Ternyata Motor Listrik Ini Lolos Mudik Jakarta-Jogja, Cuma Butuh Rp57 Ribu Dan Sempat Taklukkan Tanjakan

Perjalanan mudik Jakarta-Yogyakarta dengan motor listrik ternyata bisa ditekan biayanya jauh lebih murah dari dugaan banyak orang. Dalam satu touring solo, biaya pengisian daya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp57 ribu untuk rute lebih dari 570 kilometer.

Cerita itu datang dari seorang YouTuber otomotif dan touring yang menempuh perjalanan memakai Polytron Fox R. Motor tersebut dipakai selama dua hari melintasi jalur Pantura hingga kawasan pegunungan di Jawa Tengah sebelum tiba di Yogyakarta.

Pilihan menggunakan motor listrik bukan tanpa alasan. Sang YouTuber ingin mencari pengalaman mudik yang berbeda setelah tiga sampai empat tahun terakhir pulang kampung memakai mobil.

Keinginan itu muncul setelah unggahannya di media sosial mendapat respons soal kendaraan yang cocok untuk touring. Tak lama kemudian, Polytron menawarkan unit Fox R untuk dipakai dalam perjalanan Jakarta-Jogja tersebut.

Yang menarik, perjalanan jarak jauh itu dilakukan dengan persiapan yang sangat minim. Motor langsung dikirim dan dipakai touring tanpa sempat menjalani test ride lebih dulu sebelum berangkat.

Biaya cas jadi sorotan utama

Selama perjalanan dari Jakarta hingga Yogyakarta, total biaya fast charging di sejumlah SPKLU disebut hanya sekitar Rp57 ribu. Di beberapa titik, motor listrik itu bahkan mendapat layanan pengisian gratis, termasuk di SPKLU PLN Kebumen.

Pengalaman itu membuat biaya cas menjadi salah satu keunggulan paling terasa selama touring. Di rumah, biaya mengisi daya penuh dengan listrik rumahan juga disebut hanya sekitar Rp5 ribuan.

Selain hemat saat pengisian, motor listrik juga dinilai praktis dari sisi perawatan. Kendaraan seperti itu tidak membutuhkan penggantian oli rutin seperti motor bensin.

Gaya berkendara sangat menentukan

Perjalanan dimulai setelah salat subuh dari Jakarta. Pada tahap awal, mode sport masih sering dipakai sehingga baterai terasa lebih boros, terutama saat melewati lalu lintas perkotaan yang padat dan dipenuhi lampu merah.

Dari pengalaman itu, terlihat bahwa efisiensi motor listrik sangat dipengaruhi gaya berkendara. Semakin agresif akselerasi dan semakin tinggi kecepatan, semakin cepat pula baterai terkuras.

Saat kapasitas baterai turun di bawah 25 persen, layar motor mulai menampilkan estimasi jarak tempuh yang tersisa. Fitur ini membuat pengendara harus lebih disiplin menghitung sisa perjalanan dan menentukan titik pengisian berikutnya.

Pengisian daya pertama dilakukan di SPKLU PLN ULP Cikampek. Di titik itu, fast charging dijalankan dengan converter charger mobil listrik agar proses pengisian berlangsung lebih cepat.

Dari pengisian pertama tersebut, motor mampu menempuh sekitar 90 kilometer dengan sisa baterai sekitar 12 persen. Setelah pola berkendara diubah dan mode hemat atau mode D lebih sering digunakan, efisiensinya naik hingga motor bisa berjalan lebih dari 110 kilometer dalam sekali pengisian.

Tanjakan pegunungan menjadi ujian nyata

Hari kedua justru menjadi bagian paling menantang dari perjalanan. Rute yang ditempuh melewati Tegal, Purbalingga, Kebumen, Wates, lalu masuk Yogyakarta, dengan karakter jalan yang penuh tanjakan dan turunan.

Kawasan Randudongkal dan sekitar Bendungan Sempor menjadi titik yang paling menguji kemampuan motor listrik itu. Di jalur seperti ini, keraguan soal motor listrik yang dianggap kurang kuat di tanjakan ikut terbukti di lapangan, dan hasilnya justru cukup meyakinkan.

Motor disebut tetap sanggup melewati tanjakan tanpa kendala berarti. Sang pengendara bahkan mengaku terkejut karena kendaraan itu masih kuat saat menghadapi kontur pegunungan.

Mode sport tetap dipakai, tetapi hanya pada kondisi tertentu. Penggunaan itu dilakukan ketika harus menyalip kendaraan besar atau menghadapi tanjakan ekstrem demi alasan keselamatan, meski konsekuensinya baterai lebih cepat habis.

Momen paling menegangkan terjadi menjelang masuk Yogyakarta ketika sisa baterai tinggal sekitar 5 persen dan indikator mulai berkedip. Estimasi jarak tempuh yang terus menipis sempat membuat perjalanan terasa rawan berhenti di jalan.

Meski begitu, perjalanan akhirnya tuntas hingga tiba di kawasan Tugu Jogja. Setelah menempuh ratusan kilometer dalam berbagai kondisi jalan dan cuaca, ia mengaku puas dengan performa Polytron Fox R untuk kebutuhan touring jarak jauh.

Ia juga menyoroti skema sewa baterai yang ditawarkan Polytron. Sistem itu dianggap memudahkan pengguna karena tidak perlu membeli baterai baru saat performanya menurun.

Di sisi lain, aplikasi Polytron EV dinilai membantu karena bisa dipakai memantau kondisi motor dan menghubungi customer service secara langsung. Meski demikian, masih ada catatan pada suspensi bawaan dan ban standar yang dinilai kurang optimal, terutama saat melewati jalan beton yang basah.

Pengalaman mudik ini pada akhirnya mengubah pandangannya terhadap motor listrik. Kendaraan seperti ini dinilai bukan lagi sekadar cocok untuk dalam kota, tetapi juga cukup layak dipakai harian hingga perjalanan jauh selama pengendara paham manajemen baterai dan merencanakan titik pengisian dengan baik.

Exit mobile version