Pohon mangga yang sudah terlihat tinggi dan rimbun sering dianggap tinggal menunggu panen. Padahal, ukuran besar tidak selalu berarti pohon itu sudah siap membentuk buah, apalagi jika perawatannya tidak diarahkan dengan benar.
Masalahnya kerap bukan pada pohonnya, melainkan pada kondisi tumbuh yang membuat tanaman terus sibuk memperbanyak daun. Saat energi habis untuk pertumbuhan vegetatif, bunga dan buah justru tertunda atau tidak muncul sama sekali.
Usia dan asal bibit masih menjadi penentu awal
Salah satu hal pertama yang perlu dicek adalah dari mana bibit mangga berasal. Mangga yang tumbuh dari biji umumnya baru berbuah setelah berusia 5 hingga 7 tahun.
Berbeda dengan itu, mangga hasil cangkok atau okulasi biasanya lebih cepat produktif. Pohon dari cara perbanyakan ini umumnya mulai berbuah sekitar 3 hingga 4 tahun setelah ditanam, dan sebagian besar baru benar-benar produktif dalam rentang 3 hingga 5 tahun.
Karena itu, pohon yang belum berbuah belum tentu sedang bermasalah. Bisa saja tanaman itu memang belum sampai pada fase generatif dan masih berada dalam masa tumbuh.
Cahaya yang kurang membuat pohon terus menambah daun
Selain faktor usia, sinar matahari memegang peran besar dalam pembentukan bunga mangga. Tanaman ini membutuhkan cahaya penuh setidaknya 6 hingga 8 jam per hari agar proses fotosintesis dan pembungaan berjalan optimal.
Jika cahaya tidak cukup, pohon cenderung mempertahankan pola tumbuh vegetatif. Akibatnya, tajuk terlihat semakin lebat, tetapi pembungaan tidak terjadi atau hanya muncul sedikit.
Kondisi lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Mangga membutuhkan periode kering untuk memicu pembungaan, sehingga curah hujan yang terlalu tinggi atau kelembapan yang terus-menerus dapat mengganggu proses tersebut.
Pupuk yang terlalu berat ke nitrogen ikut menahan buah
Perawatan yang tampak baik belum tentu tepat untuk fase berbuah. Komposisi pupuk yang tidak seimbang sering membuat mangga subur, tetapi tidak produktif.
Nitrogen yang terlalu tinggi memang mendorong pertumbuhan daun. Namun, unsur ini juga dapat menekan pembentukan bunga bila porsinya berlebihan.
Di sisi lain, kekurangan fosfor dan kalium juga menghambat fase generatif. Kedua unsur itu dibutuhkan untuk mendukung pembentukan bunga dan buah, sehingga keseimbangan hara menjadi jauh lebih penting daripada sekadar membuat pohon tampak hijau.
Pemangkasan yang salah justru menghilangkan calon hasil
Pemangkasan memang penting, tetapi hasilnya bisa berlawanan jika dilakukan tanpa sasaran yang jelas. Cabang produktif yang terlalu sering dipangkas bisa hilang, padahal bagian itulah yang berpotensi menghasilkan bunga.
Sebaliknya, pohon yang dibiarkan terlalu rimbun juga menghadapi masalah. Tajuk yang padat membuat cahaya sulit menembus bagian dalam, sementara energi tanaman lebih banyak terserap untuk menumbuhkan daun.
Pemangkasan yang tepat bertujuan membentuk kanopi, memperbaiki masuknya cahaya, dan merangsang tumbuhnya cabang buah. Jika dilakukan berlebihan, hasil buah bahkan bisa turun selama beberapa musim.
Hama, penyakit, dan penyerbukan sering luput dari perhatian
Pohon mangga yang mengalami stres akibat serangan hama atau penyakit biasanya tidak fokus membentuk buah. Dalam kondisi seperti itu, tanaman lebih sibuk bertahan hidup daripada memunculkan bunga.
Gangguan yang kerap menyerang antara lain kutu putih, ulat, dan penyakit jamur pada batang. Selain itu, antraknosa, embun tepung, bintik hitam mangga, serta kanker bakteri juga tercatat sebagai penyakit yang umum ditemukan.
Dari sisi hama, masalah lain yang sering muncul adalah kumbang biji mangga, penggerek pohon mangga, wereng, dan lalat buah. Jika salah satu gangguan ini muncul, proses pembentukan buah dapat terganggu meski pohon tampak sehat dari luar.
Penyerbukan juga tidak kalah penting. Minimnya penyerbuk alami atau cuaca yang tidak mendukung saat bunga mekar dapat membuat buah gagal terbentuk, walaupun bunga sempat muncul.
Ada kondisi yang lebih jarang, tetapi tetap perlu dipertimbangkan
Dalam situasi yang jarang terjadi, pohon mangga dapat mengalami mutasi genetik. Kondisi ini dapat membuat pohon tidak mau berbuah atau bahkan bersifat mandul.
Jika usia tanaman, cahaya, unsur hara, pemangkasan, hama, penyakit, dan penyerbukan sudah diperiksa tetapi pohon tetap tidak produktif, kemungkinan itu layak dipikirkan. Pada tahap tersebut, menanam pohon mangga baru bisa menjadi pilihan yang paling masuk akal.
Pohon mangga besar yang belum berbuah memang tidak selalu menandakan kegagalan perawatan secara menyeluruh. Pemeriksaan perlu dilakukan bertahap agar penyebabnya bisa dikenali, mulai dari asal bibit, kebutuhan cahaya, keseimbangan nutrisi, teknik pangkas, sampai gangguan hama, penyakit, penyerbukan, dan faktor genetik.