Teheran Siapkan Rudal, Peringatan Keras untuk Israel Jika Beirut Selatan Diserang

Pernyataan keras Mohsen Rezaei kembali menaikkan suhu ketegangan di Timur Tengah. Penasihat Pimpinan Tertinggi Iran bidang militer itu menegaskan Teheran siap memberi respons keras jika Israel menyerang pinggiran selatan Beirut, Lebanon.

Dalam peringatannya, Rezaei menempatkan kawasan itu sebagai titik paling sensitif dalam kalkulasi militer Iran. Ia menyebut area tersebut sebagai salah satu basis utama Hezbollah, sehingga setiap langkah Israel ke sana dipandang dapat memicu reaksi yang jauh lebih besar.

Pesan pencegahan dari Teheran

Rezaei mengatakan Iran hanya menunggu gerakan musuh ke pinggiran selatan Beirut. Ia juga menyebut seluruh rudal Iran sudah siap jika situasi memburuk.

Ia bahkan mengklaim Iran akan mengubah perang 40 hari di wilayah utara teritori pendudukan menjadi “neraka” bagi Israel. Dengan nada seperti itu, Teheran tampak ingin mengirim pesan pencegahan sejak awal agar lawan menahan diri sebelum serangan terjadi.

Ancaman langsung semacam ini biasanya dibaca sebagai upaya menekan lawan lewat sinyal politik dan militer. Dalam konteks ini, Iran menegaskan bahwa area yang dianggap vital bagi Hezbollah tidak akan dibiarkan tanpa balasan.

Beirut selatan jadi simpul penting

Pinggiran selatan Beirut memiliki arti strategis karena menjadi salah satu basis utama Hezbollah di Lebanon. Posisi itu membuat wilayah tersebut bukan sekadar lokasi geografis, melainkan bagian penting dari jaringan kekuatan yang terhubung erat dengan Teheran.

Karena itu, jika Israel bergerak ke wilayah tersebut, eskalasi tidak berhenti di Lebanon saja. Ancaman Iran terhadap utara Israel menunjukkan bahwa Teheran menghitung setiap langkah militer di Beirut selatan sebagai bagian dari benturan regional yang lebih besar.

Hezbollah selama ini dikenal sebagai sekutu strategis Iran di kawasan. Hubungan itu membuat konflik di Lebanon berpotensi terseret ke dalam pertarungan pengaruh yang lebih luas antara Iran dan Israel.

Tensi yang belum turun

Peringatan Rezaei muncul di tengah perang terbaru antara Amerika Serikat dan Israel di satu pihak melawan Iran di pihak lain yang disebut dimulai pada 28 Februari 2026. Konflik itu telah meninggalkan kerugian besar di berbagai sektor.

Israel mengakui adanya kerusakan signifikan pada infrastruktur militernya. Di sisi lain, Iran juga menanggung kerugian pada sektor ekonomi dan fasilitas militernya, sehingga tekanan yang tersisa masih terasa berat.

Situasi yang belum pulih itu membuat setiap pernyataan keras dari salah satu pihak memiliki bobot lebih besar. Dalam kondisi seperti ini, ancaman baru berpotensi memperlebar konflik yang sudah berjalan.

Risiko eskalasi makin terbuka

Nada ancaman dari Rezaei menegaskan bahwa Iran memandang Lebanon sebagai bagian penting dari keamanan regionalnya. Respons terhadap serangan di Beirut selatan pun diposisikan bukan hanya sebagai pembelaan terhadap Hezbollah, tetapi juga sebagai pesan langsung kepada Israel.

Dengan menyebut utara Israel bisa berubah menjadi “neraka”, Teheran menaikkan level ancaman secara terang-terangan. Pesan itu sekaligus mengisyaratkan bahwa setiap serangan ke area sensitif di Lebanon dapat membuka babak baru konflik yang lebih keras.

Di tengah ketegangan yang terus memanas, pernyataan seperti ini menambah daftar sinyal bahwa perbatasan Israel-Lebanon tetap menjadi salah satu titik paling rentan. Selama ancaman serangan masih menggantung, risiko eskalasi juga akan terus membayangi kawasan tersebut.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button