Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda ketika pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Di tengah kondisi itu, mata uang Garuda sempat menguat pada perdagangan sore, namun akhirnya kembali kehilangan tenaga dan ditutup di level Rp 17.528 per dolar AS.
Pergerakan yang berbalik arah tajam itu memperlihatkan betapa rapuhnya sentimen pasar saat ini. Rupiah bahkan sudah melemah sejak pembukaan perdagangan pagi, ketika nilainya turun 13 poin atau 0,07% ke posisi Rp 17.515 per dolar AS.
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi, tekanan pada rupiah erat kaitannya dengan respons pasar terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai negosiasi dengan Iran. Trump menyebut pembicaraan tersebut berada dalam kondisi kritis, sehingga harapan pasar terhadap tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat ikut menurun.
Situasi itu membuat ketidakpastian geopolitik global tetap tinggi dan mendorong tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Kekhawatiran investor juga bertambah karena gangguan distribusi pengiriman melalui Selat Hormuz masih berlangsung.
Pasar menanti arah dari Beijing
Di luar isu Iran, pelaku pasar juga memusatkan perhatian pada rencana pertemuan Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Agenda pertemuan itu diperkirakan akan mencakup ketegangan perdagangan, konflik Iran, Taiwan, hingga rantai pasokan global.
Pertemuan dua pemimpin ekonomi besar dunia itu dipandang penting karena hasilnya bisa memengaruhi arah sentimen risiko global. Saat investor memilih bersikap menunggu, aset berisiko seperti rupiah cenderung berada di bawah tekanan lebih besar.
Data inflasi AS ikut membebani
Faktor lain yang turut menjaga tekanan pada rupiah datang dari pasar Amerika Serikat. Investor menunggu rilis data indeks harga produsen AS untuk membaca kembali tekanan inflasi dan menilai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Ibrahim menyebut pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini. Perubahan pandangan itu membuat dolar AS tetap kuat dan menambah beban bagi rupiah di pasar valuta asing.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi. Selama dolar AS bertahan kuat, mata uang negara berkembang umumnya lebih mudah terseret dalam pelemahan.
Ruang gerak rupiah masih lebar
Untuk sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per dolar AS. Rentang itu menunjukkan pasar masih berhadapan dengan volatilitas yang cukup besar di tengah sentimen eksternal yang cepat berubah.
Arah rupiah dalam beberapa waktu mendatang akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, data ekonomi AS, dan respons pelaku pasar internasional. Selama ketidakpastian belum menurun, rupiah masih rentan bergerak naik-turun terhadap dolar AS.
Source: www.beritasatu.com