Tekanan global membuat pelaku ekonomi daerah dituntut bergerak lebih cepat dan lebih terkoordinasi. Di Jawa Tengah, dorongan itu datang dari Bank Indonesia, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia atau ISEI, dan Lembaga Penjamin Simpanan yang sama-sama menempatkan sinergi sebagai cara menjaga stabilitas sekaligus membuka ruang pertumbuhan yang lebih luas.
Garis besar pesan itu menguat dalam seminar ekonomi di Borobudur Hall Gedung LPPM Universitas Negeri Semarang pada Kamis, 21 Mei 2026. Kegiatan tersebut mengusung tema “Mendorong Perekonomian Jawa Tengah Lebih Kuat, Merata dan Berkesinambungan melalui Sinergitas antar Pihak” dan dihadiri sekitar 200 peserta dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, anggota ISEI, mahasiswa, serta mitra strategis lain.
BI Tekankan Stabilitas dan Pertumbuhan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, menegaskan bahwa BI terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Langkah itu dijalankan melalui sinergi kebijakan moneter, penguatan sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, pengendalian inflasi, penguatan UMKM, dan percepatan digitalisasi ekonomi serta keuangan.
Menurut Noor Nugroho, kolaborasi menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan, terutama di daerah. Ia juga menyoroti bahwa dinamika global masih menyisakan tantangan besar sehingga sinergi antarpemangku kepentingan perlu terus diperkuat agar ekonomi daerah semakin tangguh.
Jawa Tengah, kata dia, memiliki potensi besar untuk tumbuh karena ditopang sektor industri, perdagangan, pertanian, UMKM, dan ekonomi digital. Namun, perlambatan ekonomi dunia, ketidakpastian geopolitik, dan fluktuasi pasar keuangan tetap perlu diantisipasi bersama.
LPS Soroti Ketahanan Sistem Keuangan
Dari sisi stabilitas nasional, Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank LPS, Doddy Zulverdi, menilai ketahanan ekonomi dan perbankan Indonesia masih berada dalam kondisi terjaga. Paparannya dalam seminar itu mengangkat tema “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2026: Momentum, Pemerataan, dan Ketahanan Ekonomi”.
Meski begitu, ia menekankan bahwa ketidakpastian global tetap menuntut kewaspadaan tinggi. Karena itu, sistem keuangan disebut perlu semakin adaptif melalui penguatan koordinasi kebijakan dan peningkatan daya tahan sektor keuangan nasional.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa stabilitas tidak cukup hanya dijaga lewat likuiditas. Sistem keuangan juga harus mampu merespons guncangan eksternal agar mesin pertumbuhan di daerah tetap berjalan.
ISEI Dorong Peran Akademik yang Lebih Nyata
Di momentum yang sama, ISEI Cabang Semarang juga melantik pengurus baru periode 2026–2029. Pada sesi refleksi kepengurusan periode 2023–2026, Prof. Dr. Suharnomo menekankan pentingnya kesinambungan organisasi dan penguatan kontribusi ISEI dalam memberi pemikiran serta rekomendasi strategis bagi pembangunan ekonomi.
Ia menilai ISEI perlu terus menjadi wadah intelektual ekonomi yang menjembatani gagasan akademik dengan kebutuhan kebijakan di lapangan. Arah itu kemudian dilanjutkan oleh kepengurusan baru yang ingin memperkuat jejaring lintas sektor.
Ketua ISEI Cabang Semarang periode 2026–2029, Prof. Dr. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, menyampaikan komitmen untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha. Fokus organisasi diarahkan pada penguatan riset, pengembangan jejaring, publikasi ilmiah, dan kontribusi nyata terhadap isu ekonomi strategis di Jawa Tengah.
Ia juga menilai tantangan ekonomi saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih kolaboratif dan berbasis data. Dengan begitu, kebijakan yang dihasilkan diharapkan lebih tepat menjawab kebutuhan masyarakat.
Peluang Baru di Tengah Tekanan Global
Seminar dan pelantikan itu menjadi ruang untuk menyatukan langkah berbagai pihak agar pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah bergerak lebih kuat, merata, dan berkelanjutan. Regulator, akademisi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lain diharapkan berjalan dalam arah yang sama saat menghadapi tekanan global.
Di saat yang sama, Jawa Tengah juga diarahkan memanfaatkan peluang pertumbuhan baru dari transformasi digital dan ekonomi hijau. Kolaborasi antarpihak dipandang sebagai elemen utama agar daya saing daerah tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi berlangsung lebih inklusif.
Source: jateng.akurat.co