Rutinitas Pagi Ini Tanpa Disadari Memicu Kecemasan, Dari Kopi Hingga Ponsel

Pagi sering dianggap sebagai waktu untuk memulai hari dengan tenang. Namun, sejumlah kebiasaan kecil yang dilakukan tepat setelah bangun tidur justru dapat membuat tubuh lebih cepat masuk ke mode stres dan memicu rasa gelisah.

Psikolog Dr. Anna Elton dan Dr. Debra Kissen menyoroti bahwa morning anxiety tidak selalu muncul tanpa pemicu yang jelas. Dalam banyak kasus, kebiasaan sederhana yang terasa biasa saja dapat memperkuat kecemasan sejak awal hari.

Tekanan kecil yang muncul begitu bangun

Salah satu kebiasaan yang sering diremehkan adalah menekan tombol snooze berulang kali. Bagi sebagian orang, tindakan ini terasa seperti memberi jeda singkat sebelum benar-benar harus bangun.

Dr. Anna Elton menilai kebiasaan tersebut justru dapat memicu lonjakan stres berulang pada tubuh. Akibatnya, pagi terasa tidak stabil sejak awal karena tubuh terus menerima sinyal stres kecil yang menumpuk.

Hal serupa juga terjadi ketika ponsel langsung dibuka begitu mata baru terbuka. Notifikasi, email pekerjaan, berita, dan media sosial bisa mendorong otak langsung bereaksi sebelum sempat benar-benar tenang.

Dr. Elton menekankan bahwa otak masih sangat sensitif di pagi hari. Saat sistem saraf belum sempat tenang, paparan informasi yang memicu stres datang terlalu cepat dan membuat pikiran lebih mudah gelisah.

Minum kopi tanpa jeda juga ikut berpengaruh

Kebiasaan lain yang sering dilakukan adalah langsung menyeruput kopi setelah bangun. Pada saat itu, tubuh umumnya masih dalam kondisi dehidrasi ringan setelah tidur.

Dalam kondisi seperti ini, detak jantung dan hormon stres dapat ikut meningkat. Jika kopi diminum saat perut kosong, rasa gelisah bisa terasa lebih kuat dari biasanya.

Kafein juga dapat membuat tubuh lebih sensitif terhadap kecemasan. Efek ini terutama terasa pada orang yang memang mudah overthinking di pagi hari.

Cahaya pagi dan beban rencana harian

Selain kebiasaan yang terkait dengan stimulan dan layar, lingkungan pagi juga memegang peran penting. Cahaya matahari pagi membantu menjaga keseimbangan hormon tubuh, termasuk kortisol.

Jika dalam satu jam pertama setelah bangun tubuh tidak mendapat cukup cahaya, ritme tubuh bisa terasa tidak sinkron. Kondisi ini dapat memengaruhi suasana hati dan membuat rasa cemas bertahan lebih lama sepanjang hari.

Di sisi lain, terlalu banyak merencanakan hari sejak pagi juga bisa menjadi pemicu. Membuat daftar tugas memang membantu hari terasa lebih terarah, tetapi target yang terlalu banyak dapat membuat mental cepat kewalahan.

Dr. Debra Kissen menjelaskan bahwa over planning dapat menimbulkan kesan seolah-olah seseorang sudah kalah sebelum memulai hari. Daftar tugas yang terlalu panjang justru menambah tekanan mental dan membuat pagi terasa berat.

Mengapa pagi terasa rentan

Pagi hari memang menjadi waktu yang sensitif bagi sebagian orang. Saat baru bangun, tubuh dan pikiran belum sepenuhnya siap menerima rangsangan dari luar.

Karena itu, cara memulai pagi patut diperhatikan, terutama bagi mereka yang sering merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Mengurangi pemicu stres di jam-jam awal dapat membantu tubuh dan pikiran bergerak lebih tenang sebelum aktivitas menumpuk.

Source: www.beautynesia.id
Exit mobile version