Di tengah perang yang belum benar-benar reda, Iran memilih menjawab proposal damai Amerika Serikat dengan menempatkan dua hal yang paling sensitif di garis depan: penghentian perang di semua front dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Sikap itu langsung menegaskan bahwa ruang kompromi masih sangat sempit, sementara jalur air sempit tersebut tetap memegang peran besar bagi energi global.
Meski begitu, ada sedikit celah yang menunjukkan situasi belum sepenuhnya tertutup. Dua kapal berhasil diizinkan melintas di jalur yang selama ini diblokade, sebuah sinyal kecil bahwa manuver diplomatik masih berjalan di tengah ancaman militer dan ketegangan yang belum surut.
Hormuz tetap jadi titik paling rawan
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena posisinya yang sangat strategis dalam perdagangan energi dunia. Sebelum perang, jalur itu membawa seperlima pasokan minyak dunia, dan kini ia berubah menjadi simbol dari tarik-menarik antara diplomasi, tekanan militer, dan ancaman gangguan perdagangan.
Iran selama ini sebagian besar menahan kapal non-Iranian melintas di selat yang sempit itu. Karena itu, setiap perubahan kecil dalam arus pelayaran langsung dibaca sebagai sinyal politik, bukan sekadar urusan navigasi.
Media pemerintah Iran menyebut respons Teheran menekankan penghentian perang di semua lini, terutama Lebanon. Namun, belum ada penjelasan rinci mengenai bagaimana atau kapan jalur air penting itu bisa dibuka kembali.
Proposal Amerika sebelumnya meminta penghentian pertempuran terlebih dahulu sebelum pembicaraan masuk ke isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran. Pakistan, yang menjadi mediator, kemudian meneruskan respons Iran ke Washington menurut seorang pejabat Pakistan.
Kapal yang lolos, tetapi tensi belum turun
Di tengah ketegangan itu, sebuah kapal milik QatarEnergy bernama Al Kharaitiyat berhasil melewati selat dengan aman menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan. Menurut data firma analitik pelayaran Kpler, itu menjadi kapal Qatar pertama yang membawa gas alam cair dan melintasi selat sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari.
Pergerakan itu memberi sedikit kelegaan bagi Pakistan setelah gelombang pemadaman listrik akibat terhentinya impor gas. Langkah tersebut juga disebut telah disetujui Iran untuk membangun kepercayaan dengan Pakistan dan Qatar, yang ikut berperan sebagai mediator.
Selain itu, sebuah kapal curah berbendera Panama yang menuju Brasil juga berhasil melewati selat setelah sebelumnya sempat mencoba melintas pada 4 Mei. Iran melalui rute yang ditetapkan angkatan bersenjatanya mengatur lintasan kapal tersebut, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim.
Risiko meluas ke udara dan negara-negara Teluk
Ancaman di kawasan tidak hanya datang dari laut. Drone bermusuhan masih terdeteksi di beberapa negara Teluk pada hari Minggu, menegaskan bahwa risiko belum benar-benar mereda.
Uni Emirat Arab mengatakan berhasil mencegat dua drone yang datang dari Iran. Kuwait menyebut pertahanan udaranya menangani drone bermusuhan yang memasuki wilayah udaranya.
Qatar juga mengecam serangan drone yang menghantam sebuah kapal kargo asal Abu Dhabi di perairannya. Rangkaian peristiwa itu menunjukkan bahwa jalur pelayaran dan ekonomi kawasan masih berada dalam risiko tinggi meski upaya diplomatik terus berjalan.
Front Lebanon dan tekanan politik internasional
Ketegangan di sekitar selat ikut dipengaruhi oleh situasi di Lebanon selatan yang belum mereda meski ada gencatan senjata yang dimediasi Amerika dan diumumkan pada 16 April. Bentrokan antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran masih berlanjut, sementara pembicaraan terbaru antara Israel dan Lebanon dijadwalkan dimulai di Washington pada 14 Mei.
Di Washington sendiri, tekanan politik juga meningkat. Trump berada di bawah tekanan untuk mengakhiri perang menjelang kunjungannya ke China pekan ini, sementara konflik itu telah memicu krisis energi global dan dianggap menambah risiko bagi ekonomi dunia.
Donald Trump mengatakan dalam komentar yang ditayangkan pada hari Minggu bahwa lawannya “dikalahkan, tetapi itu tidak berarti mereka selesai.” Di sisi lain, Benjamin Netanyahu menilai perang belum berakhir karena masih ada pekerjaan untuk memindahkan uranium yang diperkaya, membongkar fasilitas pengayaan, serta menghadapi jaringan proksi Iran dan kemampuan rudal balistiknya.
Netanyahu juga mengatakan cara terbaik menghapus uranium yang diperkaya adalah melalui diplomasi, meski ia tidak menutup kemungkinan untuk melakukannya dengan kekuatan. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis di media sosial bahwa Iran “tidak akan pernah tunduk kepada musuh” dan akan “membela kepentingan nasional dengan kekuatan.”
Dukungan internasional belum sepenuhnya terbentuk
Amerika Serikat disebut masih kesulitan memperoleh dukungan luas untuk langkah-langkah yang lebih keras di sekitar Selat Hormuz. Sekutu NATO menolak seruan untuk mengirim kapal demi membuka selat tanpa kesepakatan damai penuh dan misi yang mendapat mandat internasional.
Inggris menyatakan siap membantu misi internasional dan pada Sabtu mengatakan akan mengerahkan kapal perang ke Timur Tengah, menyusul langkah serupa dari Prancis. Namun Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menilai penempatan kapal perang Inggris, Prancis, atau negara lain di sekitar Selat Hormuz dengan dalih melindungi pengiriman barang akan dianggap sebagai eskalasi dan akan dihadapi dengan kekuatan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron kemudian mengatakan Prancis siap membantu misi internasional, tetapi negaranya “tidak pernah membayangkan pengerahan militer untuk membuka kembali Hormuz.” Di tengah pernyataan-pernyataan itu, jalur diplomasi tetap berjalan, sementara Selat Hormuz terus menjadi titik paling menentukan bagi perang, energi, dan keamanan kawasan.