Rencana menjadikan Borobudur sebagai pusat religi dunia kini bergerak ke tahap yang lebih konkret. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyiapkan arah kebijakan baru agar kawasan candi tidak hanya kuat sebagai tujuan wisata, tetapi juga tetap menjadi ruang ibadah yang terjaga bagi umat Hindu dan Buddha.
Pendekatan ini menempatkan Borobudur bersama tiga candi lain dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Di saat yang sama, pemerintah ingin memastikan kawasan tersebut memberi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar melalui pariwisata berkelanjutan.
Pembaruan aturan untuk empat candi
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyampaikan bahwa pembaruan nota kesepahaman atau MoU untuk pemanfaatan kawasan Candi Prambanan, Candi Mendut, dan Candi Pawon sedang dipersiapkan. Langkah ini dinilai penting karena masa berlaku MoU periode 2021-2026 segera berakhir.
Menurut Taj Yasin, pembaruan aturan diperlukan agar pelaksanaannya lebih mudah dijalankan di lapangan. Ia menilai kesepakatan baru harus bisa memberi kepastian bagi kegiatan ibadah sekaligus mendukung pengelolaan wisata di kawasan candi.
Taj Yasin juga menegaskan bahwa pemerintah daerah ingin memastikan umat Hindu dan Buddha tetap mendapat kemudahan saat beribadah di kawasan tersebut. “Kami mendorong agar MoU ini diperpanjang. Kami juga membahas apa-apa saja yang bisa memajukan pariwisata di empat candi ini,” ujarnya di Semarang, Selasa (28/4/2026).
Wisata religi tidak hanya bertumpu pada Borobudur
Pemprov Jawa Tengah melihat pengembangan wisata candi sebagai satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, promosi tidak diarahkan hanya ke zona utama Borobudur, melainkan juga dikaitkan dengan candi-candi lain yang berada di Jawa Tengah.
Taj Yasin bahkan meminta agar candi-candi di Karanganyar dan Wonosobo ikut dimasukkan dalam narasi wisata yang utuh. Dengan cara itu, promosi Jawa Tengah di level internasional diharapkan tampil lebih kuat dan tidak berjalan dalam potongan-potongan kecil yang terpisah.
Strategi ini juga dinilai penting untuk memperluas sebaran manfaat ekonomi. Jika paket wisata religi tersusun lebih lengkap, arus kunjungan tidak akan menumpuk di satu titik, tetapi bisa ikut mengalir ke daerah lain yang memiliki daya tarik serupa.
Akses udara membuka pasar baru
Penguatan wisata religi di Jawa Tengah mendapat dorongan tambahan setelah Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani kembali melayani penerbangan internasional. Saat ini, rute langsung dari Singapura dan Malaysia sudah tersedia, sehingga akses menuju Jawa Tengah menjadi lebih mudah.
Kemudahan akses udara ini dipandang sebagai peluang penting untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan. Semakin lancar konektivitas masuk, semakin besar pula peluang kawasan candi dan destinasi pendukung di sekitarnya mendapatkan dampak ekonomi.
Taj Yasin juga menyoroti potensi wisatawan dari Thailand. Ia menyebut ada tren meningkatnya minat generasi muda Thailand untuk melakukan perjalanan spiritual ke Borobudur, yang bisa menjadi pasar penting bagi pengembangan wisata religi di Jawa Tengah.
Pusat religi dan manfaat bagi warga
Dari sisi pemerintah pusat, arah kebijakan ini mendapat dukungan. Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Kemenko Perekonomian Herfan Brilianto Mursabdo menilai langkah Pemprov Jawa Tengah sudah tepat karena melihat potensi wisata religi dan ziarah Hindu-Buddha sebagai pasar global yang besar.
Herfan menekankan bahwa fokus ke depan adalah memastikan Borobudur dan kawasan sekitarnya memberi manfaat nyata bagi ekonomi rakyat. Ia menilai pengelolaan kawasan perlu menjaga keseimbangan antara aktivitas keagamaan, pelestarian cagar budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Pemerintah pusat juga terus menyempurnakan MoU agar ketiga hal itu bisa berjalan seimbang. Dengan arah tersebut, Borobudur dan tiga candi lain diproyeksikan menjadi pusat religi yang aktif sekaligus penggerak ekonomi daerah yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Source: www.beritasatu.com




