Pilihan handheld gaming PC yang tampak paling baru tidak selalu berarti paling kuat. Dalam kasus ROG Xbox Ally, perangkat itu justru kalah tenaga dari ROG Ally generasi awal saat dipakai untuk game PC berat.
Perbandingan ini membuat sebagian pembeli harus berpikir ulang sebelum tergoda nama baru. Jika fokus utamanya adalah menjalankan game modern secara lokal dengan frame rate setinggi mungkin, model lama masih terlihat lebih masuk akal.
Perbedaan paling besar ada pada chip yang dipakai. ROG Xbox Ally mengandalkan Ryzen Z2-A, sedangkan ROG Ally 2023 memakai Ryzen Z1 Extreme.
Di atas kertas, keduanya juga berada di kelas yang jauh berbeda. Z2-A membawa CPU quad-core Zen 2 dan GPU 8 compute unit RDNA 2, sementara Z1 Extreme hadir dengan CPU 8-core Zen 4 dan GPU 12-core RDNA 3.
Itu sebabnya ROG Ally orisinal masih unggul dalam tenaga mentah meski usianya lebih tua. Untuk pemain yang menjadikan handheld sebagai mesin utama game berat, selisih ini sangat menentukan.
Performa masih memihak model lama
Kondisi tersebut paling terasa saat melihat game yang menuntut daya besar. Judul seperti Cyberpunk 2077, Black Myth: Wukong, hingga game besar mendatang seperti The Witcher 4 disebut lebih diuntungkan oleh tenaga ekstra milik Z1 Extreme.
Dalam skenario pengaturan agresif dengan bantuan AMD FSR, ROG Ally lama masih disebut mampu mengejar 40-60 FPS di banyak kasus. Sementara itu, ROG Xbox Ally diperkirakan akan kesulitan mempertahankan 30 FPS pada setelan yang sama.
Karakter ini membuat posisi perangkat baru cukup rumit. Biasanya model yang lebih baru diharapkan membawa peningkatan performa, bukan justru tertinggal pada aspek utama yang paling dicari gamer berat.
Kelebihan Xbox Ally ada di sisi lain
Meski kalah bertenaga, ROG Xbox Ally tetap punya daya tarik tersendiri. ASUS meningkatkan kapasitas baterai dari 40Wh pada ROG Ally lama menjadi 60Wh pada model baru.
Dipadukan dengan chip yang lebih hemat daya, perangkat ini lebih cocok untuk sesi bermain ringan yang lebih panjang. Pola penggunaan seperti itu terasa relevan untuk game indie, emulasi, dan cloud gaming.
Bagi pengguna yang lebih sering bermain judul ringan atau mengandalkan Xbox Cloud Gaming, pendekatan ini bisa terasa lebih pas. Dukungan antarmuka juga ikut diperbaiki lewat Xbox UI berbasis Windows yang dibuat lebih mulus dan lebih mudah dinavigasi.
Desain grip pada perangkat baru pun dibuat lebih dekat dengan kontroler Xbox tradisional. Hasilnya, genggaman terasa lebih akrab bagi banyak pemain.
Harga ikut mendorong pilihan ke arah lama
Faktor biaya semakin memperkuat posisi ROG Ally generasi awal. ROG Xbox Ally disebut dibanderol sekitar 60,000 rupees, sedangkan OG ROG Ally dijual di ASUS official store seharga 39,999 rupees.
Dengan selisih itu, model lama menawarkan rasio harga terhadap performa yang lebih kuat. Bahkan ketika stok baru semakin sulit dicari, pasar bekas masih disebut sebagai jalur paling efektif untuk mendapatkan OG ROG Ally.
Di kelas harganya, perangkat lawas itu tetap dianggap sebagai salah satu handheld gaming PC paling bertenaga. Ada juga alternatif lain yang patut dilirik, yaitu ROG Ally X bekas, terutama bagi pembeli yang ingin tetap berada di lini Ally tanpa mengorbankan performa.
Pada akhirnya, pilihan paling masuk akal bergantung pada prioritas masing-masing pengguna. Jika targetnya game PC modern secara lokal dan frame rate setinggi mungkin, ROG Ally lama dengan Ryzen Z1 Extreme masih lebih logis. Jika yang dicari justru baterai lebih awet, pengalaman pakai yang lebih praktis, dan fokus ke game ringan atau cloud gaming, ROG Xbox Ally tetap punya tempatnya.
Source: tech.sportskeeda.com




