Krisis energi yang menekan Sri Lanka kini mendorong pemerintahnya bergerak lebih jauh untuk mengamankan pasokan bahan bakar. Di tengah tekanan ekonomi yang belum reda, negara itu membuka pembicaraan dengan Rusia dan China untuk membeli minyak mentah serta bahan bakar olahan.
Langkah tersebut diambil saat pasar energi global ikut terguncang oleh konflik yang melibatkan Iran. Bagi Sri Lanka, gangguan itu menambah berat beban negara yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor bahan bakar.
Negosiasi dengan Rusia dan China masih berjalan
Menteri Energi Sri Lanka Anura Karunathilake mengatakan pembicaraan dengan Rusia dan China sudah berlangsung sekitar dua bulan dan menunjukkan perkembangan positif. Namun, beberapa detail teknis masih harus diselesaikan sebelum kesepakatan dapat bergerak lebih jauh.
Dalam pembahasan dengan Rusia, isu utama masih berkisar pada mekanisme pembayaran impor. Sementara itu, negosiasi dengan China masih menunggu kesepakatan harga pasokan agar pengiriman bisa berjalan.
Pemerintah Sri Lanka menyatakan tidak mempersoalkan mata uang pembayaran. Meski begitu, pelaksanaan teknis tetap menjadi perhatian agar transaksi sesuai kebutuhan nasional dan tidak menghambat pasokan.
Cadangan domestik dijaga lewat langkah darurat
Di dalam negeri, pemerintah sudah mengambil serangkaian kebijakan untuk menahan tekanan konsumsi energi. Harga bahan bakar dinaikkan hingga 40%, penjualan kepada masyarakat dibatasi, dan Rabu ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Langkah-langkah itu menggambarkan betapa rapuhnya kondisi pasokan energi saat ini. Pemerintah harus menjaga kebutuhan energi tetap terpenuhi tanpa memperburuk situasi fiskal yang sudah lemah.
Saat ini, sebagian besar pasokan energi Sri Lanka masih datang dari Singapura dan India. Kebutuhan minyak mentah dipenuhi lewat impor dari Uni Emirat Arab, sementara pengiriman bahan bakar berbasis tender disebut aman hingga Agustus.
Pelonggaran sanksi membuka ruang baru
Sri Lanka juga memanfaatkan relaksasi sanksi sementara dari Amerika Serikat yang berlaku hingga 17 Juni. Kelonggaran itu dinilai memberi ruang untuk mempercepat pembelian minyak dari Rusia, terutama minyak mentah yang dibutuhkan untuk menjalankan satu-satunya kilang minyak nasional.
Selain minyak mentah, pemerintah juga mempertimbangkan impor bahan bakar olahan dari Rusia dan China. Opsi ini dianggap penting untuk memperkuat cadangan energi domestik di tengah gangguan pasokan internasional.
Di saat jalur pasokan tradisional masih berjalan, pemerintah tetap mencari alternatif agar risiko kelangkaan dapat ditekan. Pendekatan itu menunjukkan upaya Sri Lanka memanfaatkan perubahan kebijakan global untuk menjaga suplai di dalam negeri.
Tekanan ekonomi ikut membesar
Krisis energi tidak hanya berdampak pada pasokan, tetapi juga menyeret kondisi ekonomi Sri Lanka. Pemerintah baru menaikkan tarif listrik sebesar 18% sebagai bagian dari program pemulihan ekonomi senilai US$ 2,9 miliar yang didukung International Monetary Fund atau IMF.
Program itu merupakan kelanjutan dari pemulihan setelah krisis keuangan besar yang melanda negara tersebut sekitar empat tahun lalu. Di tengah penyesuaian itu, rupe Sri Lanka terus melemah dan menambah beban pada perekonomian domestik.
Sejak awal Maret 2026, nilai tukar rupe disebut turun sekitar 8,7%. Pada 25 Mei 2026, kurs rupe berada di kisaran 336 rupe per dolar AS, yang menandakan tekanan pasar mata uang masih tinggi.
Pelajaran dari upaya impor energi di Asia
Situasi Sri Lanka juga mencerminkan tantangan yang dihadapi sejumlah negara Asia lain saat mengamankan pasokan energi dari Rusia. Indonesia sempat menyampaikan rencana impor sekitar 150 juta barel minyak mentah Rusia dalam setahun setelah pertemuan antara Prabowo Subianto dan Vladimir Putin.
Namun, realisasi rencana itu tidak mudah karena Pertamina harus menyesuaikan kerangka regulasi agar tetap sesuai dengan ketentuan obligasi global, terutama di tengah tekanan sanksi dari negara-negara Barat. Pelaku perdagangan minyak juga menyoroti keterbatasan tanker dan rumitnya logistik pengiriman dalam jumlah besar.
Hingga kini, dilaporkan baru satu kargo minyak Rusia yang berhasil masuk ke Indonesia. Kondisi itu memperlihatkan bahwa pencarian pasokan energi alternatif bukan hanya soal harga, tetapi juga soal pembayaran, regulasi, logistik, dan risiko geopolitik yang saling terkait.
Source: www.beritasatu.com




