Terburu-buru saat makan ternyata bukan sekadar soal kebiasaan, tetapi juga soal bagaimana tubuh memproses rasa kenyang dan gula darah. Saat makanan dilahap terlalu cepat, sinyal yang seharusnya memberi tahu otak bahwa tubuh sudah cukup makan sering terlambat terbaca.
Dampaknya bisa merambat ke banyak hal sekaligus. Berat badan lebih mudah naik, perut terasa tidak nyaman, dan respons gula darah menjadi kurang stabil jika pola ini terus berulang.
Porsi yang masuk sering jadi lebih banyak
Salah satu masalah paling sering muncul dari makan terlalu cepat adalah asupan yang tidak lagi terkontrol dengan baik. Otak memerlukan waktu untuk menangkap sinyal kenyang, sehingga orang yang makan tergesa-gesa cenderung terus makan sebelum tubuh benar-benar merasa cukup.
Ahli gizi Andy De Santis, MPH, RD, menjelaskan bahwa mengunyah makanan dengan lebih saksama membantu mengubah cara tubuh melepaskan hormon lapar dan kenyang. Jika proses makan berlangsung terburu-buru, sinyal “sudah cukup makan” tidak diproses secara optimal, dan rasa lapar bisa muncul lagi beberapa menit setelah makan selesai.
Kondisi itu membuat seseorang lebih mudah mencari camilan di luar jam makan. Dalam jangka panjang, total kalori harian pun lebih sulit dijaga sehingga risiko kelebihan berat badan dan obesitas ikut meningkat.
Saluran cerna ikut bekerja lebih berat
Selain berdampak pada pola makan, kecepatan makan juga memengaruhi cara tubuh mengolah makanan. Mengunyah dengan baik merupakan bagian penting dari pencernaan karena membantu menyiapkan makanan sebelum masuk lebih jauh ke saluran cerna.
Saat makan dilakukan dengan tergesa-gesa, proses ini tidak berjalan seoptimal seharusnya. Kebiasaan tersebut dikaitkan dengan gangguan pencernaan seperti gastritis dan asam lambung naik.
Ada pula efek lain yang sering terasa langsung, yaitu udara berlebih yang ikut masuk ke saluran cerna. Akibatnya, perut bisa terasa kembung dan gas berlebih lebih mudah muncul, sementara pada sebagian orang gejalanya dapat memperburuk sindrom iritasi usus besar.
Respons gula darah ikut terdampak
Kecepatan makan juga berkaitan dengan cara tubuh mengelola gula darah setelah makan. Uji klinis acak yang diterbitkan di jurnal Nutrients menemukan bahwa pada perempuan sehat, mengonsumsi makanan yang sama dalam waktu lebih lama menghasilkan respons gula darah yang lebih baik.
Hasil penelitian itu menunjukkan puncak gula darah yang lebih rendah dan durasi gula darah tetap tinggi yang lebih singkat. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tempo makan ikut memengaruhi proses metabolik, bukan hanya rasa kenyang.
Kebiasaan makan terlalu cepat juga dikaitkan dengan risiko resistansi insulin dan sindrom metabolik. Kondisi ini mencakup rangkaian masalah yang meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, dan stroke.
Risiko jangka panjang tidak bisa diabaikan
Sejumlah studi memperkuat kaitan itu pada kelompok yang lebih besar. Dalam penelitian yang melibatkan hampir 9.000 orang, kelompok yang makan cepat tercatat lebih berisiko mengembangkan sindrom metabolik dalam tiga tahun berikutnya dibanding mereka yang makan lebih lambat.
Temuan lain datang dari studi skala besar di Jepang yang melibatkan hampir 200.000 peserta. Studi itu menemukan bahwa kebiasaan makan cepat menjadi prediktor risiko diabetes, bahkan setelah faktor-faktor lain diperhitungkan.
Meski sering muncul karena tuntutan waktu, kebiasaan ini tidak berhenti pada satu kali makan saja. Jika berlangsung terus-menerus, makan terlalu cepat dapat memengaruhi berat badan, kenyamanan pencernaan, dan kestabilan gula darah dalam waktu yang sama.
Source: www.beautynesia.id




