Di tengah klaim kesehatan yang makin kompleks, Prudential Indonesia memilih memperkuat proses penilaian dengan dukungan tiga dokter ahli. Langkah ini membuat verifikasi klaim tidak hanya bertumpu pada sisi administrasi, tetapi juga pada sudut pandang klinis yang lebih tajam.
Kehadiran Dewan Penasihat Medis atau Medical Advisory Board menjadi bagian penting dari perubahan itu. Prudential menempatkannya sebagai alat untuk membaca kebutuhan medis dengan lebih tepat, sekaligus menjaga agar keputusan internal tetap cepat di tengah volume klaim yang besar.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth menjelaskan bahwa dewan ini beranggotakan tiga dokter. Mereka ikut meninjau tren klaim kesehatan yang terus bergeser, termasuk kasus kanker dan jantung yang disebut meningkat.
Menurut Yosie, para dokter tersebut tidak berperan menentukan klaim dibayar atau tidak. Fungsi mereka adalah memberi pertimbangan medis agar proses internal perusahaan lebih berbasis data klinis dan lebih akurat dari sisi kesehatan.
Fokus pada terapi dan efektivitas medis
Salah satu tugas utama Medical Advisory Board adalah menilai apakah suatu terapi tergolong experimental treatment. Dewan ini juga menimbang efektivitas medis dari terapi yang masuk dalam proses klaim.
Masukan medis itu dibutuhkan agar perusahaan tidak melihat klaim hanya dari sisi administrasi. Dengan cara ini, Prudential ingin memperkuat layanan klinis sekaligus menyusun strategi penanganan klaim yang lebih sesuai.
Yosie menegaskan bahwa anggota dewan adalah ahli medis, bukan ahli asuransi. Karena itu, posisi mereka murni memberi perspektif klinis yang membantu proses verifikasi internal perusahaan.
Masuk ke pengembangan produk
Peran dewan ini tidak berhenti di ruang klaim. Prudential Indonesia juga memakai pandangan Medical Advisory Board dalam pengembangan produk asuransi.
Salah satu contohnya adalah PruLady, produk perlindungan kanker payudara bagi perempuan. Dalam proses pengembangannya, para dokter dapat memberi pandangan tentang risiko yang perlu ditanggung dan fase intervensi yang paling tepat.
Pendekatan tersebut membantu Prudential menyusun produk yang lebih relevan dengan kebutuhan nasabah. Pada saat yang sama, produk juga diharapkan lebih tepat sasaran secara medis.
Siapa saja anggota dewan ini
Saat ini, Medical Advisory Board Prudential Indonesia terdiri dari tiga dokter profesional. Mereka adalah Abdul Muthalib sebagai spesialis penyakit dalam dan hematologi, Muhammad Yamin sebagai spesialis jantung dan pembuluh darah, serta Andri Maruli Tua Lubis sebagai spesialis bedah ortopedi dan traumatologi.
Prudential juga membuka ruang untuk menambah anggota baru sesuai kebutuhan penyakit yang banyak ditangani. Fokus awal tetap berada pada penyakit yang paling dominan dalam portofolio perusahaan.
Yosie menyebut area utamanya mencakup kanker, jantung, dan ortopedi. Namun, perusahaan juga memantau kemungkinan penguatan di bidang lain seperti pencernaan, gastritis, neurologi, saraf, dan area medis lainnya.
Mengapa dibentuk secara mandiri
Prudential Indonesia memilih membentuk dewan penasihat medis sendiri karena skala bisnis dan kompleksitas operasional yang makin besar. Langkah ini dinilai membuat dukungan medis lebih fokus dan lebih sesuai dengan kebutuhan internal Prudential Indonesia maupun Prudential Syariah.
Yosie sebelumnya menyampaikan bahwa perusahaan membutuhkan MAB yang dedicated agar verifikasi klaim tetap cepat dan kualitas layanan nasabah terjaga. Kebutuhan itu menjadi semakin penting karena klaim kesehatan Prudential Indonesia pada tahun lalu tercatat mencapai Rp6,1 triliun.
Dengan volume sebesar itu, perusahaan memerlukan dukungan medis yang lebih spesifik untuk membantu penilaian. Kehadiran dewan ini membuat proses klaim dan pengembangan produk berjalan dengan pijakan klinis yang lebih kuat.
Source: finansial.bisnis.com




