Rasa sayang dalam hubungan tidak selalu hadir dalam bentuk yang nyaman. Di satu sisi, ada sikap yang menjaga dan memberi rasa aman, tetapi di sisi lain ada dorongan yang membuat pasangan merasa diawasi dan dibatasi.
Karena itu, penting membedakan antara protektif dan posesif. Dua sikap ini sama-sama bisa tampak seperti perhatian, tetapi arah, motivasi, dan dampaknya pada hubungan sangat berbeda.
Sikap protektif biasanya berangkat dari rasa sayang dan keinginan melindungi pasangan. Fokusnya ada pada keselamatan, kenyamanan, dan kebahagiaan pasangan tanpa mengambil alih hidupnya.
Sebaliknya, posesif lebih digerakkan oleh rasa takut kehilangan dan dorongan untuk menguasai pasangan. Dari sini, hubungan lebih mudah berubah menjadi ruang penuh curiga dan tekanan.
Perbedaan itu juga terlihat dari cara memandang pasangan. Dalam sikap protektif, pasangan tetap dianggap sebagai sosok yang perlu dihargai, bukan dikendalikan.
Pada sikap posesif, pasangan justru diperlakukan seperti milik pribadi. Cara pandang seperti ini membuat kepercayaan bergeser menjadi kontrol.
Batasan yang sehat dan batasan yang menekan
Protektif masih memberi arahan, tetapi tidak membatasi secara berlebihan. Sikap ini tetap memberi ruang agar pasangan bisa menjalani aktivitas dan kehidupannya sendiri.
Posesif bergerak ke arah sebaliknya. Bentuknya bisa berupa mengecek handphone, menginterogasi saat pasangan pergi sendiri, atau menelepon terus-menerus.
Cara ikut campur juga menjadi pembeda yang jelas. Orang yang protektif biasanya memantau tanpa masuk terlalu jauh, sedangkan posesif ingin terlibat ke mana pun pasangan pergi.
Kondisi itu tidak sehat karena menunjukkan kurangnya kepercayaan, baik pada pasangan maupun pada diri sendiri. Jika dibiarkan, hubungan mudah dipenuhi rasa waswas yang tidak perlu.
Saat pasangan sibuk atau punya dunia sendiri
Respons terhadap kesibukan pasangan sering menunjukkan arah sikap yang sebenarnya. Sikap protektif cenderung lebih tenang karena masih memahami bahwa pasangan punya kegiatan di luar hubungan.
Posesif justru sering berubah menjadi rentetan pertanyaan. Akibatnya, hubungan terasa sempit karena seolah hanya berputar di sekitar satu orang.
Ruang pribadi juga menjadi titik penting. Protektif memberi kesempatan bagi pasangan untuk punya waktu sendiri agar hubungan tidak terasa menyesakkan.
Posesif sering menahan pasangan agar terus bersama. Jika pola ini terus berlangsung, pasangan bisa merasa tercekik karena tidak punya ruang untuk bernapas.
Pergaulan, cemburu, dan rasa percaya
Perbedaan lain muncul dalam urusan pertemanan. Protektif tidak melarang pasangan berteman dengan lawan jenis selama batas pergaulan tetap bisa dijaga.
Posesif cenderung melarang pertemanan semacam itu tanpa alasan yang masuk akal. Pembatasan seperti ini menjadi berlebihan karena pasangan bukan orang tua yang berhak mengatur semua hubungan sosial.
Cemburu memang manusiawi dalam hubungan. Namun, saat cemburu berubah menjadi pembatasan paksa, sikap itu mulai bergeser dari perhatian menjadi posesif.
Pada titik itu, yang dibutuhkan bukan kontrol yang lebih kuat. Yang lebih penting justru kepercayaan diri dan kepercayaan pada pasangan agar hubungan tetap sehat.
Hubungan yang sehat membuat pasangan merasa aman, dihargai, dan tetap bebas berkembang. Di situlah protektif bekerja sebagai bentuk perhatian, sementara posesif berubah menjadi kontrol yang menekan.
Source: www.idntimes.com




