UB Perluas Jalur Pendidikan Siber ke Rusia, Praktisi Dunia Masuk Kelas dan Riset

Universitas Brawijaya membuka jalur baru untuk mempercepat lahirnya talenta keamanan siber dengan menggandeng sejumlah mitra pendidikan dan teknologi di Rusia. Langkah ini menempatkan Fakultas Vokasi UB di tengah ekosistem kerja sama yang menghubungkan ruang kelas, industri, dan riset dalam satu arah pengembangan.

Fokus utamanya bukan sekadar menambah kerja sama luar negeri, tetapi membentuk model pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. UB menilai kebutuhan terhadap penjaga data di era digital terus membesar, sementara ancaman peretasan juga semakin kompleks.

Kurikulum diarahkan lebih dekat ke praktik

Di level fakultas, UB mulai menyiapkan pembaruan kurikulum agar pembelajaran tidak berhenti pada teori. Praktisi teknologi kelas dunia akan dilibatkan langsung di ruang kelas untuk memperkuat sisi praktik dan membuat mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan nyata.

Delegasi UB yang datang ke Rusia dipimpin oleh Dekan Fakultas Vokasi Mukhammad Kholid Mawardi Ph.D., Wakil Rektor V Prof. Dr. Unti Ludigdo, dan Dekan FH Dr. Aan Eko Widiarto. Mereka bertemu Alexander Udalov, Director of International Channels and Education Programs Positive Technologies, untuk mematangkan konsep pendidikan keamanan siber.

Dalam pertemuan itu, Kholid menyampaikan rencana mendatangkan profesor ahli dari Rusia ke Indonesia. Para pakar tersebut tidak hanya akan mengajar, tetapi juga mendampingi penyusunan roadmap kurikulum keamanan siber di lingkungan vokasi.

Model 3 in 1 jadi andalan

Setelah dari Positive Technologies, delegasi UB melanjutkan pertemuan ke RUDN University. Di sana, pembahasan diarahkan pada pematangan program kolaboratif 3 in 1 yang menjadi salah satu andalan Universitas Brawijaya.

Skema ini menggabungkan dosen internal, akademisi luar negeri, dan praktisi industri dalam satu proses pembelajaran. UB berharap mahasiswa tidak hanya mendapat dasar teori yang kuat, tetapi juga pengalaman memahami kasus serangan siber nyata dari para ahli.

Model tersebut dipandang sebagai cara untuk mengikis sekat akademik yang terlalu kaku. Pada saat yang sama, pendekatan ini ditujukan untuk memperkuat kesiapan lulusan agar lebih mudah masuk ke industri multinasional.

Ruang riset dan beasiswa ikut terbuka

Kerja sama UB dengan MIPT memberi ruang lebih luas bagi pertukaran dosen, kolaborasi peneliti, dan mobilitas mahasiswa. MIPT dipimpin Dmitry Livanov, mantan Menteri Pendidikan dan Teknologi Rusia, dan dikenal sebagai kampus elite di bidang sains dan teknologi.

Pihak MIPT juga menawarkan sejumlah skema beasiswa penuh bagi mahasiswa berprestasi asal Indonesia. Beasiswa itu terbuka untuk studi sarjana atau S1 maupun magister atau S2 di Rusia.

Bagi UB, peluang ini relevan untuk mahasiswa yang ingin mendalami enkripsi data dan pertahanan siber. Dengan akses ke lingkungan teknologi yang kuat, jalur tersebut dinilai dapat membantu menyiapkan tenaga ahli yang lebih kompetitif.

Dukungan diplomatik memperkuat langkah UB

Rangkaian agenda di Rusia juga membawa UB hadir di Kazan Forum. Di sana, delegasi bertemu Shevtson Pavel, Deputy Head of Rossotrudnichestvo Kementerian Luar Negeri Rusia, dan membahas penguatan kerja sama pendidikan lintas negara.

Pavel memberikan apresiasi kepada UB atas upaya membangun jembatan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Kementerian luar negeri Rusia memandang Indonesia sebagai mitra strategis di Asia, sehingga kesepahaman itu didorong agar segera diwujudkan menjadi program nyata.

Bagi UB, seluruh rangkaian pertemuan tersebut menandai upaya memperkuat posisi kampus sebagai institusi yang responsif terhadap tren teknologi global. Kerja sama ini sekaligus membuka jalan bagi mahasiswa dan peneliti untuk masuk ke ekosistem teknologi internasional melalui pendidikan, riset, dan pertukaran akademik.

Source: id.mashable.com
Exit mobile version