Rupiah Pernah Menyentuh Rp17.700, Posisi Ini Masih Kalah Dari Beberapa Mata Uang ASEAN

Di antara sejumlah mata uang Asia Tenggara, rupiah menjadi salah satu yang paling banyak disorot ketika sempat bergerak ke kisaran Rp17.700 per dolar AS. Pergerakan itu membuat posisi Indonesia kembali dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang kursnya tampil sangat beragam.

Namun, angka nominal di layar pasar tidak selalu memberi gambaran utuh tentang kekuatan ekonomi. Di kawasan ASEAN, ada mata uang yang tampak sangat lemah terhadap dolar AS, tetapi ekonominya tetap menarik bagi investor global.

Rupiah berada di kelompok mata uang yang tertekan

Sepanjang 2026, rupiah masuk dalam kelompok mata uang yang paling tertekan di Asia Tenggara. Tekanan itu muncul dari penguatan dolar AS, keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik, dan ketidakpastian ekonomi global.

Bank Indonesia tetap melakukan langkah stabilisasi untuk menahan pelemahan yang lebih dalam. Kondisi ini membuat rupiah sensitif terhadap perubahan sentimen pasar, terutama saat tekanan eksternal masih tinggi.

Posisi rupiah jika dibandingkan dengan mata uang ASEAN

Jika dilihat dari nilai tukar terhadap dolar AS, rupiah memang berada di kelompok bawah. Di atas rupiah masih ada dong Vietnam, kip Laos, dan riel Kamboja yang sama-sama mencatat angka kurs besar terhadap dolar AS.

Gambaran mata uang Asia Tenggara pada 2026 menunjukkan variasi yang lebar, dari yang paling lemah hingga yang paling kuat terhadap dolar AS. Dong Vietnam berada di sekitar 26.000 per dolar AS, kip Laos sekitar 22.000 per dolar AS, dan rupiah sempat menyentuh Rp17.700 per dolar AS.

Di bawah angka itu, riel Kamboja berada di sekitar 4.000 per dolar AS, sedangkan kyat Myanmar berada di atas 2.000 per dolar AS. Peso Filipina bergerak di kisaran 56 hingga 61 per dolar AS, sementara baht Thailand berada di sekitar 33 hingga 37 per dolar AS.

Sementara itu, dolar Brunei dan dolar Singapura sama-sama berada di sekitar 1,34 per dolar AS. Ringgit Malaysia tercatat di kisaran 3,9 hingga 4,3 per dolar AS.

Nominal kurs bukan ukuran tunggal

Perbandingan kurs sering menimbulkan kesan bahwa mata uang yang nilainya lebih rendah berarti ekonominya lebih lemah. Padahal, angka nominal tidak bisa dipakai sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai daya saing ekonomi suatu negara.

Vietnam menjadi contoh penting karena dong Vietnam terlihat sangat rendah terhadap dolar AS, tetapi ekonominya tumbuh cepat dan tetap menjadi tujuan investasi manufaktur global. Indonesia pun berada dalam situasi serupa, karena pelemahan rupiah perlu dicermati tanpa menyederhanakan penilaian terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Pertumbuhan ekonomi, inflasi, investasi, dan daya beli masyarakat tetap memegang peran penting. Karena itu, kurs hanya memberi salah satu potret dari kondisi ekonomi, bukan gambaran lengkapnya.

Mata uang yang lebih kuat di kawasan

Di antara negara-negara ASEAN, ringgit Malaysia tercatat sebagai mata uang terkuat pada 2026. Kisaran 3,9 hingga 4,3 per dolar AS mencerminkan dukungan dari perbaikan ekonomi, peningkatan investasi asing, dan stabilitas kebijakan moneter.

Dolar Singapura juga tetap menonjol berkat stabilitas sistem keuangan, kuatnya sektor jasa keuangan, dan tingginya kepercayaan investor global. Dolar Brunei ikut mempertahankan posisi kuat karena stabilitas ekonomi dan peran sektor energi sebagai penopang utama.

Baht Thailand juga menunjukkan kondisi yang lebih stabil dibanding beberapa mata uang ASEAN lain. Pemulihan sektor pariwisata membantu menopang cadangan devisa Thailand dan memberi dukungan tambahan pada mata uang negara itu.

Negara lain masih menghadapi tekanan yang berbeda

Di sisi lain, kip Laos masih tertekan oleh utang luar negeri yang tinggi dan inflasi domestik. Kyat Myanmar juga masih dipengaruhi ketidakstabilan politik dan ekonomi.

Peso Filipina bergerak dalam tekanan karena kebutuhan impor yang tinggi dan permintaan dolar AS untuk perdagangan internasional. Riel Kamboja tetap relatif stabil karena penggunaan dolar AS di dalam negeri masih cukup dominan dalam aktivitas ekonomi harian.

Dengan latar yang berbeda-beda itu, posisi rupiah tidak bisa dilepaskan dari dinamika masing-masing negara di kawasan. Perbandingan nominal hanya memperlihatkan satu sisi, sementara kekuatan ekonomi tetap ditentukan oleh banyak faktor lain yang bekerja bersamaan.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version