Perez Terjepit Usai Memanggil Mourinho, Barcelona Justru Bisa Mencuri Keuntungan di Bernabeu

Di Madrid, keputusan Florentino Perez memanggil kembali Jose Mourinho justru membuat sorotan berbalik kepadanya. Langkah itu dibaca sebagai tanda bahwa proyek sebelumnya gagal berjalan sesuai rencana, sementara ruang ganti Real Madrid kini masuk fase yang lebih rapuh.

Bagi Barcelona, situasi itu membuka celah yang tidak kecil. Ketika lawan utamanya sibuk merapikan kekacauan internal, Blaugrana bisa memanfaatkan momen untuk menjaga tekanan di jalur perebutan puncak.

Perez berada di bawah tekanan paling besar

Pergantian arah di Bernabeu memperlihatkan bahwa Perez sedang bergerak dalam kondisi terjepit. Ia disebut tidak pernah sepenuhnya nyaman dengan pendekatan modern yang lebih menekankan kerja sama tim ketimbang individualisme, meski Jose Angel Sanchez sempat meyakinkannya untuk menerima arah tersebut.

Masalah muncul saat hasil mulai menurun dan ketegangan di dalam tim makin terasa. Perez kemudian harus memilih antara mempertahankan pelatih yang ingin membangun sesuatu dengan jangka lebih panjang atau merespons tekanan dari kelompok bintang yang tidak puas, dengan Vinicius Jr berada di pusat perhatian.

Pada akhirnya, proyek Xabi Alonso dihentikan setelah hanya enam bulan. Keputusan itu membuat Perez bukan hanya kehilangan arah, tetapi juga menanggung beban politik yang makin berat di sekitar klub.

Mourinho datang sebagai solusi cepat, bukan rencana ideal

Dalam situasi mendesak seperti itu, Mourinho kembali dipandang sebagai opsi yang paling mudah dijangkau. Sosok asal Portugal itu memang punya sejarah di Bernabeu, termasuk membawa Real Madrid meraih Copa del Rey dan gelar liga.

Namun konteks sekarang jauh berbeda dari masa sebelumnya. Madrid tidak sedang menghadapi skuad yang sama, dan ruang ganti yang akan diwarisi Mourinho digambarkan jauh lebih rumit serta dipenuhi ketegangan internal.

Karakter Mourinho yang kontroversial ikut menambah risiko. Gaya kepemimpinannya bisa saja membantu menenangkan keadaan, tetapi ia juga masuk ke lingkungan yang sudah terbelah dan sulit dikendalikan.

Barcelona justru punya alasan untuk tersenyum

Di tengah kekacauan Madrid, Barcelona termasuk pihak yang paling waspada sekaligus bisa diuntungkan. Hansi Flick disebut memahami kualitas Xabi Alonso dan pernah terkesan dengan filosofi sepak bolanya saat berbincang ketika masih menangani timnas Jerman, sehingga penunjukan Alonso sebelumnya sempat dianggap kabar buruk bagi Barca.

Kekhawatiran itu sempat beralasan ketika Madrid memulai musim dengan sangat baik. Kemenangan 2-1 atas Barcelona di El Clasico pertama musim ini bahkan sempat membawa Los Blancos unggul lima poin di puncak klasemen.

Situasinya kini berubah. Dengan Madrid beralih ke langkah darurat, Barcelona melihat lawan utamanya memasuki fase yang lebih sulit daripada saat Alonso masih memimpin proyek itu.

Alonso bisa pulang dengan citra yang lebih baik

Meski akhirnya disingkirkan, Alonso tidak otomatis keluar sebagai pihak yang paling dirugikan. Kekacauan di Madrid justru bisa mengembalikan sebagian reputasinya, karena masalah yang muncul kini terlihat bukan semata soal ide sepak bolanya.

Kondisi itu membuat pembacaan atas perjalanannya di Bernabeu menjadi lebih rumit. Ia meninggalkan kesan bahwa proyek tersebut tersandung oleh tarik-menarik politik dan ketegangan di sekitar tim, bukan hanya oleh kekurangan dalam pendekatan taktik.

Bagi Barcelona, keadaan ini tetap menguntungkan karena rival terdekatnya sedang sibuk mencari stabilitas. Dengan Flick yang sudah meraih gelar juara berturut-turut bersama skuad muda yang solid, Barca kini menghadapi Madrid yang memasukkan Mourinho ke ruang ganti yang belum sepenuhnya pulih dari perpecahan.

Source: www.goal.com
Exit mobile version