Tiga Gelar Beruntun Tak Cukup, Bojan Hodak Meninggalkan Ukuran Baru di Persib

Keputusan Bojan Hodak untuk meninggalkan kursi pelatih Persib justru datang saat namanya sedang berada di puncak pujian. Di Bandung, sosok asal Kroasia itu tidak hanya dikenang sebagai pelatih yang membawa trofi, tetapi juga sebagai figur yang mengubah ukuran keberhasilan tim.

Pujian paling keras datang dari Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat, Umuh Muchtar, yang menilai Hodak sebagai pelatih terbaik sepanjang masa di klub. Penilaian itu menguat setelah Persib kembali menutup musim dengan gelar juara BRI Super League edisi 2025/2026, yang melengkapi tiga gelar beruntun di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Standar baru di tubuh Persib

Bagi Persib, capaian tiga kali juara secara beruntun bukan sekadar angka di papan prestasi. Umuh menyebut pencapaian tersebut sebagai sesuatu yang sangat sulit ditandingi dalam sejarah klub, sehingga posisi Hodak otomatis berada di level yang berbeda dibanding banyak pelatih sebelumnya.

Warisan itu terasa makin jelas karena keberhasilan Persib tidak lahir dari momen sesaat. Tim tampil stabil di bawah kendalinya, dan stabilitas itu kemudian menjadi salah satu alasan mengapa Hodak dipandang bukan hanya sebagai pelatih sukses, melainkan juga pembentuk budaya menang di Maung Bandung.

Catatan kemenangan yang menonjol

Sejak bergabung pada Juli 2023, Hodak langsung memberi dampak besar pada performa Persib. Ia memimpin tim dalam 116 pertandingan di semua ajang, termasuk liga domestik dan kompetisi antarklub Asia.

Dari jumlah itu, Hodak mencatat 67 kemenangan berdasarkan data Transfermarkt. Persentase kemenangannya mencapai 57,7 persen, angka yang menempatkannya sebagai salah satu pelatih paling efektif dalam sejarah modern Persib.

Catatan tersebut juga membuat namanya berada di atas sejumlah pelatih besar yang pernah menangani klub. Luis Milla memimpin 30 pertandingan dengan 17 kemenangan, sedangkan Djadjang Nurjaman mengoleksi 44 kemenangan dari 83 laga.

Perpisahan yang berjalan mulus

Di tengah deretan prestasi itu, Hodak justru memilih mundur menjelang musim kompetisi 2026/2027. Keputusan tersebut diambil setelah pembicaraan antara manajemen Persib, Direktur Utama PT PBB Glenn Sugita, dan Hodak.

Umuh menegaskan proses perpisahan berlangsung baik dan dipahami oleh klub. Tidak ada kesan konflik dalam kepergian itu, karena keputusan diambil secara dewasa oleh semua pihak yang terlibat.

Alasan pribadi juga ikut menjadi pertimbangan. Hodak disebut ingin fokus memulihkan kondisi kesehatan dan mendampingi anaknya yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Tetap berada di lingkar tim

Meski tidak lagi duduk di kursi pelatih kepala, Hodak belum sepenuhnya lepas dari Persib. Manajemen tetap menempatkannya sebagai penasihat tim karena pengalaman dan pandangan strategisnya masih dianggap penting.

Peran itu menunjukkan bahwa pengaruh Hodak masih dibutuhkan di lingkungan klub. Persib memandang kehadirannya sebagai bagian dari upaya menjaga arah tim setelah perubahan di kursi pelatih.

Tampuk kepelatihan kini beralih kepada Igor Tolic, yang sebelumnya menjadi asisten Hodak selama dua musim terakhir. Pergantian itu dipilih agar kesinambungan tim tetap terjaga di tengah target mempertahankan dominasi nasional.

Nama yang melekat pada era sukses

Dalam pandangan Persib, Hodak tidak hanya meninggalkan trofi, tetapi juga fondasi yang membuat klub tampil lebih mapan di level tertinggi. Tiga gelar beruntun, rasio kemenangan tinggi, dan stabilitas tim menjadi kombinasi yang sulit diabaikan.

Karena itu, nama Bojan Hodak kini melekat sebagai simbol salah satu era paling sukses dalam sejarah Persib. Warisannya tidak berhenti pada hasil akhir di lapangan, tetapi juga pada standar baru yang kini melekat dalam cara klub memandang kesuksesan.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version