Nezar Patria Dorong Aturan Main AI Nasional, Indonesia Bidik Peran Sebagai Arsitek Bukan Sekadar Pengguna

Indonesia mulai menempatkan kecerdasan buatan bukan sekadar sebagai teknologi yang sedang populer, melainkan sebagai agenda tata kelola yang harus diarahkan sejak awal. Di tengah adopsi generative AI yang melonjak cepat secara global, pemerintah ingin memastikan lonjakan minat itu tidak berhenti pada euforia, tetapi berubah menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa roadmap AI nasional perlu menjadi fondasi utama agar pengembangan kecerdasan buatan di Indonesia memiliki arah yang jelas. Ia menilai kerangka seperti itu penting untuk memastikan AI berjalan lebih inklusif, lebih mudah diakses, dan tetap berada dalam jalur inovasi yang terukur.

Tata kelola jadi titik awal

Dalam forum Huawei Partner Summit 2026 di Jakarta, Rabu, 29 April 2026, Nezar menyoroti bahwa persoalan AI saat ini bukan lagi sebatas besar kecilnya peluang. Menurut dia, yang jauh lebih mendesak adalah bagaimana Indonesia mengubah ketertarikan besar terhadap AI menjadi hasil yang benar-benar bisa dirasakan.

Karena itu, roadmap AI nasional dipandang sebagai pijakan strategis untuk memandu transformasi teknologi tersebut. Arah kebijakan yang tegas dinilai akan membantu pemerintah memastikan perkembangan AI tidak berjalan liar, tetapi tetap selaras dengan kebutuhan publik.

Nezar juga menekankan bahwa tata kelola tidak bisa dipisahkan dari pembahasan AI. Tanpa aturan yang jelas, pemanfaatan teknologi berisiko kehilangan arah, padahal pemerintah ingin AI hadir sebagai alat yang melayani masyarakat secara bertanggung jawab.

Dari pengguna menjadi arsitek

Di tengah laju perubahan yang cepat, Indonesia disebut memiliki peluang untuk mengambil posisi yang lebih besar dari sekadar pengguna teknologi. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat bergerak menjadi pihak yang ikut membangun arah pengembangan AI, bukan hanya menerima hasilnya.

Pandangan itu sejalan dengan dorongan agar penerapan AI diarahkan ke sektor-sektor yang langsung menyentuh kehidupan warga. Nezar menyebut layanan kesehatan, pendidikan, dan layanan publik sebagai contoh area yang bisa menunjukkan manfaat konkret sekaligus memperkuat kapasitas nasional.

Penerapan di sektor strategis itu juga dianggap penting karena memberi ruang bagi teknologi untuk benar-benar bekerja bagi kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, AI tidak berhenti sebagai wacana, melainkan hadir sebagai bagian dari layanan yang lebih efektif dan relevan.

Kesenjangan manfaat harus diantisipasi

Selain membangun fondasi kebijakan, Nezar menyoroti perlunya literasi digital dan peningkatan keterampilan masyarakat. Ia menilai manfaat AI tidak boleh hanya terkonsentrasi di kelompok atau wilayah tertentu.

Karena itu, setiap komunitas perlu mendapat kesempatan yang sama untuk merasakan dampak transformasi digital. Penguatan kapasitas ini dipandang sebagai bagian penting dari strategi nasional agar AI dapat digunakan secara lebih merata dan tidak meninggalkan sebagian masyarakat di belakang.

Dorongan tersebut menjadi semakin relevan karena penerimaan publik terhadap AI juga terus menguat. Disebutkan bahwa 76 persen warga menilai AI membawa lebih banyak manfaat daripada kerugian, sementara adopsi generative AI sudah mencapai 53 persen populasi global dalam tiga tahun.

Kolaborasi untuk ekosistem yang sehat

Di sisi lain, Nezar membuka ruang kerja sama yang lebih luas untuk membangun ekosistem AI yang etis, inklusif, dan berdampak. Menurut dia, ekosistem digital kini semakin saling terhubung, sehingga pembangunan AI tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri.

Ia menilai kolaborasi antara Indonesia dan komunitas internasional diperlukan agar sinergi yang dibangun benar-benar memperkuat fondasi tata kelola. Pendekatan kolaboratif juga diharapkan mendukung arah pengembangan AI yang lebih bertanggung jawab di Indonesia.

Dengan kombinasi kebijakan yang jelas, literasi yang lebih merata, dan kerja sama lintas pihak, Indonesia dinilai punya ruang untuk mempercepat pemanfaatan AI tanpa kehilangan kendali atas dampaknya. Dalam situasi seperti itu, yang menentukan bukan hanya seberapa cepat teknologi masuk ke berbagai sektor, tetapi juga bagaimana negara menata aturan main agar manfaatnya benar-benar terasa luas.

Source: www.medcom.id
Exit mobile version