Keputusan Federal Reserve untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75% pada April 2026 memang sudah banyak diperkirakan pasar. Namun, yang paling menyita perhatian justru bukan hasilnya, melainkan komposisi voting 8-4 yang menunjukkan perbedaan pandangan tajam di dalam komite.
Sinyal itu penting karena Federal Reserve tidak hanya memberi keputusan kebijakan, tetapi juga mencoba mengarahkan ekspektasi pasar soal langkah berikutnya. Di tengah inflasi yang masih tinggi dan harga energi global yang kembali naik, bank sentral AS memilih tetap menahan diri sambil menunggu bukti yang lebih meyakinkan bahwa tekanan harga benar-benar mereda.
Perpecahan yang jarang terjadi di dalam komite
Empat suara berbeda pendapat dalam Federal Open Market Committee menjadi jumlah dissent terbesar sejak Oktober 1992. Angka itu menunjukkan bahwa kesepakatan internal di tubuh The Fed tidak lagi solid ketika pasar mulai mencari petunjuk kapan pelonggaran kebijakan bisa dimulai lagi.
Stephen Miran kembali mendukung pemangkasan suku bunga seperempat poin, seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya sejak ia bergabung pada September 2025. Di sisi lain, tiga pejabat lain yaitu Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan tidak menolak keputusan untuk menahan suku bunga, tetapi keberatan terhadap sinyal yang masih membuka peluang pelonggaran.
Frasa kecil yang memicu perdebatan besar
Pusat perbedaan pendapat berada pada kalimat dalam pernyataan resmi The Fed yang menyebut komite akan menilai “additional adjustments” terhadap target suku bunga federal funds rate. Bagi tiga pejabat regional itu, frasa tersebut masih terdengar seperti isyarat bahwa langkah berikutnya cenderung turun.
Keberatan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa inflasi belum cukup jinak untuk membuat pelonggaran kembali menjadi pilihan aman. Sejak paruh akhir 2025, bias kebijakan memang cenderung lebih longgar, tetapi kondisi harga yang tetap keras kepala membuat arah tersebut kembali dipersoalkan dari dalam komite.
Inflasi masih panas, tenaga kerja belum melemah
The Fed menilai inflasi masih elevated dan menyoroti dampak kenaikan harga energi global yang baru terjadi. Dalam situasi seperti itu, bank sentral memilih mempertahankan suku bunga meski sebagian pelaku pasar sebelumnya masih melihat ruang untuk pemangkasan lanjutan.
Kondisi pasar tenaga kerja juga belum memberi alasan kuat untuk bergerak cepat. Data nonfarm payrolls Maret naik 178.000, lebih baik dari perkiraan, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%.
Gabungan dua faktor itu membuat The Fed berada dalam posisi yang tidak sederhana. Tekanan harga belum sepenuhnya reda, tetapi ekonomi juga belum menunjukkan tanda perlambatan tajam yang biasa memicu kebijakan lebih longgar.
Ekspektasi pasar ikut bergeser
Reaksi pasar terhadap kombinasi inflasi yang masih kuat dan tenaga kerja yang tetap kokoh menjadi lebih hati-hati. Investor kini menilai tidak ada perubahan suku bunga untuk sisa tahun ini, bahkan sampai 2027.
Pandangan itu lebih konservatif dibanding proyeksi pejabat The Fed pada pertemuan Maret sebelumnya. Saat itu, masih ada perkiraan satu kali pemangkasan pada tahun ini dan satu lagi pada 2027, yang jika terjadi akan membawa suku bunga mendekati level netral sekitar 3,1%.
Transisi pucuk pimpinan ikut membayangi keputusan
Keputusan April ini juga datang saat kepemimpinan The Fed berada dalam fase transisi. Jerome Powell diperkirakan menjalani salah satu pertemuan terakhirnya sebagai ketua, meski ia menyatakan tetap ingin berada di Dewan Gubernur sampai penyelidikan terkait renovasi kantor pusat Federal Reserve selesai.
Powell menegaskan proses itu harus berakhir dengan “transparansi dan finalitas.” Ia juga mengatakan bahwa dalam kondisi normal seorang ketua akan mundur setelah penerus ditetapkan, tetapi situasi kali ini berbeda karena ia ingin menunggu hasil investigasi terlebih dahulu.
Kevin Warsh dan arah kebijakan berikutnya
Di saat yang sama, Senat Banking Committee telah meloloskan nominasi Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya. Pemungutan suara penuh di Senat masih menunggu, sehingga pasar belum bisa membaca secara pasti bagaimana susunan pimpinan baru akan memengaruhi arah kebijakan.
Warsh sebelumnya menyuarakan dukungan untuk meninjau ulang kesepakatan Treasury-Fed dan menyesuaikannya dengan kebutuhan saat ini, ketika kepemilikan surat utang oleh bank sentral mencapai sekitar $6,7 triliun. Namun, jika Powell tetap bertahan di dewan, keseimbangan di FOMC belum tentu langsung berubah karena kursi yang diisi Warsh akan menggantikan posisi Stephen Miran apabila kursi Powell belum kosong.
Dengan inflasi yang masih tinggi, harga energi yang mahal, tenaga kerja yang belum goyah, serta perpecahan suara yang makin terlihat jelas, The Fed kini menghadapi periode yang sulit dibaca. Selama sinyal pelonggaran masih diperdebatkan dari dalam, keputusan berikutnya kemungkinan tetap akan dibuat dengan sikap hati-hati.
Source: www.cnbc.com




