Di Wina, Austria dan Tunisia sama-sama datang dengan kepentingan yang lebih besar daripada label laga uji coba. Pertemuan di Ernst-Happel-Stadion ini menjadi kesempatan untuk mengukur kesiapan dua tim yang sedang membangun modal menuju Piala Dunia 2026.
Austria memang berada di posisi yang lebih nyaman karena sudah memastikan tiket ke putaran final. Tim asuhan Ralf Rangnick menutup kualifikasi dengan status pemuncak Grup H dan membawa modal enam kemenangan dari delapan laga.
Austria ingin menjaga ritme permainan
Kesiapan Austria terlihat bukan hanya dari hasil, tetapi juga dari cara mereka bermain selama kualifikasi. Rangnick diperkirakan tetap menuntut pressing tinggi dan tempo cepat, dua ciri yang sudah lama melekat pada tim ini.
Bermain di kandang memberi Austria ruang untuk mengambil kendali sejak awal. Mereka juga punya banyak opsi di lini tengah untuk menjaga intensitas dan aliran bola.
Nama Florian Grillitsch sempat diragukan tampil karena cedera ringan. Namun, Austria masih memiliki Xaver Schlager dan Nicolas Seiwald yang bisa menjaga keseimbangan dalam distribusi bola serta transisi permainan.
Di lini depan, Austria tetap bertumpu pada Marko Arnautovic. Penyerang veteran itu mencetak delapan gol selama kualifikasi dan masih menjadi sosok yang diandalkan untuk menyelesaikan peluang.
Tunisia membangun ulang komposisi terbaik
Berbeda dengan Austria yang sudah aman, Tunisia menjadikan laga ini sebagai bagian penting dari pembentukan tim. Sabri Lamouchi sedang merapikan komposisi dan organisasi permainan setelah menggantikan Sami Trabelsi usai Piala Afrika.
Tunisia datang dengan skuad yang disebut dalam kondisi sepenuhnya bugar. Situasi itu memberi Lamouchi keleluasaan untuk mempertahankan susunan utama, termasuk setelah hasil imbang 0-0 melawan Kanada.
Bagi Tunisia, persiapan ini tidak berdiri sendiri. Mereka sedang menatap Grup F Piala Dunia 2026 yang berisi Swedia, Jepang, dan Belanda, sehingga pertahanan dan efisiensi serangan harus lebih rapi sejak sekarang.
Lamouchi diprediksi memilih pendekatan yang lebih hati-hati saat menghadapi Austria. Tunisia kemungkinan lebih menunggu momen untuk melancarkan serangan balik cepat lewat Tounekti dan Gharbi.
Keunggulan psikologis ada di pihak Austria
Secara historis, Austria juga membawa kelebihan kecil dari rekor pertemuan. Dalam tiga duel terakhir melawan Tunisia, Austria belum kalah dengan catatan satu kemenangan dan dua hasil imbang.
Catatan itu memberi tambahan kepercayaan diri bagi tim tuan rumah sebelum laga dimulai. Di sisi lain, Tunisia tetap bisa memanfaatkan kondisi skuad yang segar untuk menjaga disiplin sepanjang pertandingan.
Di bawah mistar, Dahmen diperkirakan kembali menjadi penjaga gawang Tunisia. Lini belakang mereka akan ditopang Valery, Arous, Ben Hamida, dan Abdi, sementara sektor tengah diisi Ayari, Khedira, Skhiri, dan Tounekti.
Austria diperkirakan lebih banyak menguasai bola dan menekan lawan lewat permainan agresif. Tunisia harus menjaga jarak antarlini agar tidak terjebak terlalu dalam saat menghadapi tekanan tinggi ala Rangnick.
Laga ini pada akhirnya menjadi panggung taktik bagi dua pelatih yang sama-sama ingin menguatkan detail permainan sebelum tantangan yang lebih besar datang di Piala Dunia 2026. Austria memang lebih diunggulkan untuk menang tipis, tetapi Tunisia masih punya peluang menciptakan ancaman jika mampu memanfaatkan ruang transisi dengan tepat.
Source: mediaindonesia.com