Di tengah sengketa hukumnya dengan OpenAI, Elon Musk kembali menempatkan asal-usul perusahaan itu sebagai bagian penting dari argumennya. Dalam kesaksian di sidang gugatan terhadap CEO OpenAI Sam Altman dan jajaran petinggi perusahaan, Musk menyebut OpenAI dibentuk karena kekhawatiran bahwa pengembangan kecerdasan buatan, terutama dari Google, bisa bergerak tanpa cukup memikirkan keselamatan manusia.
Pernyataan itu kembali mengangkat versi Musk soal alasan pendirian OpenAI. Ia menggambarkan organisasi tersebut bukan sekadar proyek teknologi, melainkan respons terhadap risiko besar yang ia lihat pada arah perkembangan AI saat itu.
Kekhawatiran Musk berawal dari percakapan dengan Larry Page
Musk mengatakan gagasan membentuk OpenAI muncul setelah percakapannya dengan salah satu pendiri Google, Larry Page. Dari diskusi itu, ia mengaku makin yakin bahwa perlu ada pesaing Google yang benar-benar memusatkan perhatian pada keselamatan AI.
Ia juga menyebut pernah bertanya kepada Page apakah AI bisa memusnahkan manusia. Menurut klaim Musk, jawaban yang diterimanya justru mengejutkan karena Page disebut menganggap hal itu bukan masalah selama AI sendiri tetap selamat.
Dari pengalaman tersebut, Musk mengaku terdorong untuk ikut membangun OpenAI. Ia mengatakan dirinya memberi ide, nama, merekrut pegawai kunci, mengajarkan apa yang ia ketahui, dan menyediakan modal awal untuk organisasi itu.
Musk keberatan terhadap arah OpenAI saat ini
Selain menyinggung alasan pendirian, Musk juga menyoroti perubahan misi OpenAI. Ia menuduh Sam Altman dan para petinggi lainnya menggeser tujuan yang ia anggap mulia menjadi orientasi mencari keuntungan.
Dalam sidang itu, Musk menggambarkan persoalan tersebut sebagai sesuatu yang sederhana, meski pihak lain disebut akan membuatnya terlihat rumit. Ia bahkan mempertanyakan apakah sebuah amal bisa dicuri, merujuk pada keyakinannya bahwa OpenAI awalnya dibangun dengan tujuan nonkomersial.
Pernyataan itu memperlihatkan inti konflik yang terus membayangi hubungan Musk dengan OpenAI. Di satu sisi, ia menempatkan diri sebagai salah satu sosok yang terlibat sejak awal, tetapi di sisi lain ia merasa arah perusahaan telah menjauh dari tujuan yang ia pahami.
AI dinilai bisa melampaui manusia lebih cepat dari dugaan
Di luar perdebatan soal sejarah OpenAI, Musk juga kembali melontarkan peringatan keras tentang perkembangan AI. Menjawab pertanyaan dari pengacaranya, Steven Molo, ia menyatakan AI bisa menjadi “lebih pintar dari manusia” paling cepat tahun depan.
Menurut Musk, kondisi seperti itu bisa sangat berbahaya jika pengembangannya tidak dikendalikan dengan baik. Ia bahkan menyebut AI semacam itu “bisa membunuh kita semua”, sebuah pernyataan yang menegaskan sikap kerasnya terhadap risiko teknologi tersebut.
Bagi Musk, ancaman terbesar bukan hanya kemampuan AI yang terus meningkat, tetapi juga arah pengembangannya yang tidak menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama.
Keselamatan manusia jadi titik utama perdebatan
Musk juga menekankan bahwa masa depan AI sangat ditentukan oleh pilihan yang diambil sejak awal. Ia mengatakan dunia yang ideal adalah dunia seperti dalam Star Trek, bukan seperti gambaran suram di Terminator.
Perbandingan itu menunjukkan pandangannya bahwa AI bisa membawa hasil yang sangat berbeda, tergantung pada cara pengembangannya. Dalam pandangan Musk, teknologi semacam ini membutuhkan lembaga atau perusahaan yang tidak hanya mengejar keunggulan teknis.
Di ruang sidang, Musk kembali memakai kesempatan itu untuk menegaskan kritik lamanya terhadap OpenAI. Ia menempatkan keselamatan AI sebagai inti persoalan, sambil menilai bahwa risiko terburuk dari teknologi tersebut sudah bukan lagi sekadar teori.
Source: www.cnbcindonesia.com




