Tiga kematian di kapal pesiar MV Hondius membuat perhatian dunia tertuju pada dugaan wabah hantavirus yang muncul di ruang tertutup. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO kini ikut menangani penyelidikan untuk menelusuri sumber penularan dan memantau risiko kesehatan di atas kapal.
Situasi ini menjadi penting karena MV Hondius membawa penumpang dan kru dalam jumlah besar di lingkungan yang sangat terbatas. Kondisi seperti itu membuat pengendalian penyakit jauh lebih rumit, apalagi jika penyakit yang dicurigai tergolong langka namun bisa menimbulkan dampak berat.
Pemeriksaan WHO dan penanganan di kapal
WHO menyebut satu kasus telah terkonfirmasi melalui uji laboratorium, sementara lima kasus lain masih berstatus suspek. Lembaga itu masih menjalankan investigasi epidemiologis bersama pengujian lanjutan untuk memastikan sumber infeksi.
Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan melalui platform X bahwa WHO memfasilitasi evakuasi medis bagi penumpang yang bergejala. Ia juga menyebut pihaknya melakukan penilaian risiko kesehatan masyarakat secara menyeluruh dan membantu penanganan kapal yang kini bersandar di Praia, Tanjung Verde.
Selain itu, perawatan medis dan dukungan diberikan kepada penumpang serta kru yang terdampak. Respons cepat dinilai penting karena kapal pesiar menjadi ruang tertutup yang bisa mempersulit pengendalian penyakit.
Kronologi kasus di atas MV Hondius
Masalah kesehatan mulai terdeteksi ketika kapal berada di perairan Atlantik Selatan, saat sekitar 150 wisatawan dari berbagai negara masih berada di dalam kapal. MV Hondius sendiri merupakan kapal pesiar kutub sepanjang 107,6 meter dan mampu menampung 170 penumpang di 80 kabin.
Kapal milik Oceanwide Expeditions itu juga membawa 57 awak, 13 pemandu wisata, dan seorang dokter. Perjalanannya dimulai dari Ushuaia di Argentina selatan, lalu melintasi Antartika dan Kepulauan Falkland sebelum menuju Kepulauan Canary, Spanyol.
Korban pertama adalah pria berusia 70 tahun yang meninggal di atas kapal. Sebelum meninggal saat kapal singgah di Pulau St Helena, ia sempat mengalami demam, sakit kepala, sakit perut, dan diare.
Korban kedua adalah pasangan pria tersebut, seorang wanita berusia 69 tahun. Ia sempat dievakuasi ke Afrika Selatan, tetapi kemudian meninggal di rumah sakit di Johannesburg.
Korban ketiga merupakan warga negara Belanda yang hingga kini masih menjalani proses pemulangan jenazah. Satu tamu lain yang memiliki hubungan dekat dengan korban juga ikut dalam penanganan pemulangan tersebut.
Mengapa hantavirus jadi perhatian
Hantavirus berasal dari hewan pengerat dan dapat menular ke manusia melalui paparan tertentu. CDC menjelaskan penularan biasanya terjadi lewat urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi, terutama melalui partikel udara yang terhirup.
Ahli mikrobiologi Siouxsie Wiles menjelaskan gejala hantavirus bisa muncul satu hingga delapan minggu setelah paparan. Masa inkubasi yang panjang ini membuat pelacakan kasus menjadi lebih sulit karena tanda-tanda penyakit baru terlihat jauh setelah seseorang terpapar.
Gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi kelelahan ekstrem, demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, pusing, menggigil, mual, muntah, dan sakit perut. Jika tidak ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi hantavirus pulmonary syndrome atau HPS, yaitu kondisi serius saat paru-paru terisi cairan dan memicu sesak napas akut.
WHO juga menyebut penularan antarmanusia dapat terjadi pada strain tertentu, terutama di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Karena itu, kewaspadaan terhadap penumpang, kru, dan kontak dekat menjadi fokus utama dalam penanganan kasus ini.
Pelacakan kontak dan repatriasi
MV Hondius saat ini berlabuh di Praia, ibu kota Tanjung Verde, sementara perhatian diarahkan pada kru dan penumpang yang menunjukkan gejala. Oceanwide Expeditions menyatakan pihaknya memprioritaskan perawatan medis bagi orang-orang yang terdampak.
Laporan The Guardian menyebut otoritas setempat sempat menunda izin turun kapal bagi individu yang membutuhkan perawatan. Di sisi lain, pemerintah Belanda memimpin upaya repatriasi bagi warga negaranya, termasuk korban meninggal.
Institut Nasional untuk Penyakit Menular atau NICD Afrika Selatan juga melakukan pelacakan kontak di Johannesburg. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran lebih lanjut dan memastikan setiap orang yang berisiko bisa segera dipantau.
Source: www.beritasatu.com