Uji coba registrasi kartu SIM dengan verifikasi biometrik wajah ternyata bergerak cepat. Dalam empat bulan pengujian, sistem ini sudah dipakai lebih dari 1,4 juta kali dan menunjukkan bahwa layanan tersebut mulai diterima pengguna.
Kementerian Komunikasi dan Digital menilai capaian itu penting karena registrasi berbasis wajah sedang disiapkan untuk pelanggan baru. Fase uji coba dipakai untuk memastikan sistem siap melayani skala besar tanpa mengganggu proses registrasi yang berjalan setiap hari.
Registrasi tetap dibuat sederhana
Alur pendaftaran masih mengikuti pola yang familier bagi pengguna kartu SIM. Setelah membeli kartu, pelanggan masuk ke aplikasi atau platform operator, lalu mengisi nomor telepon, Nomor Induk Kependudukan, dan kode OTP.
Setelah itu, pengguna diminta mengambil foto wajah. Foto tersebut kemudian dienkripsi sebelum dikirim ke Dukcapil untuk dicocokkan dengan data kependudukan.
Komdigi menegaskan operator seluler tidak menyimpan data biometrik pelanggan. Operator hanya menerima hasil verifikasi berupa status cocok atau tidak cocok, sementara data kependudukan tetap berada di sistem Dukcapil.
Fokus awal masih pada pelanggan baru
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menjelaskan kebijakan biometrik wajah dimulai dari skema sukarela. Langkah itu diambil karena aturan yang ada saat ini masih berfokus pada registrasi baru.
Pendekatan bertahap juga dipilih karena pemerintah ingin menguji kesiapan operator seluler dan integrasi dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Pertimbangan lain datang dari besarnya skala pengguna kartu SIM di Indonesia.
Komdigi mencatat jumlah nomor aktif di Indonesia saat ini sekitar 295 juta. Dari total itu, sekitar 97 persen merupakan pelanggan prabayar.
Cepat diproses di sejumlah daerah
Selama pengujian di beberapa wilayah, proses registrasi disebut berjalan singkat. Di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh, Kalimantan, dan Yogyakarta, sebagian besar pendaftaran selesai dalam waktu kurang dari satu menit.
Komdigi juga menyebut tingkat akurasi teknologi pencocokan biometrik yang dipakai berada di sekitar 96 persen. Pada tahap awal, sempat ada kendala teknis, tetapi performa sistem kini dinilai jauh lebih stabil dibandingkan saat pertama kali diuji.
Partisipasi pengguna terus bertambah
Saat ini, registrasi pelanggan baru berlangsung sekitar 300 ribu per hari. Angka itu membuat uji coba dilakukan secara hati-hati sebelum kebijakan diterapkan lebih luas.
Hingga kini, program uji coba biometrik wajah sudah mencatat sekitar 1,4 juta registrasi. Komdigi memperkirakan jumlah itu bisa naik menjadi sekitar 1,6 juta hingga 1,7 juta registrasi dalam waktu dekat seiring bertambahnya partisipasi pengguna dan perluasan implementasi di gerai operator seluler.
Untuk pelanggan lama, penggunaan biometrik wajah masih bersifat sukarela. Pemerintah menekankan bahwa penerapan penuh untuk pelanggan baru akan mengikuti mekanisme registrasi yang sedang disiapkan, sehingga fase uji coba ini menjadi bagian penting dalam memastikan layanan siap menghadapi beban besar.
Source: www.medcom.id




