bank-bank nasional tidak hanya dituntut menjaga pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan kualitas aset dan cadangan tetap kuat. Pengawasan risiko melalui stress test pun menjadi alat penting untuk membaca seberapa siap bank menghadapi berbagai skenario tekanan ekonomi yang mungkin muncul.
Stress test jadi alat baca ketahanan bank
Uji ketahanan atau stress test digunakan perbankan untuk menilai kemampuan modal dan likuiditas saat menghadapi tekanan ekonomi. Proses ini penting karena kondisi pasar global yang tidak pasti bisa berdampak pada kualitas kredit, cadangan, dan kestabilan neraca bank.
Bagi industri perbankan, stress test tidak sekadar formalitas pengawasan. Hasil pengujian membantu bank memahami seberapa besar risiko yang mungkin muncul jika situasi ekonomi memburuk dan langkah apa yang perlu disiapkan sejak awal.
BCA menilai hasil uji masih solid
Dari sisi PT Bank Central Asia Tbk., Direktur Subur Tan menyebut perseroan telah menjalankan stress test sesuai arahan regulator. Ia menilai hasil pengujian itu masih cukup melegakan dan menunjukkan daya tahan yang baik.
Dalam paparan kinerja kuartal I/2026 yang digelar secara daring, Subur menyampaikan bahwa permodalan BCA tetap kuat. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio berada di kisaran 29%, sehingga masih jauh di atas ketentuan minimal Otoritas Jasa Keuangan.
Kualitas kredit bank tersebut juga masih terjaga. Non-Performing Loan BCA tercatat 1,8% pada kuartal I/2026, yang menunjukkan risiko kredit bermasalah tetap terkendali.
Subur juga menyebut ada kenaikan kecil pada loan at risk. Meski begitu, posisinya masih terkontrol dan cadangan yang dimiliki perseroan dinilai tetap memadai untuk menghadapi potensi tekanan ke depan.
BTN perkuat kehati-hatian lewat uji rutin
Di sisi lain, BTN menjalankan stress test secara berkala sebagai bagian dari manajemen risiko. Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menjelaskan bahwa pengujian itu dilakukan setiap tiga bulan untuk membaca kemampuan bertahan bank dalam berbagai kondisi ekonomi.
Menurut Setiyo, stress test menjadi salah satu bentuk kehati-hatian untuk melihat situasi ekonomi ke depan dalam kondisi apa pun. Hasilnya dipakai untuk menakar tekanan yang mungkin muncul dari perubahan ekonomi global dan menyusun langkah antisipatif yang tepat.
Bagi BTN, manfaat stress test tidak berhenti pada evaluasi internal. Informasi dari pengujian itu dipakai untuk menjaga stabilitas bank agar tetap terpelihara saat kondisi makro berubah cepat.
Seleksi kredit diperketat di sektor konstruksi
Selain mengandalkan pengujian risiko, BTN juga memperkuat mitigasi kredit macet, terutama di sektor konstruksi. Langkah ini dilakukan dengan menyeleksi debitur secara lebih hati-hati agar kualitas pembiayaan tetap terjaga.
Setiyo menjelaskan bahwa BTN memprioritaskan calon debitur yang memiliki rekam jejak usaha memadai, kapasitas keuangan kuat, dan permodalan cukup. Lokasi usaha juga menjadi salah satu faktor yang masuk dalam penilaian sebelum pembiayaan disetujui.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kehati-hatian bank tidak berdiri pada satu instrumen saja. Stress test, seleksi debitur, dan penguatan mitigasi risiko dijalankan bersamaan untuk menjaga kesehatan portofolio pembiayaan.
Modal dan likuiditas tetap jadi penopang utama
Di tengah gejolak global, modal dan likuiditas tetap menjadi fokus terbesar perbankan. Dua faktor ini menentukan seberapa siap bank menghadapi tekanan eksternal tanpa mengganggu layanan maupun kepercayaan nasabah.
Data dari BCA dan BTN memperlihatkan bahwa bank nasional masih menempatkan kehati-hatian sebagai prioritas. Dengan modal yang kuat, cadangan yang memadai, serta pengawasan risiko yang rutin, perbankan berupaya menjaga ketahanan agar tetap solid saat ketidakpastian global belum mereda.
Source: finansial.bisnis.com