Rencana penerapan New Risk Based Capital di industri asuransi jiwa dipandang tidak bisa dikejar dalam waktu singkat. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia menilai perubahan ini menuntut kesiapan yang jauh lebih luas daripada sekadar penyesuaian angka permodalan.
Direktur Eksekutif AAJI, Emira E. Oepangat, menyebut pekerjaan rumah industri ada di banyak sisi sekaligus. Data, teknologi, sistem, aktuaria, manajemen risiko, sampai sumber daya manusia menjadi area yang perlu diperkuat agar perusahaan dapat mengikuti arah kebijakan baru.
Kesiapan operasional ikut diuji
Menurut AAJI, tantangan terbesar justru muncul saat kerangka baru mulai diterapkan ke dalam aktivitas perusahaan sehari-hari. Penguatan kapasitas teknis menjadi penting karena perubahan permodalan akan menyentuh proses pengelolaan risiko, kualitas data, dan sistem yang dipakai industri.
Asosiasi itu melihat transisi New RBC tidak bisa dipaksakan secara tergesa-gesa. Bagi industri, penyesuaian yang terburu-buru justru berisiko mengganggu kesiapan internal perusahaan yang berbeda-beda tingkat kematangannya.
Modal dan cadangan teknis jadi perhatian
AAJI juga menyoroti bahwa skema New RBC yang lebih peka terhadap risiko berpotensi membuat kebutuhan modal naik pada sebagian perusahaan. Tekanan itu terutama dapat dirasakan oleh perusahaan dengan profil risiko atau struktur bisnis tertentu.
Karena itu, AAJI menilai perusahaan asuransi perlu menjaga kecukupan cadangan teknis dan memperkuat pengelolaan risiko. Strategi investasi juga diminta selaras dengan profil liabilitas supaya tekanan modal bisa lebih terkendali.
Dukungan untuk langkah OJK
Di tengah kehati-hatian itu, AAJI tetap mendukung langkah Otoritas Jasa Keuangan dalam mengembangkan kerangka New RBC yang lebih risk-sensitive dan forward-looking. Namun, asosiasi menegaskan bahwa proses transisi harus berjalan bertahap agar stabilitas industri tetap terjaga.
Emira menilai pendekatan kolaboratif dari OJK akan membantu industri beradaptasi. Pilot project dan forum diskusi teknis disebut penting karena dapat memberi ruang penyesuaian sebelum kebijakan diterapkan lebih luas.
Kerangka permodalan yang sedang disusun
Ogi Prastomiyono selaku Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian Penjaminan dan Dana Pensiun OJK mengatakan penyusunan POJK terkait perhitungan solvabilitas perusahaan asuransi dan reasuransi masih berlangsung. Ia juga menilai RBC yang berlaku saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kecukupan modal untuk mengantisipasi risiko secara komprehensif.
Dalam rancangan baru, OJK akan memperkenalkan struktur available capital yang dibagi menjadi dua tingkat. Skema itu mencakup tier 1 sebagai modal inti dan tier 2 sebagai modal tambahan.
Arah pembenahan industri
Bagi AAJI, penyempurnaan New RBC diarahkan untuk memperkuat perhitungan available capital dibanding required capital. Asosiasi menilai arah tersebut strategis karena bisa membantu membangun fondasi industri yang lebih kuat dan lebih adaptif.
AAJI berharap kerangka baru juga mendorong disiplin pengelolaan risiko, kualitas permodalan yang lebih baik, serta ketahanan industri dalam menghadapi dinamika pasar dan potensi tekanan keuangan. Di sisi lain, industri tetap dituntut menyiapkan data, sistem, kemampuan teknis, dan tata kelola risiko agar dapat mengikuti kebijakan permodalan yang baru.
Source: finansial.bisnis.com