Rusia Diajak Masuk Proyek Rel Lintas Pulau RI, AHY Soroti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan

Pembahasan soal kerja sama perkeretaapian antara Indonesia dan Rusia kini mengarah ke proyek yang jauh lebih besar dari sekadar rel antarkota. Pemerintah membuka peluang bagi Rusia untuk terlibat dalam pengembangan jaringan kereta strategis yang mencakup Trans Sumatra, Trans Sulawesi, dan Trans Kalimantan.

Langkah ini menunjukkan bahwa kebutuhan transportasi rel di Indonesia sudah masuk tahap ekspansi besar. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan konektivitas yang lebih kuat agar mobilitas warga dan pergerakan ekonomi antardaerah bisa berjalan lebih lancar.

Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan bahwa pembangunan rel menjadi bagian penting dari upaya memperkuat hubungan antarpulau. Ia menilai jaringan kereta yang lebih luas dapat membantu pemerataan pertumbuhan ekonomi, terutama di luar Jawa.

Tiga koridor yang tengah disiapkan itu dipandang sebagai pintu pembuka pusat-pusat ekonomi baru. Karena itu, pemerintah melihat keterlibatan mitra asing, termasuk Rusia, sebagai salah satu opsi untuk mempercepat pengembangan infrastruktur tersebut.

Ruang kerja sama tidak hanya soal pembangunan rel

AHY menyebut kolaborasi dengan Rusia tidak dibatasi pada pembangunan jalur kereta saja. Pemerintah juga membuka kesempatan kerja sama di bidang teknologi perkeretaapian, manufaktur, dan sistem transportasi modern.

Bidang yang ditawarkan mencakup produksi sarana kereta, komponen infrastruktur, serta rekayasa sistem transportasi. Ruang kerja sama itu juga meluas ke pengembangan kereta cepat dan sistem angkutan berat atau heavy-haul rail.

Selain itu, pemerintah membuka peluang untuk transportasi rel yang rendah emisi karbon. Pelatihan sumber daya manusia dan riset di sektor transportasi juga masuk dalam cakupan yang dibahas.

Modernisasi industri ikut jadi sasaran

Pemerintah tidak hanya mengejar pembangunan fisik jaringan rel. Di saat yang sama, modernisasi industri perkeretaapian juga ingin didorong agar sistem transportasi nasional menjadi lebih maju dan kompetitif.

Peningkatan standar operasional dan keselamatan menjadi bagian dari agenda yang ditawarkan. Dengan pendekatan itu, kerja sama yang dibuka tidak berhenti pada pembangunan jalur, tetapi juga menyentuh ekosistem industri pendukungnya.

AHY menilai kebutuhan transportasi perkotaan modern dan ramah lingkungan juga terus meningkat. Hal ini sejalan dengan bertambahnya mobilitas masyarakat di kota-kota besar Indonesia.

Pengalaman Rusia dinilai relevan

Dalam pembahasan itu, AHY menyoroti pengalaman Rusia dalam mengelola transportasi publik. Salah satu contoh yang disebut adalah Metro Moskow, yang dikenal sebagai salah satu jaringan transportasi publik terbesar dan tersibuk di dunia.

Pengalaman tersebut dinilai bisa menjadi referensi yang berguna bagi Indonesia. Apalagi, pemerintah terus mempercepat pengembangan MRT, LRT, dan kereta rel komuter untuk menjawab kebutuhan mobilitas dan mengurangi kemacetan.

Pembahasan mengenai peluang kolaborasi ini dilakukan saat AHY bertemu Menteri Transportasi Rusia Andrey Nikitin di Moskow. Pertemuan itu menjadi ruang untuk menjajaki kerja sama yang lebih luas di bidang infrastruktur dan konektivitas.

Dialog kedua pihak juga memperlihatkan upaya mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Rusia. Sektor transportasi menjadi salah satu area yang dianggap strategis karena berkaitan langsung dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Di tengah rencana pengembangan jaringan rel nasional, tawaran keterlibatan Rusia memberi sinyal bahwa Indonesia ingin memperluas mitra kerja sekaligus mempercepat proyek strategis lintas pulau. Fokusnya tetap sama, yakni memperkuat konektivitas, mendorong pemerataan ekonomi, dan membangun sistem transportasi yang lebih modern serta terintegrasi.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button