Di tengah IHSG yang masih tertekan, sejumlah saham dividen kembali masuk radar karena harga melemah sementara pembagian laba tetap berjalan. Situasi ini membuat dividend yield terasa lebih menarik, apalagi valuasi saham di Bursa Efek Indonesia masih tergolong murah dengan PE ratio IHSG berada di kisaran 10-12 kali.
Dukungan fundamental domestik juga masih terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen YoY. Dalam kondisi pasar seperti ini, investor bukan hanya mengejar imbal hasil, tetapi juga perlu memilih sekuritas yang aman, efisien, dan punya fitur riset yang memadai.
Tekanan pada indeks salah satunya datang dari keputusan MSCI dalam review Mei 2026 yang mencoret 18 saham Indonesia. Dari jumlah itu, 6 saham keluar dari Global Standard Index dan 13 saham dari Small Cap Index, tanpa ada pengganti.
Secara historis, tekanan jual sering memuncak menjelang rebalancing lalu mereda setelahnya. Itulah sebabnya saham-saham yang rutin membagikan dividen kembali dilihat sebagai opsi yang lebih menggoda ketika pasar sedang lesu.
Di antara emiten yang disebut konsisten membagi dividen, nama-nama seperti BBCA, BBRI, dan BMRI tetap masuk perhatian. Sektor energi seperti PGAS dan AKRA, serta konsumer seperti UNVR dan INDF, juga disebut memiliki imbal hasil sekitar 4-11 persen.
Pluang jadi opsi serba ada
Pluang menonjol karena dipakai lebih dari 13 juta pengguna. Lewat satu aplikasi, platform ini membuka akses ke lebih dari 2.000 produk investasi, mulai dari 950+ saham Indonesia, saham dan ETF Amerika, crypto, logam mulia, reksa dana, hingga derivatif seperti crypto perps dan options saham AS.
Fitur analisis di Pluang juga dibuat cukup lengkap. Pengguna bisa memakai charting modern, Stock Screener, data finansial, signal dan screeners, serta Pro Mode di Terminal Web yang terhubung dengan TradingView.
SPOT dari Sucor Sekuritas
Melalui SPOT, Sucor Sekuritas menawarkan akses ke 1000+ saham IDX dan reksa dana. Fitur yang tersedia mencakup AMO, alerts, market news, serta pilihan order market, trailing stop, dan advanced.
SPOT diarahkan untuk investor ritel, trader aktif, hingga institusi yang membutuhkan rekomendasi saham dari analis. Kombinasi fitur transaksi dan informasi pasar membuat platform ini cocok bagi pengguna yang ingin bergerak cepat dalam mengambil keputusan.
Growin’ dari Mandiri Sekuritas
Mandiri Sekuritas melalui Growin’ menghadirkan transaksi saham Indonesia, reksa dana, dan obligasi dalam satu ekosistem digital. Aksesnya tersedia melalui aplikasi mobile, web, dan integrasi di Livin’ by Mandiri.
Salah satu fitur yang paling menonjol adalah Trade Now, Pay Later. Layanan ini memungkinkan pinjaman hingga 2,8× dari net cash dan 1,81× dari nilai portofolio.
Maybank Trade ID dan Trima+
Maybank Trade ID milik PT Maybank Sekuritas Indonesia fokus pada perdagangan saham Indonesia lewat Android dan iOS. Platform ini mencantumkan 1000+ saham IDX, obligasi, dan ETF, serta disebut cocok bagi investor institusional yang membutuhkan akses penuh ke saham Indonesia dan rekomendasi saham dari analis.
Di sisi lain, Trimegah lewat Trima+ menyediakan perdagangan saham dan instrumen pasar modal melalui web dan aplikasi seluler. Fitur yang tersedia mencakup alert saham pilihan analis, AMO, market news, serta dukungan untuk saham, reksa dana, dan obligasi.
Trima+ juga mendukung tipe order seperti market, trailing stop, dan advanced. Dengan cakupan produk yang luas, platform ini memberi ruang bagi pengguna yang ingin mengelola portofolio dalam satu tempat.
Fokus investor tetap jadi penentu
Saat valuasi IHSG masih rendah, momentum pasar yang tertekan memang bisa dimanfaatkan. Namun, pilihan sekuritas tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing investor, apakah lebih fokus pada riset, biaya transaksi, kemudahan top-up, atau kelengkapan produk investasi.
Kehadiran Danantara juga memberi warna pada pasar modal Indonesia. Fitch Research memproyeksikan lembaga itu dapat mengumpulkan pendapatan dividen hingga lebih dari Rp 140 triliun untuk memperkuat ekosistem pasar modal.
Source: www.medcom.id