Pabrik EV Proton Diperluas, Permintaan eMas 5 Melampaui Perkiraan dan Mengalahkan Indonesia

Permintaan pasar yang naik cepat membuat Proton Malaysia mengambil langkah yang jarang terlihat di kawasan ini: memperbesar pabrik mobil listrik yang baru berjalan beberapa bulan. Fasilitas di Tanjung Malim itu kini dipercepat ekspansinya agar mampu menampung lonjakan kebutuhan konsumen yang datang lebih cepat dari perkiraan awal.

Keputusan tersebut menempatkan Proton pada posisi yang kontras dengan Indonesia, yang masih belum memiliki mobil nasional yang benar-benar dikembangkan dan diproduksi di dalam negeri. Sementara Indonesia baru menargetkan hadirnya mobil buatan anak bangsa dalam 2-3 tahun lagi, Proton sudah masuk ke fase memperluas kapasitas produksi EV yang sudah aktif.

Lonjakan permintaan dorong ekspansi

Proton mengalokasikan investasi baru sebesar RM37 juta untuk memperbesar pabrik EV di Tanjung Malim. Sebelumnya, fasilitas itu dibangun dengan investasi awal RM82 juta dan mulai beroperasi pada September 2025.

Sebelum diperluas, kapasitas produksinya berada di level 20 ribu unit per tahun. Setelah proyek ekspansi selesai, kapasitas itu akan naik menjadi 42 ribu unit per tahun.

Dorongan terkuat datang dari pasar domestik Malaysia. Proton eMas 5 mencatat pengiriman 8.472 unit sepanjang Januari hingga April 2026 dan menjadi mobil listrik terlaris di negara tersebut.

Lini elektrifikasi ikut menguat

Kinerja Proton tidak hanya bertumpu pada satu model. Dalam empat bulan pertama tahun ini, penjualan gabungan eMas 5, eMas 7, dan eMas 7 PHEV mencapai 11.617 unit.

Angka itu melonjak 329 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa strategi elektrifikasi Proton mulai mendapat sambutan besar dari konsumen Malaysia.

Wakil CEO Proton, Datuk Abdul Rashid Musa, menyebut permintaan pelanggan sudah melampaui proyeksi awal perusahaan. Karena itu, rencana lokalisasi kapasitas produksi yang sebelumnya telah disiapkan kini dipercepat pelaksanaannya.

Bukan sekadar soal volume produksi

Ekspansi pabrik ini tidak diposisikan Proton hanya sebagai upaya menambah output. Perusahaan menempatkannya sebagai bagian dari komitmen untuk membantu pengembangan ekosistem EV Malaysia.

Perluasan aktivitas perakitan lokal akan disertai peluang pengembangan bakat, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan rantai pasok otomotif lokal. Dengan begitu, pabrik di Tanjung Malim tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga bagian dari strategi industri yang lebih luas.

Di sisi lain, perkembangan ini memperlihatkan perbedaan kecepatan antara Malaysia dan Indonesia dalam membangun basis kendaraan listrik nasional. Malaysia sudah punya merek otomotif nasional yang bergerak agresif di segmen EV, lengkap dengan produksi, penjualan, dan rencana ekspansi kapasitas.

Tanjung Malim kini menjadi simbol perubahan itu. Dari fasilitas yang baru berjalan sembilan bulan, Proton langsung menyiapkan peningkatan kapasitas hingga 42 ribu unit per tahun karena produknya diserap pasar jauh lebih cepat dari perkiraan awal.

Source: oto.detik.com
Exit mobile version