Tekanan Dolar AS Masih Menahan Rupiah, Pemerintah Tegaskan Tidak Ada Rekayasa Kurs untuk Ekspor

Tekanan pada rupiah kembali menjadi sorotan ketika dolar AS terus menunjukkan penguatan di pasar global. Di tengah kondisi itu, pemerintah menegaskan tidak ada kebijakan yang sengaja dibuat untuk melemahkan rupiah demi mendukung ekspor.

Penegasan tersebut datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia menyebut Indonesia tidak termasuk negara yang melakukan praktik manipulasi kurs, meski Amerika Serikat tengah mencermati dugaan serupa di sejumlah negara Asia.

Airlangga menyampaikan hal itu di Jakarta Selatan saat menghadiri acara Roundtable Menakar Denyut Ekonomi di Tengah Gejolak Global. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa pemerintah tetap memilih menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.

“Indonesia tidak termasuk dalam negara tersebut. Jadi ini yang terus kita jaga,” kata Airlangga. Pernyataan itu sekaligus menutup anggapan bahwa rupiah sengaja dibiarkan melemah untuk memberi dorongan pada kinerja ekspor.

Kondisi pelemahan rupiah sendiri tidak berdiri sendirian. Airlangga menilai tekanan serupa juga dialami mata uang lain di kawasan, termasuk yen Jepang, sehingga situasi yang terjadi lebih tepat dibaca sebagai gejala global.

Pandangan itu sejalan dengan sikap Bank Indonesia yang menilai pergerakan rupiah masih mengikuti arah mata uang regional. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut pelemahan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan penurunan year-to-date sebesar 3,54 persen.

Pemerintah juga menyiapkan langkah koordinatif bersama Bank Indonesia untuk merespons dinamika pasar. Airlangga mengatakan kebijakan yang dipilih harus adaptif agar tekanan dari luar tidak berubah menjadi gejolak yang lebih besar di dalam negeri.

“Kalau flow-nya, anginnya headwind tentu kita tidak untuk menabrak, tapi dengan berbagai kebijakan,” ujarnya. Ungkapan itu menggambarkan bahwa pemerintah ingin menjaga arah kebijakan tetap hati-hati sambil membaca kondisi pasar yang belum stabil.

Di sisi lain, tekanan pada rupiah sempat terlihat ketika kurs menyentuh Rp 17.300 per dolar AS. Kondisi tersebut terjadi di tengah ketidakpastian global yang membuat banyak mata uang emerging market ikut tertekan.

Data Bloomberg pada Selasa (28/4/2026) menunjukkan dolar AS berada di level Rp 17.239, menguat 28 poin atau 0,16 persen. Penguatan itu menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah dan menambah beban pada mata uang lain.

Pengaruh dolar AS juga terlihat di berbagai pasangan mata uang utama. Dalam data yang sama, dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,07 persen, terhadap dolar Australia 0,10 persen, dan terhadap dolar Singapura 0,05 persen.

Tekanan serupa turut terlihat pada yuan China, pound sterling, dan euro dalam sesi perdagangan yang sama. Pola itu memperlihatkan bahwa penguatan dolar AS sedang menjadi tema besar pasar, bukan hanya persoalan yang dialami rupiah.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut membuat stabilitas nilai tukar menjadi perhatian penting karena berkaitan dengan kepercayaan pasar, biaya impor, dan arah kebijakan ekonomi. Karena itu, pemerintah menegaskan fokus utamanya tetap menjaga kurs agar tidak bergerak terlalu liar di tengah tekanan global yang belum mereda.

Exit mobile version