Kekhawatiran terhadap penyakit menular kembali mendorong perhatian publik ke perlindungan kesehatan. Di saat risiko infeksi muncul dari berbagai arah, asuransi kesehatan dinilai semakin relevan bagi banyak orang.
Perubahan sikap itu juga tercermin dalam kinerja Prudential Syariah sepanjang 2025. Perusahaan mencatat pertumbuhan kontribusi bisnis baru sebesar 31% atau Rp1 triliun, jauh di atas pertumbuhan pasar yang disebut hanya 13%.
Presiden Direktur Prudential Syariah Iskandar Ezzahuddin menilai pengalaman pandemi Covid-19 masih membentuk perilaku masyarakat hingga sekarang. Menurut dia, kesadaran terhadap kebutuhan medis terus naik karena orang semakin merasakan pentingnya perlindungan yang jelas saat kondisi kesehatan berubah cepat.
Di sisi bisnis, tren ini dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan. Permintaan produk kesehatan meningkat, tetapi perusahaan tetap harus menyesuaikan inovasi dengan perkembangan risiko medis agar tetap relevan di tengah perubahan kebutuhan nasabah.
Sorotan terhadap hantavirus ikut memperkuat perhatian publik pada isu tersebut. Pemicunya datang setelah muncul laporan infeksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Kepulauan Canary dan melintasi sejumlah wilayah, termasuk Antartika, Kepulauan Falkland, Georgia Selatan, Pulau Nightingale, Tristan, St. Helena, Ascension, dan Cape Verde.
Di kapal yang membawa sekitar 150 penumpang itu, satu penumpang asal Belanda disebut terinfeksi hantavirus dan meninggal dunia pada 11 April 2026. Peristiwa itu membuat hantavirus kembali ramai dibicarakan di tengah masyarakat yang masih sensitif terhadap ancaman penyakit menular.
Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui penghirupan partikel udara dari kotoran hewan pengerat yang sudah mengering, sementara pada hewan pembawanya virus ini bisa hidup tanpa menimbulkan gejala.
Kewaspadaan di Indonesia
Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus Hanta Pulmonary Syndrome atau HPS yang terkait laporan pada MV Hondius. Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, menyampaikan bahwa temuan di Indonesia justru berasal dari tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS dengan strain Seoul Virus.
Andi mengatakan kasus yang terdeteksi terus dipantau melalui sistem surveilans nasional. Meski begitu, Kemenkes tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit virus Hanta.
Tekanan biaya kesehatan tidak ikut mereda
Di luar ancaman virus, tekanan lain juga datang dari kenaikan biaya layanan medis. Iskandar menyebut inflasi medis berlangsung signifikan seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan, sehingga pengelolaannya akan menjadi kunci agar industri tetap berkelanjutan.
Prudential Syariah mendukung langkah Otoritas Jasa Keuangan dalam menyiapkan perubahan arah pengembangan produk kesehatan untuk memperkuat industri asuransi nasional. Perusahaan juga menegaskan komitmennya untuk berkontribusi menjaga keberlanjutan industri lewat rangkaian produk asuransi syariah yang dinilai lengkap.
Dalam situasi ketika kekhawatiran terhadap virus masih tinggi dan biaya kesehatan terus naik, perlindungan medis makin masuk ke daftar prioritas banyak masyarakat. Tren itu membuat asuransi kesehatan tidak lagi dipandang sebagai pilihan tambahan, melainkan kebutuhan yang semakin serius.
Source: finansial.bisnis.com