Motorola menjadi nama yang paling menonjol di pasar smartphone Amerika Serikat pada kuartal pertama. Saat pasar secara keseluruhan turun 3% secara tahunan, merek Android itu justru naik 18% dan mengamankan 11% pangsa pasar.
Kenaikan tersebut terasa lebih mencolok karena terjadi di tengah situasi pasar yang tidak bersahabat. Omdia mencatat pengiriman smartphone di AS mencapai 33,4 juta unit, tetapi laju pertumbuhan tertahan oleh biaya memori dan penyimpanan yang meningkat, jadwal peluncuran perangkat yang mundur, serta sikap operator yang lebih hati-hati dalam mendorong upgrade.
Di tengah tekanan itu, Motorola berhasil memanfaatkan ruang yang tersedia di segmen tertentu. Omdia mengaitkan pertumbuhan merek ini dengan pembaruan pada lini Moto G, yang tampaknya berhasil menarik permintaan di pasar yang sedang melambat.
Android belum bergerak seragam
Kondisi pasar Android di AS memperlihatkan perbedaan yang cukup lebar antarmerek. Samsung masih menjadi pemimpin di kubu Android, tetapi performanya ikut melemah dengan penurunan 5% secara tahunan.
Vendor asal Korea Selatan itu menguasai 24% pasar dengan pengiriman 7,9 juta unit. Omdia menilai pelemahan tersebut kemungkinan berkaitan dengan peluncuran Galaxy S26 yang datang lebih lambat, meski seri itu disebut mencatat pre-order 25% lebih tinggi dibanding Galaxy S25.
Google berada jauh di bawah dua pemain besar tersebut. Omdia mencatat pengiriman Google hanya 800.000 unit pada kuartal pertama, atau setara 3% pasar AS.
Apple tetap dominan, tetapi pasar tidak kebal tekanan
Di sisi lain, Apple masih memimpin pasar ponsel AS dengan jarak yang sangat lebar. Perusahaan itu menguasai 60% pasar, namun tetap mencatat penurunan 3% pada periode yang sama.
Gambaran ini menunjukkan bahwa perlambatan tidak hanya menekan vendor Android. Bahkan pemain terbesar pun ikut merasakan tekanan ketika biaya komponen naik dan keputusan upgrade konsumen serta operator menjadi lebih hati-hati.
Segmen murah lebih tahan banting
Tekanan pasar juga tidak merata di semua kelas harga. Omdia menyebut perangkat premium dengan harga $800 atau lebih turun tipis 1% pada kuartal pertama.
Sebaliknya, ponsel entry-level justru naik 8%. Kategori ini umumnya mencakup perangkat di bawah $300, dan Omdia menilai kenaikan tersebut bisa terbantu oleh paket prabayar serta faktor serupa.
Pola itu membantu menjelaskan mengapa Motorola tampil lebih kuat dibanding banyak pesaing. Saat pembeli dan operator menahan belanja, merek yang punya posisi kuat di segmen terjangkau cenderung lebih mudah mempertahankan pertumbuhan.
Tekanan belum diprediksi mereda cepat
Omdia belum melihat tanda bahwa kondisi ini akan segera berubah. Firma riset itu memperkirakan pasar smartphone AS sepanjang 2026 masih bisa turun 4% secara keseluruhan.
Proyeksi tersebut memperlihatkan bahwa hambatan utama masih bertahan, terutama siklus upgrade operator yang tertahan dan biaya komponen yang terus naik. Dalam situasi seperti ini, pertumbuhan Motorola pada awal tahun bukan tanda pemulihan pasar, melainkan bukti bahwa strategi produk yang tepat masih bisa menghasilkan ruang menang.
Perbandingan dengan pasar global juga menegaskan bahwa dinamika AS punya karakter sendiri. Dalam laporan global untuk kuartal keempat 2025, pengiriman smartphone dunia naik 2,3%, dengan Samsung mengirim 61,2 juta unit dan menguasai 18,2% pasar, sementara Apple mencatat 81,3 juta unit dengan pangsa 24,2%.
Bagi pasar AS, fakta itu menegaskan satu hal: di tengah pelemahan umum, Motorola justru menjadi pengecualian yang paling berhasil memanfaatkan celah pertumbuhan.
Source: www.androidcentral.com




