Video Pocong Dianggap Ganggu Kamtibmas, Polda Jabar Siapkan Proses Hukum untuk Pembuatnya

Konten video “teror pocong” yang ramai di media sosial kini mendapat sorotan serius dari Polda Jawa Barat. Kepolisian menilai tayangan seperti itu tidak lagi sekadar hiburan iseng, karena efeknya sudah memicu rasa takut dan keresahan di tengah masyarakat.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, mengatakan pendalaman tim siber menunjukkan banyak video yang beredar merupakan hasil manipulasi visual. Sebagiannya dibuat dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, sedangkan sebagian lain sengaja direkayasa secara manual oleh oknum warga untuk mengejar popularitas tayangan.

Menurut Hendra, pola semacam ini bukan hal baru karena sebelumnya pernah muncul konten serupa seperti prank di pos ronda. Namun kali ini dampaknya dinilai jauh lebih luas karena tidak berhenti di dunia maya dan ikut memengaruhi perilaku warga di lapangan.

Di sejumlah daerah, rasa takut yang muncul dari video semacam itu bahkan membuat warga berjaga berkelompok. Mereka disebut membawa senjata tajam dan pemukul saat melintasi kawasan yang dicitrakan angker dalam tayangan tersebut.

Polda Jawa Barat memandang kondisi itu sudah masuk ranah gangguan kamtibmas. Bagi kepolisian, persoalan ini tidak bisa dibiarkan karena keresahan yang tercipta telah merembet ke kehidupan nyata dan mengganggu ketertiban umum.

Karena itu, langkah pembinaan menjadi salah satu upaya yang disiapkan. Polisi ingin para pembuat konten berhenti memproduksi video yang berpotensi meresahkan masyarakat dan tidak lagi menjadikan ketakutan publik sebagai bahan sensasi.

Warga juga diminta tidak ikut menyebarkan konten yang bisa memicu kepanikan. Kepolisian menegaskan bahwa penyebaran hoaks visual hanya akan memperbesar dampak buruk yang sudah muncul di masyarakat.

Hendra menekankan, bila dalam penyebaran konten itu terdapat unsur pidana yang mengganggu kamtibmas, proses hukum akan ditempuh sesuai aturan yang berlaku. Peringatan tersebut menjadi sinyal bahwa konten viral yang dibungkus sebagai hiburan dapat berubah menjadi persoalan keamanan publik.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana manipulasi visual mampu memengaruhi respons warga secara langsung. Saat rasa takut sudah terbentuk, reaksi di lapangan bisa bergeser dari sekadar menonton menjadi berjaga-jaga, dan situasi itu justru membuat kondisi makin tidak tenang.

Source: www.harapanrakyat.com

Baca Juga

Back to top button