Perpecahan Terbesar Sejak 1992 Warnai Keputusan The Fed Menahan Suku Bunga 3,50 Persen

Pasar keuangan kembali menyorot Federal Reserve setelah bank sentral Amerika Serikat memilih menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Yang membuat keputusan ini berbeda dari pertemuan rutin sebelumnya adalah terbukanya perbedaan pandangan yang sangat tajam di dalam tubuh The Fed.

Komposisi suara 8 berbanding 4 mencatat perpecahan tertinggi sejak 1992 dan langsung menjadi perhatian pasar. Jerome Powell berada di kubu mayoritas yang ingin menjaga kebijakan tetap stabil, sementara empat anggota lain menolak keputusan tersebut.

Tarik ulur antara inflasi dan perlambatan ekonomi

Langkah menahan suku bunga menunjukkan The Fed masih melihat inflasi sebagai ancaman utama. Bank sentral menilai tekanan harga belum sepenuhnya jinak, sehingga pemangkasan suku bunga terlalu cepat dinilai berisiko.

The Fed juga menyoroti kenaikan harga energi global terbaru sebagai faktor yang ikut mendorong tekanan harga. Di saat yang sama, kondisi eksternal seperti konflik di Timur Tengah dan kebijakan tarif Presiden Donald Trump disebut menambah beban biaya energi serta menjaga harga bagi konsumen tetap tinggi.

Dalam situasi seperti ini, ruang untuk pelonggaran kebijakan belum terbuka lebar. The Fed memilih berhati-hati agar tidak memberi dorongan yang justru membuat inflasi bertahan lebih lama.

Pasar tenaga kerja belum runtuh

Di sisi lain, pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan. Data yang disampaikan memperlihatkan penambahan 178.000 pekerja non-pertanian pada Maret, yang menandakan perekrutan masih berlangsung.

Namun, tanda perlambatan juga mulai terlihat. Laporan ADP untuk April menunjukkan pertumbuhan jumlah pekerja swasta mingguan rata-rata berada di angka 40.000 jiwa, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3 persen.

Kombinasi itu memberi gambaran bahwa ekonomi belum memasuki pelemahan tajam. Meski begitu, kekuatan pasar kerja tersebut belum cukup untuk mengubah kekhawatiran The Fed terhadap arah inflasi.

Sinyal dari dalam The Fed makin terbuka

Perbedaan suara dalam pertemuan Federal Open Market Committee kali ini memberi sinyal bahwa penilaian soal risiko ekonomi tidak lagi seragam. Mayoritas pejabat memilih menahan suku bunga sambil tetap membuka ruang bagi pelonggaran di masa mendatang bila kondisi mendukung.

Empat anggota lainnya tidak sejalan dengan pandangan itu. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sebagian pejabat menilai ancaman inflasi dan perlambatan ekonomi dengan bobot yang berbeda.

Bagi pasar, perpecahan 8 berbanding 4 bukan sekadar catatan internal. Angka itu menandakan arah kebijakan moneter belum akan bergerak mulus dan masih sangat bergantung pada perkembangan data berikutnya.

Pasar menunggu langkah selanjutnya

Keputusan kali ini memperkuat sikap wait and see yang sudah lama dominan di The Fed. Bank sentral ingin menjaga fleksibilitas agar tidak terburu-buru mengambil langkah yang justru memperumit stabilitas ekonomi.

Fokus berikutnya tertuju pada seberapa cepat inflasi bisa turun menuju target dua persen. Selama tekanan harga belum mereda, suku bunga acuan tetap menjadi alat utama untuk menahan inflasi tanpa mendorong perlambatan ekonomi lebih jauh.

Baca Juga

Back to top button