Tekanan di pasar saham domestik belum mereda setelah IHSG kembali tergelincir ke 5.724 pada perdagangan Jumat pagi. Dalam pergerakan intraday, indeks bahkan sempat turun lebih dalam hingga 5.595 poin atau melemah 4,20 persen dari sesi sebelumnya.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah rentang harian yang cukup lebar, dari 5.594,11 hingga 5.860,67. Kondisi itu menunjukkan volatilitas masih tinggi ketika sentimen jual mendominasi transaksi.
Arus keluar asing masih membebani pasar
Salah satu sumber tekanan terbesar datang dari investor luar negeri yang terus melepas saham di bursa Indonesia. Sepanjang tahun berjalan, net sell asing sudah menembus lebih dari Rp67 triliun dan menekan saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang indeks.
Arus keluar itu ikut diperkuat oleh perubahan sentimen global dan faktor makroekonomi yang bergerak cepat. Dalam situasi seperti ini, fund manager global juga melakukan penyesuaian portofolio dalam skala besar.
Pelemahan beruntun makin panjang
Posisi IHSG saat ini menandai penurunan mingguan ketujuh secara beruntun. Dalam pekan ini saja, indeks tercatat melemah sekitar 6 persen dan menempatkan pasar modal Indonesia di antara yang berkinerja terburuk di dunia.
Secara year-to-date, kinerja bursa domestik telah menyusut sekitar 33 persen hingga 35,52 persen sejak awal 2026. Pergerakan itu memperlihatkan pembalikan arah yang sangat tajam setelah pasar sempat mencatat performa gemilang di awal tahun.
Jarak yang jauh dari puncak tertinggi
Kontras paling besar terlihat dari level tertinggi IHSG yang baru dicapai pada Januari 2026 di 9.174,47. Angka tersebut kini menjadi batas atas rentang harga 52 minggu terakhir bursa saham Indonesia.
Dalam horizon yang lebih pendek, tekanan juga masih terlihat jelas. Performa lima hari terakhir tercatat -8,47 persen, sementara satu bulan terakhir berada di kisaran -21,05 persen hingga -21,12 persen.
Kondisi serupa muncul pada periode yang lebih panjang. Dalam enam bulan terakhir, indeks turun 35,39 persen, sedangkan dalam satu tahun terakhir pelemahannya berada di kisaran -21,20 persen hingga -22,63 persen.
Perhatian pelaku pasar dan regulator
Pada sesi perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup di 5.839,79 dan dibuka di 5.846,49. Bursa juga terus bertambah ramai karena jumlah emiten di Bursa Efek Indonesia mencapai 864 emiten pada akhir 2023.
Otoritas bursa dan pelaku pasar kini memantau pergerakan modal serta dinamika kebijakan moneter global untuk mengantisipasi volatilitas lanjutan. Stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian karena ikut memengaruhi arah pasar saham.
Penurunan tajam di bawah level psikologis membuat pengawasan transaksi diperketat agar perdagangan tetap berjalan teratur, wajar, dan efisien. Di tengah kondisi ini, investor domestik diminta lebih selektif mencermati fundamental emiten saat IHSG masih bergejolak.
Masih ada pijakan jangka panjang
Meski terpukul dalam jangka pendek dan menengah, data historis menunjukkan IHSG masih mencatat kenaikan 15,46 persen dalam 10 tahun. Secara seluruh waktu, indeks bahkan masih melesat 772,45 persen.
Namun, tekanan jangka pendek tetap menjadi fokus utama karena arus keluar asing belum menunjukkan tanda mereda. Selama net sell masih besar dan sentimen global belum stabil, volatilitas IHSG berpeluang bertahan tinggi pada perdagangan berikutnya.





