Kurban Muhammadiyah Jawa Tengah tahun ini tidak lagi berhenti sebagai pembagian daging segar. Dari ratusan sapi yang dikelola, hasil kurban justru diarahkan menjadi cadangan pangan darurat yang bisa dipakai saat bencana atau untuk wilayah 3T.
Program itu juga mencatat perputaran dana yang menembus lebih dari Rp 9 miliar. Di balik angka tersebut, Muhammadiyah Jawa Tengah ingin membuat kurban punya manfaat yang lebih panjang, tidak hanya habis dalam distribusi sesaat.
Produk yang disiapkan dalam skema ini adalah Rendangmu dari Lazismu Muhammadiyah Jawa Tengah. Daging kurban diolah menjadi makanan kaleng yang diposisikan sebagai logistik darurat dengan daya simpan hingga dua tahun.
Ketua PWM Jawa Tengah, Tafsir, menyebut langkah ini sebagai bagian dari tajdid atau pembaruan di tubuh Muhammadiyah. Ia menyampaikan hal itu usai menjadi khatib salat Iduladha di halaman Masjid Ukhuwah Islamiyah, Banyumanik, Semarang.
Tafsir menegaskan bahwa target dana kurban tahun ini sudah tercapai. Ia menyebut capaian itu sebagai tanda pengelolaan kurban yang terus bergerak ke arah yang lebih matang.
Pengolahan daging kurban dilakukan bersama pihak ketiga di Denpasar, Bali. Alasan pemilihan lokasi itu karena fasilitas sterilisasi tingkat industri baru tersedia secara optimal di Pulau Dewata.
Dengan pengolahan tersebut, rendang kaleng tidak hanya disiapkan untuk kondisi darurat di dalam negeri. Produk itu juga diarahkan untuk kebutuhan luar negeri dan terutama untuk dikirim ke daerah terdepan, terbelakang, dan tertinggal.
Model ini membuat dana kurban bernilai miliaran rupiah tidak berhenti pada distribusi singkat. Program tersebut disusun sebagai sabuk pengaman logistik bagi wilayah yang sulit dijangkau dan membutuhkan pasokan cepat serta tahan simpan.
Skala program kurban Muhammadiyah Jawa Tengah juga terus membesar dari tahun ke tahun. Tahun lalu, pengolahan serupa mencakup 380 ekor sapi dengan dana Rp 8 miliar.
Kenaikan ke lebih dari Rp 9 miliar tahun ini memperlihatkan pola pengelolaan yang makin solid. Di saat yang sama, fokusnya bergeser dari daging segar semata menuju ketahanan gizi jangka panjang untuk daerah yang paling rentan terhadap krisis pasokan.
Source: suaraaisyiyah.id