Bagi pasar, pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping kali ini dibaca sebagai sinyal yang lebih besar dari sekadar pembicaraan dagang. Fokus utama justru bergeser ke kecerdasan buatan, chip, dan keyakinan bahwa China makin siap menghadapi tekanan teknologi dari AS.
Perhatian investor tidak lagi berhenti pada tarif atau pembatasan ekspor biasa. Reuters melaporkan, pembicaraan itu berpeluang menyentuh pelonggaran pembatasan ekspor chip asal China yang selama ini diterapkan AS, sehingga arah persaingan kedua negara makin dipantau dari sisi teknologi.
AI jadi pusat perhatian pasar
Di Beijing dan Shanghai, sentimen pelaku pasar menunjukkan perubahan yang cukup jelas. Prospek pertumbuhan sektor teknologi China kini lebih menarik perhatian, terutama setelah sejumlah saham di indeks Shanghai Composite naik ke level tertinggi dalam 11 tahun.
Kenaikan itu didorong lonjakan pesanan yang terkait AI. Di saat yang sama, investor juga tampak makin yakin pada kemampuan China membangun ekosistem AI sendiri tanpa terlalu bergantung pada dorongan dari luar.
Surplus perdagangan China yang melebar pun tidak lagi dianggap sebagai hambatan utama. Pasar justru melihat posisi itu sebagai latar belakang yang membuat China tetap punya ruang untuk menahan kemungkinan putaran tarif baru dari AS.
Yuan menguat, sentimen ikut berubah
Penguatan yuan selama setahun terakhir ikut mempertegas perubahan pandangan pasar. Mata uang China itu bahkan mencapai level tertinggi dalam tiga tahun, yang dibaca investor sebagai tanda sentimen yang membaik.
Dalam situasi ini, pertemuan Trump dan Xi lebih sering dipandang sebagai momen untuk membaca arah investasi teknologi. Isu sensitif lain seperti Taiwan, logam tanah jarang, atau senjata nuklir justru tidak menjadi pusat perhatian utama pelaku pasar.
Fokus yang berkembang juga membuat industri mengalihkan portofolio ke arah swasembada AI buatan China. Peta minat ini memperlihatkan bahwa pasar lebih tertarik pada pembangunan infrastruktur AI dan kapasitas domestik ketimbang menunggu hasil negosiasi politik yang cepat.
Perusahaan infrastruktur digital ikut dilirik
Minat investor juga merembet ke saham-saham yang punya hubungan dengan pusat data di Tiongkok. China Mobile dan China Telecom termasuk yang mendapat sorotan karena dianggap memiliki eksposur ke rantai nilai AI yang kian penting.
Wakil manajer umum Tongheng Investment, Yang Tingwu, menilai situasinya sudah berubah. Ia mengatakan China kini hanya ingin membahas sedikit hal dengan Trump, yang menunjukkan kepercayaan diri Beijing dalam menghadapi dinamika baru ini.
Menurut Yang, perang yang belum terselesaikan antara AS dan Iran ikut melemahkan posisi Trump dalam persaingan sektor AI. Dari sudut pandang pasar, kondisi itu menambah alasan untuk menempatkan teknologi China sebagai tema investasi yang lebih menarik.
Persaingan tetap ada, ketegangan mulai mereda
Meski rivalitas teknologi masih kuat, hubungan Washington dan Beijing terlihat sedikit lebih tenang. Pertemuan kedua pemimpin itu dibaca sebagai tanda meredanya ketegangan, sementara pengadilan AS juga telah membatalkan sebagian besar hambatan tarif awal Trump.
Di sisi perdagangan, data menunjukkan barang-barang Tiongkok tetap bisa masuk ke AS melalui Asia Tenggara. Pada saat yang sama, China terus berupaya memperkuat rantai pasokannya di tengah dampak perang Iran dan tekanan geopolitik yang lebih luas.
Investor kini memperhitungkan ketegangan AS-China bukan hanya sebagai risiko, tetapi juga sebagai katalis yang mendorong pengembangan teknologi Tiongkok. Wen Xu menilai China telah membuat kemajuan besar dalam teknologi, mengembangkan ekonomi baru, memperluas pengaruh global, dan meningkatkan daya tawarnya dalam persaingan kekuatan global.
Wen juga menyebut, setelah kunjungan Xi ke AS, kedua negara mungkin memasuki tahap persaingan berikutnya. Untuk saat ini, menurut dia, situasinya masih relatif damai.





