Penyelidikan kepolisian Korea Selatan kembali mengubah arah sorotan atas kasus Kim Soo-hyun dan mendiang Kim Sae-ron. Hasil terbaru menyatakan tuduhan inti bahwa Kim Soo-hyun menjalin hubungan dengan Kim Sae-ron saat masih di bawah umur tidak terbukti.
Meski begitu, keputusan itu belum meredakan perdebatan. Di media sosial, publik justru makin terbelah antara pihak yang menerima hasil penyelidikan dan pihak yang masih mempertanyakan keseluruhan rangkaian kasus.
Bukti yang dipersoalkan
Kasus ini mencuat setelah kanal YouTube HoverLab atau Garosero Research Institute menuduh Kim Soo-hyun pernah berhubungan dengan Kim Sae-ron saat aktris itu masih berusia 15 tahun. Tuduhan tersebut muncul beberapa minggu setelah Kim Sae-ron meninggal dunia pada Februari 2025.
Kanal itu juga mengklaim memiliki materi pendukung, mulai dari tangkapan layar percakapan KakaoTalk, foto pribadi, hingga rekaman suara. Sejumlah materi inilah yang kemudian ikut memicu gelombang reaksi besar di ruang digital.
Sorotan meluas ke agensi dan tekanan publik
Di tengah tuduhan itu, perhatian publik ikut bergeser ke hubungan profesional Kim Sae-ron dengan Gold Medalist, agensi yang juga didirikan bersama Kim Soo-hyun. Isu tentang tekanan utang dan konflik dengan agensi kemudian menyebar luas dan menambah panas perdebatan.
Nama Kim Soo-hyun ikut terseret dalam kritik besar di media sosial global. Dampaknya juga merembet ke kerja samanya dengan sejumlah merek yang berada di bawah sorotan publik.
Sikap Kim Soo-hyun dan langkah hukum
Sejak awal, Kim Soo-hyun membantah tuduhan bahwa dirinya menjalin hubungan dengan Kim Sae-ron ketika sang aktris masih di bawah umur. Dalam konferensi pers pada Maret 2025, pihaknya mengakui adanya hubungan asmara, tetapi menegaskan hubungan itu terjadi saat Kim Sae-ron sudah dewasa.
Setelah itu, tim hukum Kim Soo-hyun menempuh jalur hukum. Gugatan pencemaran nama baik diajukan terhadap operator kanal HoverLab, sejumlah individu, dan pihak lain yang dianggap menyebarkan informasi palsu.
Langkah tersebut memicu rangkaian laporan polisi dan gugatan silang selama berbulan-bulan. Di saat yang sama, potongan informasi terus beredar lebih cepat daripada verifikasi resminya.
Temuan penyidik dan dugaan manipulasi
Pada Kamis (21/5/2026), media Korea Selatan melaporkan isi dokumen investigasi kepolisian. Berdasarkan penyelidikan Seoul Gangnam Police Station, tuduhan bahwa Kim Soo-hyun menjalin hubungan dengan Kim Sae-ron saat masih di bawah umur dinyatakan tidak terbukti.
Polisi juga menyebut pihak yang menyebarkan tuduhan diduga mengetahui bahwa informasi itu tidak memiliki dasar fakta yang valid. Dalam laporan investigasi, penyidik menemukan indikasi manipulasi pada sejumlah materi yang sempat dipublikasikan sebagai bukti.
Tangkapan layar percakapan KakaoTalk disebut telah diedit dengan mengubah identitas lawan bicara. Selain itu, rekaman suara yang beredar diduga dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Penyidik turut menilai penyebaran informasi itu diduga memiliki motif ekonomi. Keuntungan dari trafik YouTube, donasi, dan eksposur publik disebut menjadi bagian dari dugaan motif tersebut.
Langkah lanjutan dan efek ke ruang publik
Mengutip Koreajoongangdaily, kepolisian Korea Selatan juga mengajukan permohonan surat perintah penangkapan terhadap operator HoverLab, Kim Se-ui. Polisi menuduhnya menyebarkan informasi palsu dan bukti yang telah dimanipulasi demi keuntungan finansial serta peningkatan popularitas kanal.
Dalam dokumen investigasi, polisi menilai sejumlah bukti digital sengaja dimodifikasi untuk membangun narasi tertentu di hadapan publik. Pengacara yang mewakili keluarga Kim Sae-ron juga dilaporkan ikut masuk dalam proses investigasi karena diduga turut menyebarkan materi yang dianggap bermasalah.
Kasus ini kemudian memunculkan diskusi yang lebih luas tentang etika media digital di Korea Selatan. Sorotan utama mengarah pada penggunaan bukti digital yang belum diverifikasi secara forensik sebelum disebarkan ke publik.
Publik masih terbelah
Walau hasil penyelidikan polisi menyatakan tuduhan terhadap Kim Soo-hyun tidak terbukti, reaksi netizen tetap beragam. Di platform seperti X, Reddit, TikTok, dan YouTube, sebagian pengguna menyatakan simpati kepada Kim Sae-ron dan menilai sang aktris mengalami tekanan berat akibat rumor serta sorotan publik.
Sebagian lainnya masih menilai dugaan manipulasi bukti belum cukup untuk menutup semua pertanyaan di balik kasus ini. Ketidakpercayaan terhadap institusi hukum Korea Selatan juga ikut memengaruhi perdebatan yang terus berlangsung.
Di sisi lain, banyak penggemar mendukung hasil investigasi polisi dan menilai Kim Soo-hyun menjadi korban penghakiman publik di media sosial. Perpecahan opini itu membuat kasus ini tetap menjadi topik hangat di komunitas hiburan Korea dan Asia.
Sejumlah pengguna media sosial juga menyebut Kim Sae-ron sebagai simbol kerasnya tekanan dalam industri hiburan Korea Selatan. Isu ini kini berkembang bukan hanya sebagai perkara hukum, tetapi juga sebagai cerminan besarnya dampak rumor, cancel culture, dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi di ruang digital.
Source: www.beritasatu.com