Di balik rapatnya tajuk hutan, takur menjalankan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar burung berkicau. Saat banyak orang hanya menangkap warna hijaunya yang menyaru dengan daun, burung ini justru membantu hutan tetap beregenerasi lewat kebiasaannya memakan buah dan menyebarkan biji.
Keberadaan takur sering lebih mudah dikenali dari suaranya ketimbang dari sosoknya. Ia kerap bertengger lama di atas pohon, lalu melepaskan kicauan lantang yang menjadi penanda hidupnya kawasan kanopi hutan Asia Tenggara.
Penjaga diam-diam di kanopi hutan
Takur termasuk burung yang hidup dekat dengan lapisan tajuk pohon. Habitatnya tidak sempit, karena bisa ditemukan di hutan primer, hutan sekunder, hutan gugur, dataran rendah, sampai lereng gunung selama kanopinya rapat.
Kebiasaannya memakan buah ara, buah tin, dan berbagai buah lain membuat burung ini berperan penting dalam menyebarkan biji. Proses itu membantu bibit menyebar ke area baru dan mendorong tumbuhnya hutan secara alami.
Takur juga memberi manfaat lain yang sering terlewat. Lubang sarang yang sudah tidak dipakai kerap dimanfaatkan hewan lain untuk bersarang atau berlindung.
Ciri fisik yang mudah dikenali
Secara umum, takur punya tubuh sedang yang gempal dengan kepala besar dan paruh tebal. Hampir semua jenisnya berwarna hijau, meski sebagian menampilkan corak warna-warni khas di bagian kepala.
Warna hijau itu bukan sekadar tampilan, melainkan juga membantu kamuflase di berbagai tipe habitat. Bentuk tubuh dan warna tersebut membuat takur menyatu dengan lingkungan hutan yang rimbun.
Di pangkal paruhnya tumbuh bulu kaku atau rictal bristles yang tampak seperti kumis. The Linnean Society menyebut bulu itu membantu menangkap mangsa, melindungi mata, dan memberi isyarat sensorik saat burung bergerak di hutan lebat.
Cara bertengger dan menggali sarang
Takur memiliki susunan kaki zigodaktil seperti burung pelatuk. Dua jarinya menghadap ke depan dan dua lainnya ke belakang, sehingga ia bisa bertengger stabil di cabang atau batang pohon yang vertikal.
Untuk berkembang biak, takur tidak membuat sarang dari ranting atau daun. Burung ini menggali rongga sendiri di kayu mati yang lunak, baik pada cabang maupun tunggul pohon.
Kebiasaan itu membuat kayu mati tetap penting dalam siklus hidupnya. Jika tidak ada pohon mati yang sesuai, keberhasilan berkembang biak takur dapat terganggu.
Keragaman jenis yang tersebar luas
Ada 35 jenis takur yang terbagi ke dalam dua genus, yaitu Psilopogon dan Calorhamphus. Sebagian besar berwarna hijau, namun ada juga jenis yang tampil berbeda karena warna tubuhnya tidak mengikuti pola umum itu.
Dua jenis takur ampis, yakni takur ampis kalimantan dan takur ampis melayu, misalnya, berwarna cokelat kusam dan hidup berkoloni. Sementara itu, takur api dikenal sebagai jenis yang mencolok karena memiliki tubuh besar dan sejumput rambut merah di atas kepala yang tampak seperti api.
Jenis lain yang luas sebarannya adalah takur ungkut-ungkut atau coppersmith barbet. Burung ini ditemukan dari India sampai Indonesia, dan suaranya kerap diibaratkan seperti bunyi pandai besi dengan dentuman logam “tuk-tuk-tuk”.
Dilindungi, tetapi tekanannya masih besar
Sejumlah jenis takur di Indonesia sudah masuk daftar satwa dilindungi. Perlindungan itu tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
Jenis yang disebut dilindungi antara lain takur ampis, takur api, takur tohtor, takur tulung-tumpuk, takur warna-warni, takur bultok, dan takur tutut. Meski begitu, perdagangan jenis-jenis tersebut masih terjadi dan dilarang keras.
Ancaman lain datang dari menyusutnya hutan dataran rendah dan pegunungan. Pada takur api, penebangan hutan di lereng dengan wilayah sebaran yang terbatas juga berisiko memecah populasi secara parah.
Di tengah ancaman itu, takur tetap menjadi bagian penting dari hutan Indonesia. Burung ini bukan hanya penghuni tajuk pohon, tetapi juga penyebar biji, penyedia lubang sarang, dan penanda bahwa hutan masih menyimpan kehidupan di balik rapatnya daun.
Source: www.idntimes.com




