Lonjakan biaya avtur membuat industri penerbangan nasional kembali berada dalam tekanan. Di saat harga bahan bakar pesawat domestik disebut naik rata-rata 70 persen dan rute internasional 80 persen, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyiapkan ruang dialog besar lewat Indonesia Aero Summit (IAS) 2026 di Jakarta.
Forum yang digelar pada 8 hingga 9 Juli 2026 itu diposisikan sebagai ajang internasional untuk mempertemukan regulator, pelaku usaha, dan mitra luar negeri. Bagi INACA, pertemuan ini penting bukan hanya untuk membahas tantangan jangka pendek, tetapi juga untuk menyusun arah industri penerbangan nasional yang lebih tangguh.
Tekanan biaya dan respons industri
Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menyebut industri aviasi sedang bergerak di tengah perubahan yang cepat dan beban operasional yang makin berat. Karena itu, IAS edisi ketiga disiapkan sebagai wadah kolaborasi yang lebih luas agar pembahasan tentang masa depan penerbangan tidak berhenti pada satu sektor saja.
Kondisi itu terasa semakin relevan setelah penyesuaian harga Pertamina pada April 2026 menunjukkan kenaikan avtur domestik rata-rata 70 persen. Untuk rute internasional, kenaikannya bahkan mencapai 80 persen, sehingga langsung menekan struktur biaya maskapai.
Pemerintah kemudian ikut intervenir untuk meredam dampaknya agar tarif tiket pesawat tidak melonjak terlalu jauh. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa pemerintah telah berkoordinasi dengan seluruh maskapai yang beroperasi di Indonesia, terutama untuk penerbangan domestik.
Dari koordinasi tersebut, kenaikan fuel surcharge ditetapkan sebesar 38 persen. Pemerintah juga berupaya menjaga kenaikan harga tiket pesawat di kisaran 9 persen hingga 13 persen agar tetap lebih terjangkau bagi masyarakat.
Ruang diskusi lintas sektor
IAS 2026 tidak hanya akan diisi oleh pembahasan internal industri penerbangan. Sejumlah pihak dari dalam dan luar negeri disebut akan hadir, termasuk Kementerian Perhubungan, Garuda Indonesia, Lufthansa Technik, dan Emirates Flight Training Academy.
Komposisi peserta itu menunjukkan bahwa penguatan aviasi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada maskapai. Forum ini akan membuka pembahasan soal regulasi, operasional, teknologi, serta bentuk kerja sama yang bisa memperkuat rantai nilai penerbangan nasional.
Denon menekankan bahwa tema yang diangkat perlu dipahami sebagai dorongan transformasi yang menyeluruh. Menurut dia, industri penerbangan harus tetap bisa bertahan, berkembang, dan memberi manfaat ekonomi yang lebih luas.
SAF dan efisiensi menjadi sorotan
Salah satu agenda penting dalam IAS 2026 adalah pembahasan sustainable aviation fuel atau SAF. Isu itu akan dibahas bersama perdagangan karbon dan efisiensi manajemen lalu lintas udara yang kini semakin sering muncul dalam diskusi keberlanjutan aviasi.
INACA melihat keberlanjutan tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap agenda lingkungan. Pendekatan tersebut juga harus menjaga konektivitas nasional, tanpa mengabaikan kesejahteraan tenaga kerja dan masyarakat yang bergantung pada transportasi udara.
Di tengah kompetisi yang ketat dan tekanan harga yang terus meningkat, efisiensi operasional menjadi unsur yang tidak bisa dipisahkan dari kesehatan industri. Karena itu, tema keberlanjutan dalam forum ini juga ditempatkan sebagai strategi bisnis, bukan sekadar wacana teknis.
Daya saing aviasi dan ambisi ekonomi
Bagi INACA, penguatan sektor penerbangan berkaitan langsung dengan target ekonomi nasional. Denon menyampaikan bahwa tahun 2026 diharapkan menjadi titik tolak untuk meningkatkan daya saing aviasi Indonesia.
Harapannya, penguatan itu bisa ikut mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029. Dalam pandangan INACA, penerbangan memiliki peran penting sebagai penghubung mobilitas orang, barang, dan aktivitas ekonomi antardaerah.
Saat konektivitas berjalan lebih baik, peluang pertumbuhan juga terbuka lebih luas, terutama bagi wilayah yang sangat bergantung pada akses udara. Karena itu, IAS 2026 dipandang sebagai ruang penyelarasan antara kebutuhan industri dan arah kebijakan publik.
Di tengah avtur yang lebih mahal, beban operasional yang menanjak, dan tuntutan menuju penerbangan berkelanjutan, forum ini akan menjadi salah satu momentum penting bagi ekosistem aviasi nasional untuk mencari jalan tetap kompetitif dan terhubung.